Sabtu, 21 April 2012

kitb Alfiyah ibnu Malik










Alfiyah Dan Terjemahanya
أبْنِيَةُ المَصَادِرِ
BENTUK-BENTUK WAZAN MASHDAR
فَعْلٌ قِيَاسُ مَصْدَرِ المُعَدَّى ¤ مِنْ ذي ثَلاثَةٍ كَرَدَّ رَدَّا
Wazan FA’LUN adalah qias mashdar dari Fi’il Muta’addi tiga huruf, seperti “RODDA” bentuk mashdarnya adalah “RODDAN”
وَفَعِلَ اللازِمُ بَابُهُ فَعَلْ ¤ كَفَرَحٍ وَكَجَوىً وَكَشَلَلْ
Wazan fi’il FA’ILA (kasrah ‘ain fi’ilnya) yang Lazim, bab mashdarnya berwazan FA’ALUN, seperti “FAROHUN”, “JAWAN”, dan “SYALALUN”.
وَفَعَلَ اللازمُ مِثْلَ قَعَدَا ¤ لَهُ فُعُولٌ بِاطِّرادٍ كَغَدَا
Wazan fi’il FA’ALA (fathah ain fi’ilnya) yang Lazim semisal QO’ADA, mashdarnya berwazan FU’UULUN secara permanen, seperti “GHODAA” (mashdarnya adalah “GHUDUWWUN”. 
مَا لَمْ يَكُنْ مُسْتَوْجِباً فِعَالا ¤ أوْ فَعَلَاناً فَادْرِ أوْ فُعَالا
(demikian itu permanen berwazan Fu’uulun) selama tidak mewajibkan terhadap wazan FI’AALUN, FA’ALAANUN atau FU’AALUN, maka dari itu ketahuilah!. 
فَأوَّلٌ لِذِيْ امْتِنَاعٍ كَأبَى ¤ وَالثَّانِ لِلَّذِيْ اقْتَضَى تَقَلُّبَا
Wazan yang pertama (FI’AALUN) bagi mashdar yang menunjukkan makna menolak, Seperti contoh: “ABAA” (mashdarnya IBAA’UN). Dan wazan yang kedua (FA’ALAANUN) untuk mashdar yang menunjukkan makna Taqollub/gerakan berubah-rubah/berguncang (seperti contoh: THOWAFAANAN). 
لِلدَّا فُعَالٌ أوْ لِصَوْتٍ وَشَمَلْ ¤ سَيْراً وَصَوْتاً الْفَعِيلُ كَصَهَلْ
Wazan FU’AALUN untuk mashdar yg menunjukkan makna penyakit dan makna suara. Dan Wazan FA’IILUN untuk mashdar yang mencakup makna perjalanan juga makna suara,  seperti contoh: SHOHIILUN = meringkik 
فُعُولَةٌ فَعَالَةٌ لِفَعُلَا ¤ كَسَهُلَ الأَمْرُ وَزَيْدٌ جَزُلا
Wazan mashdar FU’UULATUN dan FA’AALATUN untuk Fi’il Tsulatsi wazan FA’ULA (dhommah ‘ain fi’ilnya) contoh: SAHULAL-AMRU dan ZAIDUN JAZULA (mashdarnya adalah: SUHUULATUN dan JAZAALATUN. 
وَمَا أتَى مُخَالِفاً لِمَا مَضَى ¤ فَبَابُهُ النَّقْلُ كَسُخْطٍ وَرِضَا
Suatu mashdar yang datang dengan wazan berbeda dari apa yang telah disebut diatas, maka bab mashdarnya adalah Nuqil/Sama’i. seperti contoh: SHUKHTUN dan RIDHAN. 
–••Ο••–
Telah disebutkan bahwa Mashdar adalah Isim yang menunjukkan Hadts (kejadian) yang terpisah dari penunjukan Zaman (waktu). Mashdar tsb baik berupa Mashdar dari Fi’il tiga huruf (tsulatsi mujarrad) atau dari Fi’il lebih tiga huruf (tsulatsi mazid atau ruba’i mujarrad dan mazid).
Mashdar dari fi’il tiga huruf sangat banyak macamnya. tidak dapat dipastikan kecuali sama’i atau merujuk pada mu’jam bahasa arab atau kamus. Adapun penjelasan dari Ulama Nahwu mengenai wazan mashdar tsulatsi ini, mengacu pada kaidah kebiasaan yang umum dipergunakan, kaidah ini dapat dipergunakan pada lafazh-lafazh masdar yang belum dipergunakan atau belum didengar (sama’i) dari kalam arab. sekalipun orang dapat mempergunakan kaidah dari Ulama Nahwu ini, namun tidak menafikan untuk melihat dulu dalam kitab mu’jam atau kamus sebelum menetapkan kebenaran bentuk mashdar tsulatsi tersebut.
Bentuk Fi’il dari Tsulatsi sudah pasti jika huruf yang pertama berharkat Fathah, adapun huruf yang kedua terkadang berharkat Fathah, atau Dhommah, atau Kasrah. dengan demikian wazan Fi’il Tsulatsi tersebut ada tiga (FA’ALA, FA’ILA, FA’ULA), sedangkan wazan Mashdarnya sebagai berikut:
1. Fi’il wazan FA’ALA (Fathah ‘Ain Fi’il) :
A. MUTA’ADDI
Mashdarnya berwazan FA’LUN :
أكل أكلاً, فتح فتحاً, أخذ أخذاً
AKALA – AKLAN = Makan
FATAHA – FATHAN = Membuka
AKHODZA – AKHDZAN = Mengambil
B. LAZIM
Mashdarnya berwazan FU’UULUN, apabila Fi’il Shohih :
قعد قعوداً, جلس جلوساً, سجد سجوداً
QO’ADA – QU’UUDAN = Duduk
JALASA – JULUUSAN = Duduk
SAJADA – SUJUUDAN = Sujud
Mashdarnya berwazan FA’LUN atau FI’AALUN, apabila Fi’il Mu’tal ‘Ain :
نام نوماً, صام صوماً
NAAMA – NAUMAN = Tidur
SHOOMA – SHOUMAN = Puasa
قام قياماً, صام صياماً
QOOMA – QIYAAMAN = Berdiri
SHOOMA – SHIYAAMAN = Puasa
Mashdarnya berwazan FI’AALUN, apabila menunjukkan arti menolak :
أبى إباءً, نفر نفاراً، وشرد شراداً
ABAA – IBAA’AN = Menolak
NAFARO – NIFAARON = Kabur/Melarikan diri
SYARODA – SYIROODAN = Kabur/Melarikan diri
Mashdarnya berwazan FI’AALUN, apabila menunjukkan arti Taqollub/gerakan berubah-rubah atau berguncang :
طاف طوفاناً. وخفق خفقاناً. غلى غلياناً
THOOFA – THOWAFAANAN = Towaf/berkeliling
KHOFAQO – KHOFAQOONAN = Menggelepar/berdebar
GHOLAA – GHOLAYAANAN = Menggelegak/mendidih/bergolak
Mashdarnya berwazan FU’AALUN, apabila menunjukkan arti sakit/penyakit :
سَعَل سُعالاً. رَعَفَ رُعافاً
SA’ALA – SU’AALAN = Batuk
RO’AFA – RUFAA’AN = Mimisan
Mashdarnya berwazan FU’AALUN atau FA’IILUN apabila menunjukkan arti suara :
صرخ صراخاً. بكى بكاءً. نعب نعيباً ونُعاباً
SHOROHA – SHUROOHAN = Berteriak
BAKAA – BUKAA’AN = Menangis
NA’ABA – NA’IIBAN/NU’AABAN = Menggaok (Burung gagak)
Mashdarnya berwazan FA’IILUN apabila menunjukkan arti perjalanan :
رحل رحيلاً. ذَمل ذميلاً
ROHALA – ROHIILAN = Berangkat/pindah
DHAMALA – DZAMIILAN = Berjalan pelan-pelan.
2. Fi’il wazan FA’ILA (Kasroh ‘Ain Fi’il) :
A. MUTA’ADDI
Mashdarnya berwazan FA’LUN :
فهم فهماً. حمد حمداً
FAHIMA – FAHMAN = Memahami
HAMIDA – HAMDAN = Memuji
Mashdarnya berwazan FI’AALATUN jika menunjukkan pembuatan :
صاغ صياغة, خاط خياطة
SHOOGHO – SHIYAAGHOTAN = membentuk
KHOOTHO – KHIYAATHOTAN = menjahit
B. LAZIM
Mashdarnya berwazan FA’ALUN :
فرح فرحاً, أشر أشراً, جَوِيَ جوىً
FARIHA – FAROHAN = gembira
ASYIRO – ASYARON = pongah/sombong
JAWIYA – JAWAN = berduka
Mashdarnya berwazan FU’LATUN jika menunjukkan arti warna :
سَمِر سُمْرة, خَضِر خُضْرة, شَهِب شُهْبَة
SAMIRO – SUMROTUN = coklat
KHODIRO – KHUDHROTUN = hijau
SYAHIBA – SHUBHATUN = kelabu
3. Fi’il wazan FA’ULA (Dhommah ‘Ain Fi’il) :
HANYA FI’IL LAZIM
Mashdarnya berwazan FU’UULATUN atau FA’AALATUN :
صَعُب صعوبة. سهل سهولة
SHO’UBA – SHU’UUBATAN = Sukar
SAHULA – SUHUULATAN = Mudah
فَصُح فَصاحة. وبَلُغَ بلاغة
FASHUHA – FASHOOHATAN = Fasih
BALUGHO – BALAAGHOTAN = Sampai
Wazan-wazan Mashdar Tsulatsi yang berbeda dengan qias wazan yang telah disebut diatas, maka dikembalikan secara Sama’i tanpa qias.
contoh:
سَخِط سُخْطاً
SAKHITHO – SHUKHTHON = marah
menurut qias adalah SHAKHOTHON = marah
جحد جحوداً
JAHADA – JUHUUDAN = ingkar
menurut qias adalah JAHDAN
أَفْعَلُ التَّفْضِيلِ
BAB AF’ALU AT-TAFDHIL
صُغْ مِنْ مَصُوغ مِنْهُ للتَّعَجُّبِ  ¤ أَفْعَلَ للتَّفْضِيلِ وَأْبَ اللَّذْ أبِي
Bentuklah lafazh yang boleh dibentuk Fi’il Ta’ajjub kepada bentuk Isim Tafdhil “AF’ALA”. dan tinggalkan lafazh yang tidak diperbolehkan.
ومَا بِهِ إلى تَعَجُّبٍ وُصِل  ¤ لِمَانِع بِهِ إلى التَّفْضِيلِ صِل
Suatu yang disambung sebagai perantara pembentukan ta’ajjub karena ada hal yang tidak memperbolehkannya, maka sambungkan juga kepada pembentukan Isim Tafdhil (dengan alasan yang sama)
–••Ο••–
Wazan Af’alut-Tafdhil “AF’ALA” adalah kalimah Isim karena bisa dimasuki oleh tanda-tanda kalimah Isim. Termasuk Isim yang tidak Munsharif karena menetapi dua illah: Washfiyah dan Wazan Fi’il. Isim Tafdhil tersebut tidak akan munsharif kecuali Hamzahnya dibuang dalam banyak penggunaannya yaitu lafazh “KHAIRUN” dan “SYARRUN”. Terkadang ada juga kalimah lain dari Isim Tafdhil yang berlaku pembuangan Hamzah seperti keduanya, yaitu lafazh “AHABBU” menjadi “HABBUN” seperti dalam syahid syair bahar basith berikut:
وزادني كلفا بالحب أن منعت # وحب شيء إلى الإنسان ما منعا
WA ZAADANIY KALAFAN BIL-HUBBI AN MANA’AT # WA HABBU SYAI’IN ILAL-INSAANI MAA MUNI’AA
Penolakanmu menambah cintaku semakin menyala-nyala # suatu yang lebih dicintai oleh manusia adalah suatu yang ditolak.
Terkadang juga lafazh “KHAIRUN” dan “SYARRUN” dipergunakan bentuk aslinya yaitu “AKHYARU” dan “ASYARRU”.
Contoh sebagian Qiro’ah membaca Ayat berikut :
مَنِ الْكَذَّابُ الْأَشَرُّ
MANIL-KADZDZAABUL-ASYARRU = siapakah yang sebenarnya amat pendusta lagi lebih buruk. (QS. Al-Qamar:26)
dan contoh syahid syair dalam penggalan syair bahar Rojaz berikut:
بلال خيرُ الناسِ وابن الأخير
BILAALU KHAIRUN-NAASI WABNUL-AKHYARI = Bilal manusia terbaik dan putra orang terbaik.
Af’al At-Tafdhil yaitu Isim Musytaq yang berwazan AF’ALA. Termasuk bagian dari Isim yang beramal seperti pengamalan Fi’ilnya. Umumnya menunjukkan kepada dua hal yang mempunyai hubungan sifat yang mana salah satunya diunggulkan dari yang lainnya.
Contoh:
العلم أفضل من المال
AL-’ILMU AFDHALU MINAL-MAALI = Ilmu lebih utama dari harta.
•    Lafazh AL-’ILMU = yang diunggulkan disebut AL-MUFADHDHAL
•    Lafazh AL-MAALI = yang tidak diunggulkan disebut AL-MUFADHDHAL ‘ALAIH atau disebut AL-MAFDHUL.
•    Lafazh AFDHALU = Wazan AF’ALA yang menunjukkan Tafdhil atau Isim Tafdhil, biasanya diperuntukkan untuk sifat Tafdhil yang keberadaannya selalu tetap dan eksis yakni tidak sekali-kali.
Af’al At-Tafdhil musytaq dari asal Mashdar Fi’il, dibuat dengan bentuk wazan AF’ALA untuk menghasilkan makna tafdhil/melebihkan. Disyaratkan lafazh yang boleh dibuat Isim Tafdhil disini adalah berasal dari Fi’il-Fi’il yang secara langsung boleh dibentuk Fi’il Ta’ajjub, yakni Fiil-Fi’il yang mencukupi syarat dibuat Ta’ajjub yang telah diterangkan pada Bab Ta’ajjub, yaitu:
1. Tsulatsi
2. Mutasharrif
3. Dapat menerima hal perlebihan
4. Tamm
5. Mutsbat
6. Tidak punya bentuk Sifat dengan wazan AF’ALA
7. Mabni Ma’lum
Sebagaimana Fi’il yang tidak boleh dijadikan shighat Fi’il Ta’ajjub karena tidak mencukupi syarat, maka tidak boleh juga untuk dijadikan shighat Isim Tafdhil. Dan Fi’il yang tidak mencukupi syarat tersebut boleh dijadikan sebagai penunjukan Tafdhil dengan sebab persambungan lafazh perantara yaitu lafazh ASYADDU, contoh:
بَحْثُ خالد أشدُّ اختصاراً من بحث محمد
BAHTSU KHAALIDIN ASYADDU IKHTISHAARAN MIN BAHTSI MUHAMMADIN = Pembahasan Khalid lebih ringkas dari pembahasan Muhammad.
Lafazh IKHTISHAARAN = Isim Manshub dii’rob sebagai Tamyiz jatuh sesudah lafazh perantara untuk makna ta’ajjub yaitu lafazh ASYADDU.
–••Ο••–
الاختصاصُ
BAB IKHTISHASH
الاخـــتـــصـــاصُ كــــنـــــداءٍ دُونَ يـــــــــا  ¤ كَــأَيُّــهـــا الــفــتـــى بـــإِثْــــرِ ارْجُــونِـــيَـــا
Ikhtishash itu seperti Nida’ tanpa “Yaa” (tanpa huruf nida’), contoh “Ayyuhal-Fataa” setelah bekas lafazh “Urjuuniy” (Urjuuniy ayyuhal-Fataa = mengharaplah kalian kepadaku seorang pemuda).
وقــــــــدْ يُــــــــرَى ذا دُونَ أيٍّ تِــــلْــــوَ أَلْ  ¤ كمِـثـلِ نـحـنُ الـعُـرْبَ أَسْـخَــى مَـــنْ بَـــذَلْ
Terkadang dipertimbangkan untuk Isim Mukhtash yg selain “Ayyun” dengan menyandang “AL”, contoh “Nahnul-’Aroba askhaa man badzala” (Kami -orang-orang Arab- adalah paling murahnya orang yg dermawan).
–••Ο••–
Pengertian Ikhtishash secara bahasa adalah Isim Mashdar dari Fi’il Madhi “Ikhtashshah” (mengkhususkan), sebagaimana contoh:
اختص فلان فلاناً بأمر
IKHTASHSHA FULAANUN FULAANAN BI AMRIN = Fulan menghususi Fulan dengan sesuatu perkara
Yakni meringkas si Fulan pada penetapan suatu perkara
Pengertian Ikhtishosh menurut istilah Nahwu adalah : mengkhususkan/meringkaskan hukum pada Dhamir selain ghaib dan sesudahnya ada Isim Zhahir Ma’rifat yg menjadi makna dari Isim Dhamir tersebut.
Contoh:
نحن المسلمين خير أمة أخرجت للناس
NAHNU AL-MUSLIMIINA KHAIRU UMMATIN UKHRIJAT LINNAASI = Kami -orang-orang Muslim- adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia.
أنا طالب العلم لا تفتر رغبتي
ANA THAALIBUL-’ILMI LAA TAFTURU RUGHBATIY = Saya -penuntut ilmu- takkan reda semangatku.
نحن الموقعين على هذا نشهد بكذا وكذا
NAHNU AL-MUWAQQI’IINA ‘ALAA HAADZAA NASYTAHIDU BI KADZAA WA KADZAA = Kami -yang bertandatangan dibawah ini- bersaksi demikian dan seterusnya…
Penjelasan Definisi :
•    Menghususkan hukum pada dhamir = Meringkas pengertian dhamir atas suatu hukum.
•    Dhamir selain ghaib = Umumnya Dhamir Mutakallim, atau dhamir Mukhatab tapi jarang seperti contoh:
أنت الخطيبَ أفصح الناس قولاً
ANTA AL-KHOTIIBA AFSHAHUN-NAASI QOULAN = Kamu -penceramah- paling fasihnya orang dalam berkata.
•    Sesudahnya ada Isim Zhahir Ma’rifat = Yakni ma’rifat sebab idhofah atau menyandang “AL” seperti pada contoh-contoh diatas.
Tujuan dari pada penyebutan Isim Zhahir adalah untuk mengkhususi Isim Dahmir, menjelaskan serta menghilangkan kesamaran. Dan dinamakan pula Isim Zhahir Manshub ‘Alal Ikhtishosh yakni dinashobkan oleh Fi’il yg wajib terbuang misalnya takdir fi’il : AKHUSHSHU (aku menghususkan) dan semisalnya.
Contoh dalam Hadits, Nabi saw bersabda :
إنا معشر الأنبياء لا نورث
INNAA MA’SYAROL ANBIYAA’I LAA NUUROTSU = Kami -kelompok para Nabi- tidak mewariskan.
إنا آلَ محمد لا تحل لنا الصدقة
INNAA AALA MUHAMMADIN LAA TAHILLU LANAA ASH-SHADAQATU = Kami -keluarga Muhammad- tidak halal bagi kami menerima sedekah.
Contoh I’robnya :
MA’SYAROL ANBIYAA’I = Dinashabkan atas Ikhtishash oleh Fi’il yg wajib dibuang, sebagai Jumlah Mu’taridhah antara Isim INNA dan Khabarnya, atau sebagai HAAL dari dhamir NAA.
Terkadang Ikhtishosh tersebut dengan menggunakan lafazh “AYYUN” (Mudzakkar) dan “AYYATUN” (Muannats) yg wajib mabni dhommah dalam mahal nashab, dan disambung dengan “HAA” (huruf Tanbih) menjadi “AYYUHAA” dan “AYYATUHAA”. Kedua lafazh Ikhtishosh ini tetap dalam bentuknya baik untuk mufrod, mutsanna dan jamak. Ditetapkan pula setelah keduanya ada Isim yg dirofa’kan sebagai NA’ATnya.
Contoh :
إني – أيها المسلم – نظيف اليد واللسان
INNIY AYYUHAL-MUSLIMU NAZHIIFUL-YADDI WAL-LISAANI = sesungguhnya saya -sebagai seorang muslim- harus bersih tangan dan ucapan.
إنني – أيتها المسلمة – أُحسنُ الححاب
INNANIY AYYATUHAL-MUSLIMATI UHSINUL-HIJAABI – sesungguhnya saya -sebagai seorang muslimah- harus memperbagus Hijab (penutupan aurat).
Sebagaimana disebutkan bahwa tujuan asal Ikhtishash adalah sebagai Takhshish (penghususan) atau Qashr (ringkasan) yg terkadang berfungsi Fakhr (kebanggaan) sebagimana dua contoh diatas. Dan terkadang berfungsi Tawadhu’ (kerandahan diri) seperti contoh:
أنا أيها العبد محتاج إلى عفو الله
ANA AYYUHAL-’ABDU MUHTAAJUN ILAA ‘AFWILLAAHI = Saya-sebagai seorang hamba- sangat butuh akan Pengampunan Allah.
Dengan demikian penggunaan Ikhatishash itu ada dua :
1. Menggunakan “AYYUHAA” atau “AYYATUHAA”
2. Menggunakan Isim yg menyandang “AL” atau “Mudhaf”.
Disebutkan dalam Bait diatas bahwa Ikhtishosh serupa dengan Nida’ dalam keumuman penampakannya, yakni sama-sama menyertakan Isim yg kadang dimabnikan dhammah dan kadang dinashabkan, juga sama berfaidah Ikhtishosh, dan masing-masing digunakan untuk orang kedua (hadir) tidak untuk orang ketiga (ghaib).
Perbedaannya adalah Ikhtishash untuk Mutakallim juga Mukhatab, sedangkan Nida’ husus Mukhatab saja. Ikhtishash tidak menggunakan huruf Nida’ baik secara lafazh dan taqdir. Ikhtishosh tidak bisa dijadikan shodar kalam (awalan kalimat) sedangkan Nida’ bisa. Ikhtishash banyak menggunakan “AL” pada isim mukhtashnya sedangkan Nida’ tidak boleh menggunakan “AL” pada Munadanya kecuali dalam pengecualian sebagaimana telah disebut pada bab Nida’
أسْمَاءُ الأْفْعَالِ والأصْوَاتِ
Isim Fi’il dan Isim Shaut
مـــا نـــابَ عـــنْ فِـعــلٍ كَـشَـتَّــانِ وصَــــهْ  ¤ هُــــوَ اســـــمُ فِــعـــلٍ وكـــــذا أَوَّهْ وَمَـــــهْ
Kalimah yg menggantikan Fi’il seperti contoh “Syattana” dan “Shah” dinamakan Isim Fi’il, demikian juga seperti contoh “Awwaah” dan “Mah”.
ومــــا بـمـعـنــى افْــعَـــلْ كـآمِــيــنَ كَــثُـــرْ  ¤ وغـــيـــرُهُ كَـــــــوَيْ وهَــيــهـــاتَ نَـــــــزُرْ
Isim Fi’il yg punya makna IF’AL (makna amar/isim fi’il amar) banyak ditemukan, seperti “Aamiin”. Dan selain makna Amar jarang ditemukan, seperti WAY (isim fi’il mudhari’) dan HAIHAATA (isim fi’il madhi).
–••Ο••–
Pengertian Isim Fi’il adalah : Kalimah yg menggantikan Fi’il dalam maknanya dan pengamalannya beserta tidak dapat dibekasi oleh Amil-amil.
Contoh:
صَهْ إذا تكلم غيرك
SHOH IDZA TAKALLAMA GHAIRUKA = Diamlah jika selainmu berbicara.
SHOH = Isim Fi’il yg mengandung makna Fi’il Amar “USKUT” (diamlah!) dan beramal seperti pengamalannya. Faa’ilnya berupa Dhamir Mustatir Wujuban, takdirannya “ANTA”.
Tidak bisa dibekasi Amil-amil, karenanya tidak dapat dijadikan Mubtada’, Khabar, Faa’il dll. Berbeda dengan Mashdar yg juga menggantikan Fi’il dalam makna dan pengamalannya seperti contoh:
إكراماً المسكين
IKROOMAN AL-MISKIINA = Hormatilah orang miskin!
Lafazh IKROOMAN = menggantikan Fi’il Amar AKRIM (Hormatilah!)
akan tetapi pada Mashdar tersebut masih bisa dibekasi oleh Amil, contoh bisa dijadikan Faa’il:
سرني إكرامُك المسكين
SARRONIY IKROOMUKA AL-MISKIINA = penghormatanmu pada orang miskin menggembirakanku.
Contoh dijadikan Mubtada’:
إكرامُك المسكين تثاب عليه
IKROOMUKA AL-MISKIINA TUTSAABU ‘ALAIHI = penghormatanmu pada orang miskin, kau akan mendapat pahala karenanya.
oOo
Isim Fi’il menurut pertimbangan zamannya ada tiga bagian :
1. Isim Fi’il Amar (lebih banyak digunakan)
contoh :
عليك نفسَك فهذبها
‘ALAIKA NAFSAKA FA HADZDZIBHAA = tanamkan dan perbaiki budi-pekertimu.
lafazh ALAIKA = Isim Fi’il Amar bimakna ILZAM (tetapkan!) mabni Fathah, dan faa’ilnya berupa dhamir mustatir wujuuban takdirannya ANTA (kamu).
lafazh NAFSAKA = Maf’ul Bih dari Isim Fi’il, dinashabkan dengan fathah zahir. KAF = Mudhaf Ilaih.
Diantara Isim Fi’il Amar ini ada yg qiasi, berwazan FA’AALI yg mabni kasrah dan dari Fi’il Tsulatsi Tamm Mutashorrif, contoh :
سماعِ النصح
SAMAA’IN-NUSHHI..! = dengarkanlah nasehat itu!
2. Isim Fi’il Madhi (sedikit penggunaannya dan sima’i)
contoh :
شتان الشجاعةُ والجبن
SYATTAANASY-SYAJAA’ATU WAL-JUBNU = berbeda berani dan pengecut.
lafazh SYATTAANA = Isim Fi’il madhi bimakna IFTAROQO (berlainan), mabni Fathah.
3. Isim Fi’il Mudhari’ (juga sedikit penggunaannya dan sima’i)
contoh:
وَيْ لشباب لا يعمل
WAY LI SYABAABIN YAA YA’MALU = Heran! terhadap pemuda yg tak mau bertindak.
lafazh WAY = Isim Fi’il Mudhari’ bimakna A’JABU (saya heran), mabni sukun, faa’ilnya dhamir wajib mustatir takdirnya ANA (saya).
contoh FirmanNya dalam Al-Qur’an
وَيْكَأَنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ
WAY KA’ANNAHUU LAA YUFLIKUL-KAAFIRUUNA = Aduhai benarlah, tidak beruntung orang- orang yang mengingkari (nikmat Allah) (QS. Al-Qashash: 82).
التَّحْذِيرُ وَالإغْرَاءُ
TAHDZIR DAN IGHRO’
إيَّـــــــاكَ والـــشــــرَّ ونـــحــــوَهُ نَـــصَــــبْ  ¤ مُـــحَــــذِّرٌ بـــمــــا اسْــتِـــتَـــارُهُ وَجَــــــــبْ
Terhadap contoh Tahdzir “IYYAAKA WASY-SYARRA” (hati-hatilah terhadap hal yg tidak baik!) dan serupanya, Muhadzdzir (orang yg memberi peringatan) menashobkannya dengan Fi’il yg wajib disimpan.
ودُونَ عَـــطْــــفٍ ذا لإِيَّــــــــا انْــسُــبْــوَمَــا  ¤ سِـــــواهُ سَــتْـــرُ فِـعْــلِــهِ لــــــنْ يَــلْــزَمَــا
Nisbatkanlah (yakni serupakan pada hukum wajib menyimpan Fi’il) terhadap Tahdzir dengan “IYYAA” yg tanpa athaf. Sedangkan Tahdzir tanpa “IYYAA” tidak wajib menyimpan Fi’ilnya.. <ke bait lanjutnya>
إلَّا مَـــــــــعَ الـــعـــطـــفِ أو الـــتَّـــكـــرارِ  ¤ كالـصَّـيْـغَـمَ الـضَّـيْـغَــمَ يـــــا ذا الــسَّـــارِي
Kecuali yg menyertai Athaf atau mengulang-ulang (maka wajib juga menyimpan Fi’ilnya) seperti contoh “ADHDHAIGHAM-ADHDHAIGHAM YAA DZAS-SAARIY” (awas Singa… awas Singa… wahai orang yg berjalan malam).
–••Ο••–
Pengertian Tahdzir adalah : memperingati mukhatab akan suatu yg tidak disenangi agar dihindari, contoh:
إياك والغيبةَ
IYYAAKA WAL-GHIIBATA = awas ghibah! (menggunjingkan orang lain)
Tahdzir ada dua macam :
1. Menggunakan IYYAAKA dan kawan-kawannya (IYYAAKI-IYYAAKUMAA-IYYAAKUM-IYYAAKUNNA)
2. Tanpa menggunakan IYYAAKA dkk.
Apabila Tahdzir menggunakan IYYAAKA dkk, maka wajib membuang/menyimpan Amil yg menashabkan secara mutlaq (baik menyertai Athaf atau tidak, baik amilnya diulang-ulang atau tidak)
Contoh Tahdzir dengan IYYAAKA yg menyertai Athaf :
إياك والتهاونَ بالصلاة
IYYAAKA WAT-TAHAAWUNA BISH-SHOLAATI = awas jangan mengabaikan sholat!
I’robnya :
IYYAAKA = Dhamir Munfashil mabni Fathah dalam posisi Nashob sebagai Maf’ul Bih dari Fi’il yg wajib dibuang, takdirannya IYYAAKA UHADZDZIRU (kepadamu aku memberi peringatan) asalnya UHADZDZIRUKA (aku memperingatkanmu) Dhamir Muttashil “KAF” yg menjadi Maf’ul Bih dirubah menjadi Dhamir Munfashil dan dikedepankan untuk faidah Hashr (membatasi) kemudian Fi’il berikut Faa’ilnya dibuang. Demikianlah peraturan yg berlaku bagi kalam Arab fashih dengan membuang Amil secara wajib.
WAT-TAHAAWUNA = Wawu huruf Athaf (ada yg menyebut Wawu Ma’iyah pada sebagian tempat). Tahaawuna menjadi Maf’ul Bih dari Fi’il yg wajib dibuang, takdirannya IHDZAR! (awas/waspadalah/hati-hati) jumlah Ma’thuf ini athaf pada jumlah sebelumnya laa mahalla minal-iraab.
Contoh dalam hadits Nabi saw bersabda :
إياك وإسبال الإزار
IYYAAKA WA ISBAALAL-IZAARI = awas hindari memanjangkan sarung/jubah
إياك إياكم والدخول على النساء
IYYAAKUM WAD-DUKHUULA ‘ALAN-NISAA’I = awas hindari mesuki ruang wanita.
I’robnya :
IYYAAKUM = Dhamir Munfashil mabni dhammah mahal Nashab menjadi Maf’ul BIh dari Fi’il yg wajib dibuang. huruf MIN tanda jamak.
Contoh Tahdzir dengan IYYAAKA yg tanpa Athaf :
إياك أن تتهاون بالصلاة
IYYAAKA AN TATAHAAWANA BISH-SHOLAATI = awas hindarilah meremehkan shalat!
I’rabnya:
IYYAAKA = sebagaimana contoh diatas
AN TATAHAAWANA = ditakwil mashdar majrur oleh huruf jar MIN muqaddar, jar-majrur berta’alluq pada Fi’il yg wajib dibuang takdirannya “IHDZAR” (awas/hati-hati/waspadalah).
Adapun penggunaan Tahdzir tanpa IYYAAKA dkk. maka tidak wajib menyimpan Fi’il/Amil nashab, kecuali menyertai Athaf atau Tikrar (pengulangan).
Contoh yg menyertai Athaf :
الكذبَ والخداعَ
AL-KIDZBA WAL KHIDAA’A = awas pembohongan dan penipuan!
I’robnya :
AL-KIDZBA = Maf’ul Bih dari Fi’il yg wajib dibuang takdirannya “IHDZAR!” (awas/hati2/waspada/hindari)
AL-KHIDAA’A = Ma’thuf Alaih.
Contoh yg tikrar (diulang-ulang) :
النميمةَ النميمةَ
AN-NAMIIMATA – AN-NAMIIMATA = awas provokasi/penghasutan
Irobnya :
AN-NAMIIMATA (1) = Maf’ul Bih dari Fi’il yg wajib dibuang takdirannya “IHDZAR!”
AN-NAMIIMATA (2) = Taukid Lafzhiy.
Dan apabila tidak ada Athaf atau tidak diulang-ulang, maka hukumnya boleh menyimpan Fi’il atau menampakkannya, contoh:
الرياء
AR-RIYAA’A = awas Riya’
Takdirannya IHDZAR AR-RIYAA’A.
التمييز
AT-TAMYIZ
اِسمٌ بِمَعْنَى مِنْ مُبِينٌ نَكِرَهْ ¤ يُنْصَبُ تَمْيِيزاً بِمَا قَدْ فَسَّرَهْ
Adalah isim yang menunjukkan makna Min, yang jelas serta Nakirah, dinashobkan sebagai Tamyiz oleh lafaz yg ditafsirinya.
كَشِبْرٍ أرْضًّا وَقَفِيزٍ بُرًّا ¤ وَمَنَوَيْنِ عَسَلاً وَتَمْرًا
Seperti “SYIBRIN ARDHON” = Sejengkal tanah (Tamyiz dari ukuran jarak), “QOFIIZIN BURRON” = Sekofiz gandum (Tamyis dari ukuran takaran), “MANAWAINI ‘ASALAN WA TAMRON” = Dua Manan madu dan kurma (Tamyiz dari ukuran berat).
–••Ο••–
Pengertian Tamyiz adalah: Isim Nakiroh yg menunjukkan makna Min, sebagai penjelasan lafazh samar sebelumnya. contoh:
اشتريت رطلاً عسلاً
ISYTAROITU RITHLAN ‘ASALAN* = aku membeli satu Ritl madu.
* lafazh “‘ASALAN” adalah Tamyiz, karena berupa Isim dengan dalil tanwin, dan Nakiroh yg mengandung makna MIN lil bayan, yakni takdirannya “MINAL-’ASALI” berfungsi untuk menjelaskan kalimah sebelumnya yg samar. karena perkataan ISYTAROITU RITHLAN masih mengundang kesamaran, pendengar tidak akan faham apa yg dikehendaki dengan RITHLAN, apakah madu ataukah kurma atau beras?. oleh karena itu perkataan Rithl sepantasnya diberi penjelasan atau Tamyiz oleh lafazh-lafazh lain yg dimaksud, sebagaimana contoh ‘ASALAN maka hilanglah kesamaran dan dapat difahami serta jelas apa yg dimaksud.
Keluar dari defini Tamyiz Nakirah, yaitu berlafazh Ma’rifah. contoh :
هذا الرجل طاهرٌ قلبَه
HAADZA AR-ROJULU THOOHIRUN QOLBA HU*
*Menashobkan lafazh QOLBA HU, sekalipun sebagai penjelasan bagi lafazh samar sebelumnya, tapi ini tidak dinamakan Tamyiz karena berupa Isim Ma’rifah, dinashobkan oleh sifat Musyabbahah sebagai Maf’ul Bih (Insya Allah akan dijelaskan nanti secara khusus pada Bab Sifat Musyabbahah).
Keluar dari definisi Tamyis yg punya makna MIN, yaitu HAAL yg punya makna FI.
Keluar dari defini Tamyiz menjelaskan lafazh samar sebelumnya, yaitu Isimnya LAA Nafi Jinsi. contoh:
لا رجل في المسجد
LAA ROJULA FIL-MASJIDI*
*lafazh ROJULA sekalipun mengandung makna MIN yakni MIN ROJULIN, tapi fungsinya bukan untuk menjelaskan, namun sebagai Min Lil Istighroq.
Tamyiz ada dua:
1.    Tamyiz Mufrod atau disebut Tamyiz Dzat
2.     Tamyiz Jumlah atau disebut Tamyiz Nisbat
1. TAMYIZ MUFROD ATAU TAMYIZ DZAT:
Digunakan sebagai Tamyiz bagi lafazh-lafazh yg menunjukkan :
1. Adad/bilangan.
2. Ukuran Jarak
3. Ukuran Takaran
4. Ukuran Berat
Contoh Tamyiz Dzat atau Tamyiz Mufrad untuk lafazh Adad/bilangan:
اشتريت ستة عشر كتاباً
ISYTAROITU SITTATA ‘ASYARO KITAABAN = aku membeli enam belas kitab
Contoh Tamyiz Dzat atau Tamyiz Mufrad untuk lafazh ukuran jarak:
اشتريت ذراعاً صوفاً
ISYTAROITU DZIROO’AN SHUUFAN = Aku membeli satu Dzira’ (satu hasta) kain wool.
Contoh Tamyis Dzat atau Tamyis Mufrad untuk lafazh ukuran takaran:
اشتريت إردباً قمحاً
ISYTAROITU IRDABBAN QOMHAN = Aku membeli satu Irdabb (24 Gantang) Gandum.
Contoh Tamyis Dzat atau Tamyis Mufrad untuk lafazh ukuran berat/timbangan:
اشتريت رطلاً سمناً
ISYTAROITU RITHLAN SAMNAN = aku membeli satu Rithl minyak Samin.
Atau diberlakukan juga untuk lafazh-lafazh yang serupa dengan ukuran-ukuran, contoh:
صببت على النجاسة ذنوباً ماءً
SHOBIBTU ‘ALAA ANNAJAASATI DZANUUBAN MAA’AN = Aku menuangkan pada Najis satu timba air.
اشتريت نحياً سمناً
ISYTAROITU NIHYAN SAMNAN = Aku membeli satu Nihy minyak samin (Nihy : wadah kantong dari kulit khusus tempat samin).
Contoh dalam Al-Qur’an:
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَمَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْ أَحَدِهِمْ مِلْءُ الْأَرْضِ ذَهَبًا وَلَوِ افْتَدَى بِهِ
INNALLADZIINA KAFARUU WAMAATUU WAHUM KUFFAARUN FALAY-YAQBALU MIN AHADIHIM MIL’UL-ARDHI DZAHABAN WALAWIFTADAA BIH.*
Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari seseorang diantara mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu.. (QS. Ali Imron : 91).
*Lafazh “DZAHABAN” = emas, dinashobkan sebagai Tamyiz dari lafazh serupa ukuran-ukuran yaitu lafazh “MIL’UL-ARDHI” = sepenuh bumi.
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ . وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
FAMAY-YA’MAL MITSQOOLA DHARROTIN KHOIROY-YAROH. WAMAY-YA’MAL MITSQOOLA DZARROTIN-SYARROY-YAROH*.
Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. (QS. Al-Zalzalah :7-8)
*Lafazh “KHIRON dan SYARRON” dinashobkan sebagai Tamyiz dari lafzh serupa ukuran timbangan, yaitu lafazh “MITSQOOLA DZARROTIN”.
*****
2. TAMYIZ JUMLAH ATAU TAMYIZ NISBAT:
Yaitu Tamyiz untuk menghilangkan kesamaran makna umum dari penisbatan dua lafazh di dalam tarkib jumlah.
Tamyiz Nisbat/Jumlah dalam pertimbangan asalnya terbagi dua macam:
1. Tamyiz Nisbat peralihan dari Faa’il, contoh:
حَسُنَ الشاب خلقاً
HASUNA ASY-SYAABBU KHULUQON* = pemuda itu baik akhlaqnya
*Lafazh “KHULUQON” dinamakan Tamyiz Nisbat, karena menghilangkan kesamaran penisbatan “HASUNA” kepada lafazh “ASY-SYAABBU”, sebagai Tamyiz nisbat peralihan dari Fa’il, karena asalnya :
حَسُنَ خُلُقُ الشاب
HASUNA KHULUQU ASY-SYAABBI = Akhlaq pemuda itu baik.
Contoh dalam Al-Qur’an:
واشتعل الرأس شيباً
WASYTA’ALAR-RO’SU SYAIBAN* = dan kepalaku telah ditumbuhi uban (QS. Maryam :4)
*Lafazh “SYAIBAN” sebagai Tamyiz Nisbat peralihan dari Fa’il lafazh “RO’SU” karena takdirnya: WASYTA’ALA SYAIBURRO’SI.
2. Tamyiz Nisbat peralihan dari Maf’ul, contoh:
وَفَّيْتُ العمال أجوراً
WAFFAITUL-’UMMAALA UJUURON* = aku membayar para pekerja itu ongkos
*Lafazh “UJUURON” sebagai Tamyiz Nisbat menghilangkan kesamaran penisbatan “WAFFAITU” kepada “UMMAALA” disebut Tamyiz Nisbat Manqul dari Maf’ul, karena asalnya adalah: “WAFFAITU UJUUROL-UMMAALI” = aku membayar ongkos para pekerja.
Contoh dalam Al-Quran:
وَفَجَّرْنَا الْأَرْضَ عُيُونًا
WA FAJJARNAA AL-ARDHO ‘UYUUNAN* = Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air (QS. Al-Qomar 12)
*Lafazh “UYUUNAN” adalah Tamyiz Nisbat yg dimanqul/dialihkan dari Maf’ul Bih, karena taqdirannya adalah: “WAFAJJARNAA ‘UYUUNAL-ARDHI.
Hukum I’rob TAMYIZ umumnya adalah Nashob. adapun Amil yg menashobkan bagi Tamyiz Dzat adalah Isim Mubham/isim yg samar. sedangkan Amil yg menashobkan Tamyiz Nisbat adalah Musnadnya yg berupa kalimah Fi’il atau yg serupa pengamalan Fi’il.
العطف
BAB ATHAF
عطف البيان
ATHAF BAYAN
الْعَطْفُ إِمَّا ذُو بِيانِ أوْ نَسَقْ ¤ وَالْغَرَضُ الآن بَيانُ مَا سَبَقْ
Athaf terbagi: pertama Athaf Bayan, kedua Athaf Nasaq. Sasaran kali ini menerangkan bagian Athaf yg pertama (Athaf Bayan).
فَذُو الْبَيَانِ تَابعٌ شِبْهُ الصِّفَهْ ¤ حَقِيقَةُ الْقَصْدِ بِهِ مُنْكَشِفَهْ
Athaf Bayan adalah Tabi’ menyerupai sifat, yang-mana hakekat yang dimaksud menjadi terungkap dengannya.  
–••Ο••–
Bab ini menerangkan bagian ketiga dari Isim Tawabi’ yaitu ATHAF.
Athaf terbagi dua:
1. Athaf Bayan
2. Athaf Nasaq (akan diterangkan setelah Bab ini)
Definisi Athaf Bayan : Isim Tabi’ yg berfungsi sebagai Idhah (penjelas) atau sebagai Takhshish (pengkhusus), berupa Isim Jamid tanpa takwil.
Penjelasan Definisi :
TABI’ :
adalah Isim Jenis bagian dari Tawabi’.
IDHAH :
Apabila Matbu’nya berupa Isim Ma’rifah, untuk menghilangkan perkara serupa yang beredar dan mengarah pada maksud Isim Ma’rifah, dikarenakan mempunyai banyak kepenunjukan.
TAKHSHISH :
Apabila Matbu’nya berupa Isim Nakirah, untuk membatasi kepenunjukannya dan mempersempit jangkauannya.
Contoh sebagai Idhoh (penjelasan):
أكرمت محمداً أخاك
AKROMTU MUHAMMADAN AKHOOKA = aku memulyakan Muhammad Saudaramu.
Lafazh AKHOOKA = berfungsi untuk menjelaskan maksud daripada lafah “MUHAMMADAN” -sekalipun berupa Isim Ma’rifat- andaikan tanpa penyebutan Tabi’, maka ia tetap membutuhkan tambahan keterangan dan penjelasan.
Contoh sebagai Takhshish (penghusus):
سمعت كلمة خطبةً كثيرة المعاني قليلة الألفاظ
SAMI’TU KALIMATAN KHUTHBATAN KHATSIIROTAL-MA’AANIY QOLIILATAL-ALFAAZHI = saya telah mendengar kalimat khotbah yang kaya akan makna nan simpel lafazhnya.
Lafazh KHUTHBATAN = sebagai Athaf Bayan, digunakan sebagai pengkhusus dari Isim Nakirah “KALIMATAN” dikarenakan banyaknya kepenunjukannya bisa kalimat syair, kalimat natsar, kalimat khotbah, kalimat peribahasa dll. Oleh karena itu andaikan tanpa menyebut Tabi’ maka lafazh “KALIMATAN” tetap dalam status keumumannya didalam banyaknya kepenunjukannya.
Penyebutan Qoyyid IDHOH dan TAKHSHISH ini, untuk mengeluarkan pengertian Tabi’ TAUKID, Tabi’ ATHAF NASAQ dan Tabi’ BADAL.
Contoh Taukid :
جاء الأمير نفسه
JAA’A AL-AMIIRU NAFSUHUU = Penguasa telah datang sendirinya.
Contoh Athaf Nasaq :
قرأت التفسير والحديث
QORO’TU AT-TAFSIIRO WA AL-HADIITSA = aku membaca Tafsir dan Hadits.
Contoh Badal :
قضيت الدين نصفه
QODHOITU AD-DAINA NISHFAHUU = Aku melunasi hutang separuhnya.
Ketiga contoh Tabi’ diatas sesungguhnya bukan sebagai IDHOH bagi kalimah Matbu’.
Adapun Tabi’ NA’AT tidak keluar dari definisi qayyid IDHOH dan TAKHSIS tapi keluar dari qayyid lain. Na’at dan Athof Bayan bersekutu dalam hal fungsi Idhoh, akan tetapi pada Athof Bayan berfungsi sebagai penjelasan bagi dzat Matbu’, yakni penerangan eksistensi hakikat asalnya. Sedangkan pada Na’at bukan sebagai penjelasan secara langsung terhadap dzat asal Matbu’nya (man’utnya), tapi sebagai keterangan Sifat diantara sifat-sifatnya.
Contoh perbedaan fungsi IDHAH antara Na’at dan Athaf Bayan :
Contoh Na’at :
هذا خالد الكاتب
HAADZAA KHOOLIDUN AL-KAATIBU = ini adalah Khalid sang sekretaris.
Lafazh AL-KAATIBU = sebagai Na’at sebagai keterangan atau penjelas bagi Matbu’nya dengan menyebut sifat diantara sifat-sifatnya.
Contoh Athaf Bayan :
هذا التاجر خليل
HAADZAA AT-TAAJIRU KHOLIILUN = Dia ini seorang pedagang (dia) Khalil.
Lafazh KHOLIILUN = sebagai Athaf Bayan sebagai penjelasan dzat Matbu’ AT-TAAJIRU.
JAMID :
Umumnya Athaf Bayan berupa Isim Jamid, demikian juga membedakan dengan Na’at yang umumnya berupa Isim Musytaq.
TANPA TAKWIL :
Yakni tanpa ditakwil isim musytaq, juga sebagai pembeda dari Naat Jamid yg harus ditakwil Isim Musytaq, seperti contoh Naat yg berupa Isim Isyaroh :
مررت بعلي هذا
MARORTU BI ‘ALIY HAADZAA = aku berjumpa dengan Ali ini.
Lafazh HAADZAA = sebagai Naat Jamid yg ditakwil : yang hadir ini.
عَطْفُ النَّسقِ
ATHAF NASAQ
تَالٍ بحَرْفٍ مُتْبعٍ عَطْفُ النَّسَقْ ¤ كَاخصُصْ بوُدٍّ وَثَنَاءٍ مَنْ صَدَقْ
Isim tabi’ yg mengikuti dg huruf penghubung (antara Tabi’ dan Matbu’nya), demikian definisi Athaf Nasaq. Seperti contoh “Ukhshush bi waddin wa tsanaa’in man shadaqa” = Istimewakan..! dengan belas kasih dan sanjungan terhadap orang-orang yg jujur.
فَالْعَطْفُ مُطْلَقاً بِوَاوٍ ثُمَّ فَا ¤ حَتَّى أمَ أوْ كَفيكَ صِدْقٌ وَوَفَا
Athaf yg mengikuti secara Mutlaq (lafazh dan Makna) yaitu dengan huruf Athaf Wawu, Tsumma, Fa’, Hatta, Am, dan Aw. Seperti contoh “Fiika shidqun wa wafaa” = kamu harus jujur dan menepati.  
وَأتْبَعَت لَفْظاً فَحَسْبُ بَلْ وَلا ¤ لَكِنْ كَلَمْ يَبْدُ امْرُؤٌ لَكِنْ طَلَا
Sedangkan huruf Athaf yg cukup mengikutkan secara lafazhnya saja, yaitu Bal, Laa dan Laakin. Seperti contoh “Lam yabdu imru’un laakin tholaa” tidak tampak seorangpun melainkan anak rusa.  
–••Ο••–
Definisi Athaf Nasaq :
Isim Tabi’ yang terdapat perantara di antara Tabi’ dan Matbu’ dengan salah satu huruf Athaf.
Definisi Nasaq menurut bahasa adalah Isim Mashdar “NASQUN” yg berarti “penyusunan teratur” contoh: NASAQTU AL-KALAAMA = aku menyusun/mengatur kalimat. yakni mengathafkan satu bagian kepada bagian yg lain sehingga bagian-bagian tersebut beriringan secara teratur.
oOo
Huruf-huruf Athaf semuanya ada sembilan dan terbagai menjadi dua bagian:
1. Bagian pertama dari Huruf-huruf Athaf yg melaksanakan Tasyrik (penyekutuan) secara lafazh dan makna.
Penyekutuan secara Lafazh dimaksudkan adalah didalam hukum i’robnya. Penyekutuan secara makna dimaksudkan adalah menetapkan pada Ma’thuf dengan hukum yang ditetapkan pada Ma’thuf ‘Alaih. Penetapan demikian berlaku pada Athaf Mufrod, sedangkan Athaf Jumlah tidak berlaku Faidah Tasyrik (penyekutuan).
Bagian huruf Athaf disini ada enam huruf :
1. Wawu
2. Tsumma
3. Huruf Fa’
4. Hattaa
5. Am
6. Aw
Contoh:
جاء خلد وعلي
JAA’A KHOOLIDUN WA ‘ALIYYUN = Khalid dan Ali telah datang
حضر الطلاب ولم يحضر المدرس
HADHARA AT-THULLAABU WA LAM YAHDHUR AL-MUDARRISU = para siswa telah hadir dan para guru belum hadir.
oOo
2. Bagian kedua dari Huruf-huruf Athaf yg melaksanakan Tasyrik (penyekutuan) secara lafazhnya saja tidak secara makna.
Tasyrik secara Lafazhnya, yakni secara i’robnya. Dan tidak secara makna, yakni tidak menghukumi Ma’thuf dengan hukum secara makan yg ada pada ma’thuf Alaih.
Bagian huruf Athaf disini ada tiga huruf :
1. Bal
2. Laa
3. Laakin
Contoh:
ما جاء الضيف بل ولده
MAA JAA’A ADH-DHAIFU BAL WALADUHU = Tamu itu tidak datang tapi anaknya.
الْبَدَلُ
BAB BADAL
التَّابعُ المَقْصُودُ بالْحُكْمِ بلا ¤ وَاسِطَةٍ هُوَ المُسَمَّى بَدَلا
Isim Tabi’ yang dimaksudkan oleh penyebutan hukum tanpa perantara (huruf Athaf), demikian dinamakan Badal.
–••Ο••–
Bab ini menerangkan bagian ke lima dari Isim-isim Tawabi’, yaitu BADAL.
Definisi Badal : Isim Tabi’ yang dimaksudkan oleh penyebutan hukum dengan tanpa perantara huruf Athaf antara Badal dan Mubdal Minhunya. Contoh:
عَمَّ الرخاء في زمن الخليفة عمر بن عبد العزيز
‘AMMA AR-RAKHAA’U FIY ZAMANI AL-KHALIIFATI ‘UMARO BNI ‘ABDIL ‘AZIIZI = Ketentraman menyeluruh pada masa Khalifah Umar Bin ‘Abdul ‘Aziz.
Lafazh UMARO = Sebagai badal dari lafazh KHALIIFATI, dan sebagai lafazh yg dimaksudkan oleh penisbatan hukum.
Andaikan cukup hanya menyebut Khalifah maka tidak diketahui siapakah Khalifah yang dimaksud, karena sebutan Khalifah bukanlah maksud dari dzat Umar bin Abd Aziz itu sendiri. Akan tetapi sebutan Kholifah sebagai Tamhid (pembuka) bagi lafazh sesudahnya, agar kalimat diterima lebih kuat didalam hati si pendengar.
Penjelasan Definisi :
TABI :
Isim jenis bagian dari Tawabi’.
YANG DIMAKSUDKAN OLEH HUKUM :
Sebagai qayyid awal atau sebagai batasan definisi bagian pertama untuk membedakan dengan pengertian Tawabi’ yang lain seperti Na’at, Athaf Bayan dan Taukid, karena Tabi’-tabi’ tsb sebatas penyempurna bagi Matbu’nya yg dikenai penisbatan hukum, dan bukan sebagai Tabi’ yang dinisbati oleh hukum itu sendiri.
Qayyid diatas juga dapat membedakan dengan pengertian Athaf Nasaq dengan Huruf Wawu dan serupanya, contoh:
جاء صالح وعاصم
JAA’A SHAALIHUN WA ‘AASHIMUN = Shaleh dan Ashim telah datang.
Maksud hukum (JAA’A) pada contoh ini tidak hanya tertuju pada Tabi’ (AASHIMUN) tapi juga tertuju pada Matbu’ (SHAALIHUN).
Demikian juga Ma’thuf dengan huruf “LAA”, contoh:
جاء عاصم لا صالح
JAA’A ‘AASHIMUN LAA SHAALIHUN = Ashim datang Zaid tidak.
Lafazh setelah huruf Athaf LAA yaitu lafazh “SHAALIHUN” sebagai Tabi’ tapi tidak dikenai maksud hukum.
Demikian juga Ma’thuf dengan huruf “BAL” setelah nafi (kalimat negative), contoh:
ما جاء صالح بل عاصم
MAA JAA’A SHAALIHUN BAL ‘AASHIMUN = Shaleh tidak datang tapi Ashim.
yang dikenai maksud hukum “tidak datang” dalam contoh ini adalah Matbu’ yaitu lafazh SHAALIHUN.
TANPA HURUF PERANTARA:
Sebagai Qayyid Tsani atau sebagai batasan definisi bagian kedua untuk membedakan dengan Ma’thuf dengan huruf BAL setelah kalam itsbat (kalimat positive), contoh:
جاء صالح بل عاصم
JAA’A SHAALIHUN BAL ‘AASHIMUN = Shaleh datang namun Ashim.
Lafazh ‘AASHIMUN = sebagai Tabi’ yang dikenai maksud hukum, tapi disini ada huruf perantara yaitu BAL, oleh karenanya tidak dinamakan Badal.
الْفَاعِلُ الَّذِي كَمَرْفُوعَيّ أَتَى ¤ زَيْدٌ مُنِيْرَاً وَجْهُهُ نِعْمَ الْفَتَى
Yang disebut Fa’il adalah seperti kedua lafazh yg dirofa’kan dalam contoh: “ATAA ZAIDUN MUNIIRON WAJHUHU NI’MAL FATAA = zaid datang dengan berseri-seri wajahnya seorang pemuda yg beruntung”.
Yakni, (1).  Fa’il yg dirofa’kan oleh fi’il mutashorrif atau oleh fi’il jamid seperti contoh “ATAA ZAIDUN dan NI’MAL FATAA”. (2).  Fa’il yg dirofa’kan oleh syibhul fi’li/serupa pengamalan fi’il seperti contoh: MUNIIRON WAJHU HU
–••Ο••–
Pengertian Fa’il menurut bahasa adalah: yang mengerjakan pekerjaan (subjek), contoh:
كتب الطالبُ
KATABA ATH-THOOLIBU = siswa menulis
مات زيد
MAATA ZAIDUN = zaid meninggal dunia
Pengertian Fa’il menurut istilah adalah : ISMUN AL-MUSNAD ILAIHI FI’LUN ‘ALAA THORIIQOTI FA’ALA AW SYIBHU HU. Artinya: Isim yang dimusnadi oleh Fi’il atas jalan FA’ALA (Fi’il Mabni Ma’lum) atau disandari oleh Serupa Fi’il.
Penjelasan Definisi:
ISMUN = Kalimah Isim : Mencakup Isim yang Shorih, berupa Isim Zhohir dan Isim Dhamir.
Contoh Fa’il Isim Zhohir:
قام زيد
Zaid berdiri
Contoh Fa’il Isim Dhamir:
قمـت
Aku berdiri
Juga mencakup Isim Mu’awwal yaitu kalimat yg ditakwil masdar, berupa jumlah ANNA beserta Isim dan Khobarnya, atau AN Masdariyah beserta Fi’ilnya, atau MAA Masdariyah beserta Fi’ilnya.
Contoh: Fa’il Isim Mu’awwal dari jumlah ANNA + Isimnya + Khobarnya:
أَوَلَمْ يَكْفِهِمْ أَنَّا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ
Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran).. (Al-’Ankabuut : 51)
Contoh: Fa’il Isim Mu’awwal dari jumlah AN Masdariyah + Fi’il:
أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ
Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah (Al-Hadiid : 16)
Contoh: Fa’il Isim Mu’awwal dari jumlah MAA Masdariyah + Fi’il, dalam Sya’ir:
يسر المرء ما ذهب الليالي # وكان ذهابهن له ذهابا
Kepergian banyak malam menggembirakan seseorang (contoh pesta ulang tahun), padahal kepergian malam itu baginya adalah kepergian umur.
AL-MUSNAD ILAIHI FI’LUN = yang dimusnadi oleh Fi’il : Baik oleh Fi’il Mutashorrif seperti pada contoh-contoh diatas atau dimusnadi oleh Fi’il Jamid:
Contoh Fa’il dimusnadi oleh Fi’il jamid:
نِعْمَ العبدُ
NI’MA AL-’ABDU = sebaik-baik hamba.
Keluar dari definisi “dimusnadi oleh Fi’il” apabila dimusnadi oleh Jumlah, maka tidak dinamakan Fa’il tapi dinamakan Mubtada’.
Contoh Isim yg dimusnadi oleh Jumlah bukan dinamakan Fa’il tapi Mubtada’:
وَاللَّهُ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً
Dan Allah menurunkan dari langit air (hujan) .. (An-nahl : 65)
‘ALAA THORIIQOTI FA’ALA = atas jalan FA’ALA (Fi’il Mabni Ma’lum): Yakni menggunakan susunan Fi’il Mabni Ma’lum. Keluar dari definisi ini penggunaan susunan Fi’il Mabni Majhul, maka musnad ilaihnya tidak dinamakan Fa’il tapi dinamakan Naibul Fa’il.
Contoh Isim yg dimusnadi oleh Fi’il Mabni Majhul, bukan dinamakan Fa’il tapi Naibul Fa’il:
كتب الكتاب
KUTIBA AL-KITAABU = kitab itu telah ditulis
AW SYIBHU HU = atau dimusnadi oleh Serupa Fi’il : Yakni lafazh yg beramal seperti Fi’il, seperti Isim Fa’il, Sifat Musyabbahah, Isim Tafdhil, dan lain-lain.
Contoh Isim yg dimusnadi oleh Isim Fa’il:
أداخلٌ صالحٌ المسجدَ
Apakah Sholeh yang masuk masjid?
Contoh Isim yg dimusnadi oleh Sifat Musyabbahah:
زيد حسن وجهه
Zaid tampan wajahnya
Contoh Isim yg dimusnadi oleh Isim Tafdhil:
العلمُ أفضلُ من المال
Ilmu lebih utama daripada harta *
* pada contoh lafaz AFDHOLU menyimpan Fa’il berupa Isim Dhamir Mustatir
الحال
AL-HAL
الْحَالُ وَصْفٌ فَضْلَةٌ مُنْتَصِبُ ¤ مُفْهِمُ فِي حَالِ كَفَرْداً أَذْهَبُ
HAL adalah Sifat, sambilan, manshub, dan menjelaskan tentang keadaan seperti sendirian aku pergi = “FARDAN ADZHABU”
–••Ο••–
Hal terbagi dua :
1. Hal Muakkidah, sebagai pengokohan, yakni tidak ada makna lain selain sebagai taukid (dijelaskan pada akhir Bab Haal).
2. Hal Mubayyinah, sebagai penjelasan, yakni Sifat Fadhlah/Sambilan yg dinashobkan untuk menerangkan HAI’AH/tingkah/gaya shohibul-haal ketika terjadinya perkerjaan utama.
Penjelasan definisi dan pengertian Hal pada poin 2:
SIFAT : Suatu yg menunjukkan makna dan dzat. contoh ROOKIBUN = berkendara, FARIHUN = bergembira, MASRUURUN = bergembira. dll. Sifat adalah jenis dapat mencakup Hal, Khobar juga Na’at.
FADHLAH : tambahan/sambilan, adalah hal yg bukan pokok didalam penerapan Isnad, yakni asal penyebutan FADHLAH itu adalah suatu yg tidak musti dalam kebiasaan.
MENERANGKAN HAI’AH/TINGKAH SHAHIBUL-HAL: Maksud Shahibul Hal adalah suatu yang diterangkan tingkahnya oleh Haal. yakni penerangan sifatnya diwaktu pekerjaan terjadi. Shohibul hal bisa berupa Fa’il, Naibul Fail, Maf’ul Bih, dll.
Standar untuk mengetahui sifat sebagai penunjukan HAI’AH adalah dengan cara meletakkan pertanyaan KAIFA/bagaimana? maka jawabannya tentu lafazh hal.
contoh :
جاء الضيف ماشياً
JAA’A ADH-DHOIFU MAASYIYAN* = tamu itu telah datang dengan berjalan kaki
* Lafazh MAASYIYAN adalah sebagai HAAL/keadaan yakni menerangkan HAI’AH/tingkah Isim sebelumnya yg berupa Fa’il lafazh ADH-DHOIFU. Maka lafazh MAASYIYAN ini patut sebagai jawaban dari pertanyaan KAIFA contoh KAIFA JAA’A ADH-DHOIFU?/bagaimana tamu itu datang? maka dijawab: MAASYIYAN/jalan kaki.
contoh Firman Allah:
وَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ
WAD’UUHU MUKHLISHIINA* = sembahlah Allah dengan mengikhlaskan (QS. Al-A’rof :29)
*lafz “MUKHLISHIINA” adalah HAL dari lafazh Fa’il yg berupa dhamir Wawu jamak.
contoh Firman Allah:
فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ
FA BA’ATSA ALLAHU ANNABIYYIINA MUBASY-SYIRIINA WA MUNDZIRIINA*= maka Allah mengutus para nabi sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. (QS. Al-Baqoroh : 213)
*lafazh “MUBASY-SYIRIINA WA MUNDZIRIINA” adalah sebagai HAAL dari lafazh Maf’ul Bih “ANNABIYYIINA”
contoh Firman Allah:
فَكُلُوا مِمَّا غَنِمْتُمْ حَلَالًا طَيِّبًا
FA KULUU MIMMAA GHONIMTUM HALAALAN THOYYIBAA* = Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik (QS. Al-Anfal : 69)
*dua lafazh “HALAALAN THOYYIBAA” sebagai HAL dari isim maushul yaitu MAA.
Keluar dari sebutan sifat, yaitu seperti contoh:
رجعتُ القهقرى
ROJA’TUL-QOHQOROO* = aku kembali secara mundur
* lafaz QOHQOROO tidak disebut HAAL sekalipun sebagai penjelasan tentang tingkah daripada Fa’il, karena bukan berupa sifat, tapi berupa sebutan untuk keadaan kembali ke belakang.
Keluar dari sebutan FADHLAH/sambilan, yaitu Sifat yg dijadikan UMDAH (penopang) yakni sebagai pokok atau primer, semisal menjadi Mubtada contoh:
أقائم الزيدان
A QOO’IMUN AZZADIAANI = apakah yg beridiri itu dua Zaid?
atau menjadi Khobar contoh:
زيد قائم
ZAIDUN QOO’IMUN = Zaid berdiri
Keluar dari penunjukan HAI’AH/tingkah, yaitu Tamyiz Musytaq. contoh:
لله دَرُّهُ فارساً
LILLAAHI DARRUHU! FAARISAN* = hebat! penunggangnya.
* Lafazh LILLAAHI DURRUHU! adalah ungkapan ta’jub atau pujian karena kagum. Lafazh FAARISAN dipilih sebagai TAMYIZ bukan HAL karena tidak dimaksudkan sebagai penunjukan HAI’AH tapi sebagai penunjukan pujian daripada kepandaiannya menunggang kuda. Namun demikian bisa saja terjadi sebagai penerangan HAI’AH tergantung dari maksudnya. Seperti itu  juga NA’AT MANSHUB contoh:
رأيت رجلاً واقفاً
RO’AITU ROJULAN WAAQIFAN* = aku lihat lelaki yg menetap.
*Lafaz WAAQIFAN dipilih sebagai NA’AT bukan HAAL, karena memang tidak disusun menjadi HAL  tetapi disusun untuk menghususi pada MAN’UT. Namun demikian bisa saja disusun sebagai penerangan HAI’AH, ini tergantung pada Konteks Kalimatnya.
باب حروف الجر
BAB HURUF-HURUF JAR
هَاكَ حُرُوفَ الْجَرِّ وَهْيَ مِنْ إلىَ ¤ حَتَّى خَلا حَاشَا عَدَا في عَنْ عَلَى
Ambillah sebagai Huruf Jar yaitu : Min, Ila, Hatta, Kholaa, Haasyaa, ‘Adaa, Fii, ‘An, ‘Alaa,
مُذْ مُنْذُ رُبَّ اللّامُ كَيْ وَاوٌ وَتَا ¤ وَالكَافُ وَالْبَا وَلَعَلَّ وَمَتَى
Mudz, Mundzu, Rubba, Lam, Kay, Wau, Ta’, Kaf, Ba’, La’alla, dan Mataa.
–••Ο••–
Setelah selesai pembahasan tentang Marfu’ dan Manshub, selanjutnya Mushonnif menerangkan tentang Majrur.
Majrur ada tiga sebab:
1. Majrur sebab Huruf jar
2. Majrur sebab Idhofah
3. Majrur sebab Tabi’
Dimulailah dengan pembahasan Majrur sebab Huruf-huruf Jar/Huruf Khafadh, karena ini merupakan Asal dari Amil Jar.
Huruf-huruf Jarr kesemuanya berjumlah sepuluh sebagaimana disebutkan oleh Mushonnif pada Bait diatas. Semua huruf tersebut khusus masuk pada kalimah Isim merupakan Amil Jar/beramal Jar.
Untuk Harf Jar yg berupa (KHOLAA – HAASYAA – ‘ADAA) telah dijelaskan pada Bab Istitsna, dikedepannya penjelasannya karena berstatus Istiqsho’ yakni perlu perhatian khusus didalam Taroddudnya yakni sebagai kalimah huruf apabila menjarkan isim sesudahnya, atau sebagai kalimah Fi’il yang Jamid apabila menashobkan isim sesudahnya.
Untuk Huruf-huruf jar sisanya InsyaAllah akan dijelaskan secara rinci pada Bait-bait selanjutnya. Kecuali (KAY, LA’ALLA dan MATAA) dimana orang arab jarang menggunakannya sebagai huruf Jar, karena itu disebut Huruf Jar Ghorobah/asing, ada yg menyebutnya huruf jar Syadz. Rinciannya sebagai berikut:
KAY كي
Huruf Jar Lit-Ta’lil, untuk menyatakan alasan, digunakan pada tiga tempat:
1. Apabila Kay masuk pada huruf MAA ISTIFHAM, untuk menanyakan penjelasan sebab atau alasan. contoh:
كيمه فعلتَ هذا
KAY-MAH FA’ALTA HAADZAA?* = karena apa/kenapa kamu melakukan ini?
*Lafazh KAY = sebagai huruf Jar dan Lafazh MAA = sebagai Isim Istifham yang dijarkan oleh Kay, Alifnya dibuang karena dimasuki Huruf Jarr, dan ditambah Ha’ pengganti dari Alif yg dibuang, dan harkat fathah sebagai dalil terbuangnya Alif, maka menjadi KAY-MAH.
2. Apabila Kay masuk pada AN MASHDARIYAH dan Shilahnya, umumnya huruf AN tsb dikira-kira (Muqoddar). contoh:
جئت كي أستفيد
JI‘TU KAY ASTAFIIDA* = aku datang untuk mendapat faedah/kegunaan/keuntungan.
*Lafazh ASTAFIIDA = Fi’il Mudhori’ yg dinashobkan oleh AN yg dikira-kira ada setelah huruf KAY, takdirannya JI’TU KAY AN ASTAFIIDA. huruf AN dan jumlah sesudahnya di-takwil Mashdar yg dijarkan oleh KAY dengan takdiran: JI’TU LIL-ISTIFAADZAH.
Demikian menurut salah satu wajah. Adapun dalam wajah lain:
*KAY sebagai huruf Mashdariyah yg menashobkan Fi’il Mudhari’, dan mengira-ngira ada LAM sebelumnya, takdirannya adalah JI’TU LI KAY ASTAFIIDA.
3. Apabila Kay masuk pada MAA MASHDARIYAH dan Shilahnya, contoh:
أحسن معاملة الناس كي ما تسلم من أذاهم
AHSIN! MU’AAMALATAN-NAASI KAY MAA TASLAMU MIN ADZAAHUM* = bersikap baiklah dalam bermasyarakat agar kamu selamat dari perlakuan buruk mereka.
*Lafazh TASLAMU adalah Fi’il Mudhari’ yg dirofa’kan. Maka MAA berikut Jumlah yg ada padanya dita’wil MASHDAR di-jar-kan oleh KAY huruf jar. yakni takdirannya adalah: LI SALAAMATIKA MIN ADZAAHUM.
LA’ALLA لعل
Adalah Huruf Jar yang serupa dengan harf jar zaidah yakni menjarkan secara lafazh saja tidak dalam mahalnya, mempunyai faidah Taroji. digunakan sebagai huruf jar secara terbatas oleh sebagai bangsa Arab. contoh:
لعل المسافر قادم غدا
LA’ALLA AL-MUSAAFIRI QOODIMUN GHODAN* = Semoga musafir itu tiba pada esok hari.
•    Lafazh LA’ALLA = huruf berfaedah Taroji sebagai huruf jar syibhul-zaa’id (diserupakan dengan Huruf Jar Zaidah).
•    Lafazh AL-MUSAFIRI = Majrur lafazhnya dan Marfu’ mahalnya sebagai Mubtada’. Lafazh QOODIMUN = Khobar.
•    Lafazh GHODAN = Isim Zaman Manshub sebagai Zharaf.
MATAA متى
Dipakai sebagai Huruf Jar asli oleh logat Bani Hudzail, berfaedah Ibtidaa’ul-Ghaayah/batas permulaan seperti faedah huruf MIN. contoh mereka berkata:
أخرجها متى كمه
AKHROJAHAA MATAA KUMMIHII = Dia mengeluarkan tangannya dari lengan bajunya.
إعْمَالُ الْمَصْدَرِ
PENGAMALAN MASHDAR
بِفِعْلِهِ الْمَصْدَرَ ألْحِقْ فِي الْعَمَلْ ¤ مُضَافاً أوْ مُجَرَّداً أوْ مَعَ الَ
Ikutkanlah Mashdar kepada Fi’ilnya di dalam pengamalan. Baik Mashdar tersebut Mudhaf atau Mujarrad (tidak mudhof dan tanpa AL), atau bersamaan dengan AL
إنْ كَانَ فعْلٌ مَعَ أنْ أوْ مَا يحِلّ ¤ مَحَلَّهُ وَلِاسْمِ مَصْدَرٍ عَمَلْ
Demikian apabila Fi’il bersamaan dengan IN atau MAA dapat menempati tempat Masdar yg mengamalinya. Pengamalan ini juga berlaku untuk Isim Mashdar 
–••Ο••–
Di dalam Bahasa Arab, Isim banyak yang beramal seperti pengamalan Fi’il dengan beberapa persyaratan. Di dalam Kitab Alfiyah ini Mushonnif Ibnu Malik telah menyebutnya diantaranya:
1. Mashdar
2. Isim Mashdar
3. Isim Fa’il
4. Shighat Mubalaghah
5. Isim Maf’ul
6. Shifat Musyabbahah
7. Isim Tafdhil.
Dalam Bab ini khusus mengenai pengamalan Mashdar dan Isim Mashdar. Pembahasan ini oleh Ibnu Malik didahulukan dari pembahasan Bentuk-bentuk Mashdar itu sendiri (Bab Abniyatul Mashaadir), karena pengamalan Mashdar masuk kategori Ilmu Nahwu yang sangat erat kaitannya dengan Bab-bab terdahulu. Sedangkan pembahasan mengenai Bentuk-bentuk Masdar masuk dalam Ilmu Shorof demikian dibelangkan.
Definisi Mashdar adalah: Isim yang menunjukkan kejadian (huduts) yang sepi dari zaman dan mencukupi atas huruf-huruf Fi’ilnya atau melebihinya.
Contoh dinamakan Mashdar :
بذلُ المال في الخير نفع لصاحبه
BADZLUL-MAALI FIL-KHOIRI NAF’UN LI SHOOHIBIHII = mendermakan harta di dalam kebaikan bermanfaat bagi si empunya.
Lafazh BADZLU adalah mashdar dari : BADZALA-YABDZALU-BADZLAN.
Badzlan adalah Mashdar bermakna menunjukkan atas kejadian pendermaan tanpa penyertaan zaman. Dan juga mencukupi semua huruf-huruf Fi’ilnya yaitu huruf BA’, DZAL dan LAM.
Contoh lagi dinamakan Mashdar:
إكرام الضيف من آداب الإسلام
IKROOMUDH-DHOIFI MIN AADAABIL-ISLAAMI = menghormati tamu termasuk dari adab-adab dalam Islam.
Huruf pada lafazh IKROOMUN mencukupi atas huruf-huruf Fi’ilnya (AKROMA) berikut melebihinya yaitu ada tambahan Alif sebelum huruf terakhir.
Adapun yang disebut Isim Mashdar berbeda dengan Mashdar. Sekalipun keduanya sama mencocoki dalam hal menunukkan huduts/kejadian.
Bedanya Mashdar tidak akan berkurang hurufnya dari bentuk huruf Fi’ilnya. Sedangkan disebut Isim Mashdar huruf-hurufnya berkurang dari bentuk huruf Fi’ilnya secara lafazhan atau Takdiran dan tanpa ada pergantian huruf.
Contoh dinamakan Isim Masdar
عطاء
‘ATHOO’UN = Pemberian
Contoh dinamakan Masdar
إعطاء
I’THOO’AN = Pemberian
Persamaannya Lafazh ‘ATHOO’UN dan I’THOO’AN yaitu sama dalam hal penunjukan kejadian. Perbedaannya adalah lafazh ‘ATHOO’AN tidak terdapat huruf Hamzah yang terdapat pada bentuk Fi’ilnya yang berupa lafazh :
أعطى
A’THOO = Memberikan
Tidak terdapatnya huruf Fi’ilnya tersebut baik secara Lafzhan atau secara Takdiran, demikan ini syarat disebut Isim Mashdar.
Beda jika tidak terdapat huruf Fi’ilnya secara Lafzhan, tapi ada secara Taqdiran, demikian tetap dinamakan Mashdar. contoh:
قتال
QITAALUN = peperangan
Mashdar dari Fi’il
قاتل
QOOTALA.= berperang
Lafazh QITAALUN tidak ada huruf Alif sebelum huruf TA’ sebagaimana pada bentuk Fi’ilnya.
Dalam contoh ini tidak terdapat huruf Fi’ilnya secara Lafzhan tapi ada secara Takdiran. Sebab dalam beberapa tempat ia diucapkan dengan lafazh:
قيتال
QIITAALAN = Peperangan
Alif diganti dengan Ya’ untuk menyesuaikan harkat kasroh huruf sebelumnya. Adapun dibaca QITAALAN dengan membuang Ya’ untuk litakhfif/memudahkan dan likatsrotil-isti’mal/banyak dipakai.
Beda juga jika ada pengganti dari huruf yg tidak ada, demikian tetap dinamakan Mashdar. contoh:
عدة
‘IDATAN = Janji
Mashdar dari Fi’il WA’ADA. Tidak ada huruf wawu seperti yang terdapat pada Fi’ilnya baik secara Lafzhan dan Taqdiran. Tapi ada penggantinya yaitu huruf TA’.
¤¤¤
Mashdar beramal seperti pada pengamalan Fi’il Merofa’kan Faa’il dan menashobkan Maf’ul.
Mashdar yang beramal seperti Amal Fi’il ada dua macam:
1. Sebagaimana telah disebutkan pada Bab Maf’ul Muthlaq yaitu: Mashdar yang menggantikan Fi’il atau Mashdar yang bermakna seperti Fi’il. Yakni, membuang Fiil dan menggantikannya dengan Mashdar sebagai pengganti tugas pemaknaan Fi’il baik Fi’il itu lazim atau Fi’il muta’addi. contoh:
إكراماً المسكين
IKROOMAN AL-MISKIINA = hormatilah orang miskin.
Lafazh IKROOMAN adalah mashdar menggantikan tugas lafazh AKRIM! Fiil Amar. terdapat dhamir mustatir wujuuban takdirannya ANTA sebagai Faa’ilnya. Lafazh AL-MISKIINA adalah Maf’ul Bihnya dinashobkan oleh Mashdar.
2. Inilah yang dibahas dalam Bab ini yaitu: Apabilah layak Mashdar tersebut ditempati AN + Fi’il, atau MAA + Fi’il.
Contoh:
يسرني أداؤك الواجب
YASURRUNIY ADAA’UKAL-WAAJIBA = Pelaksanaanmu akan kewajiban menggembirakanku.
lafazh ADAA’U = Adalah Mashdar yang mengamalkan amalan Fi’ilnya. Dimudhafkan kepada Fa’ilnya yang berupa dhamir KAF dan menashobkan kepada Maf’ul Bih yaitu lafazh AL-WAAJIBA. Dan dimungkinkan posisinya ditempati oleh AN+FI’IL atau MAA+FI’IL
Menempatkan AN+FIIL pada posisi Masdar, jika yang dimaksud pada waktu lampau atau pada waktu akan datang. Contoh seperti mengatakan:
يسرني أن تؤدي الواجب
YASURRUNIY AN TU’ADDIY AL-WAAJIBA.
Menempatkan MAA+FIIL pada posisi Mashdar, jiika yang dimaksud pada waktu sekarang. Contoh seperti mengatakan:
يسرني ما تؤدي الواجب
YASURRUNIY MAA TU’ADDIY AL-WAAJIBA.
¤¤¤
Mashdar yang menjadi Amil seperti ini terdapat tiga bagian penampakan:
1. Mashdar Mudhaf
Ini bagian Mashdar yang paling banyak digunakan dalam pengamalannya daripada dua pembagian Mashdar yang lain. Contoh telah disebut diatas.
2. Mashdar bertanwin
Pengamalannya lebih mendekati pada Qiyas daripada Mashdar Mudhaf. sebab diserupakan dengan kalimah Fi’il dalam hal kenakirahannya. Penggunaannya dalam pengamalannya lebih sedikit dibawah pengamalan Mashdar Mudhaf. contoh:
واجب علينا تشجيعٌ كلّ مجتهد
WAAJIBUN ‘ALAINAA TASYJII’UN KULLA MUJTAHID = wajib atas kami memotivasikan keberanian kepada tiap-tiap Mujtahid.
Contoh Ayat Al-Qur’an:
أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ يَتِيمًا
AW ITH’AAMUN FIY YAUMIN DZII MASGHOBATIN YATIIMAN = atau memberi makan pada hari kelaparan kepada anak Yatim (QS. Al-Balad : 14-15)
Lafazh ITH’AAMUN adalah Mashdar Tanwin yang menashobkan Maf’ul Bih lafazh (YATIIMAN).
3. Mashdar Ma’rifah dengan AL
Pengamalannya Syadz, dikarenakan jauh dari persamaan Fi’il sebab bersambung dengan AL. Paling sedikit ditemukan daripada dua pembagian Masdar di atas, baik secara penggunaannya atau secara balaghoh. Contoh:
المجدُّ سريعُ الإنجاز أعمالَه
AL-MAJIDDU SARII’UL-INJAAZI A’MAALAHU = seorang yang giat sangat cepat dalam penyelesaian pekerjaan-pekerjaannya.
Lafazh A’MAALAHU sebagai Maf’ul Bih dari Mashdar AL-INJAAZI.
إعراب الفعل
BAB I’RAB KALIMAH FI’IL
اِرْفَعْ مُضَارِعاً إذَا يُجَرَّدُ ¤ مِنْ نَاصِبٍ وَجَازِمٍ كَتَسْعَدُ
Rofa’kanlah Fi’il Mudhari’ apabila kosong dari amil nashab dan amil jazem, seperti contoh “TAS’ADU” (kamu beruntung).
–••Ο••–
Telah dijelaskan pada pelajaran dahulu, bahwa Fi’il Mudhari’ ada yang Mu’rob dan ada yang Mabni.
Mengenai Mabninya Fi’il Mudhari’ telah selesai pembahasannya pada Bab Mu’rob dan Mabni. Pembahasan selanjutnya mengenai i’rob Fi’il Mudhari’ baik Rofa’, Nashob dan Jazem. Yakni, jika Fi’il Mudhori’ tersebut dimasuki oleh amil nashob maka dinashobkan/Manshub, atau jika dimasuki oleh amil jazem maka dijazemkan/Majzum. Dan apabila tidak ada suatu amil pun yg masuk, maka Fiil Mudhari’ tersebut dirofa’kan/Marfu’.
Contoh Firman Allah dalam Al-Qur’an al-Karim :
يُدَبِّرُ الْأَمْرَ
YUDABBIRUL-AMRO = Dia mengatur urusan (QS. As-Sajdah : 5)
I’rob :
lafazh YUDABBIRU = Fi’il Mudhari’ dirofa’kan/Marfu’ sebab kosong dari Amil Nashob dan Amil Jazem, tanda rofa’nya dengan harkat Dhamma Zhahir pada akhir kalimahnya. dan Faa’ilnya berupa Dhamir Mustatir.
lafazh AL-AMRO = Nashab menjadi Maf’ul Bih.
Tidak disebutkan oleh mushannif pada Bait di atas bahwa syarat Fi’il mudhari yg dirofa’kan harus tidak bersambung dengan Nun Taukid atau Nun Mu’annats, karena juga telah dijelaskan pada bab Mu’rob dan Mabni dalam pembahasan kemabnian Fi’il Mudhari’.
الإضافة
BAB IDHAFAH (MUDHAF DAN MUDHOF ILAIH)
نُوناً تَلِي الإعْرَابَ أو تَنْوِينَا ¤ ممّا تُضِيفُ احْذِفْ كَطُورِ سِينَا
Terhadap Nun yang mengiringi huruf tanda i’rob atau terhadap Tanwin dari pada kalimah yg dijadikan Mudhaf, maka buanglah! demikian seperti contoh: THUURI SIINAA’ = Gunung Sinai.
وَالثَّانِيَ اجْرُرْ وانو من أَوْ فِي إذا ¤ لَمْ يَصْلُحِ الّا ذَاكَ وَالّلامَ خُذَا
Jar-kanlah! lafazh yg kedua (Mudhof Ilaih). Dan mengiralah! makna MIN atau FIY bilamana tidak pantas kecuali dengan mengira demikian. Dan mengiralah! makna LAM … <ke bait selanjutnya>.
لِمَا سِوَى ذَيْنِكَ واخصص أولا ¤ أو أعطه التعريف بالذي تلا
pada selain keduanya (selain mengira makna Min atau Fiy). Hukumi Takhshish bagi lafazh yg pertama (Mudhaf) atau berilah ia hukum Ta’rif sebab lafazh yg mengiringinya (Mudhaf Ilaih).
–••Ο••–
Setelah Bab Majrur sebab Huruf, selanjutnya Mushannif membahas tentang Majrur sebab Idhofah.
Pengertian Idhafah/Susunan Mudhaf dan Mudhof Ilaih adalah: Penisbatan secara Taqyidiyah (pembatasan) di antara dua lafazh yang mengakibatkan lafazh terakhir selalu di-jar-kan.
Contoh kita mengatakan:
كتاب
KITABUN* = Kitab/Buku
*Lafazh KITAABUN di sini masih bersifat Mutlak/umum belum ada Taqyid/pembatasan.
Contoh apabila kita berkata:
كتاب زيد
KITAABU ZAIDIN* = Kitab/Buku Zaid
•    Lafazh KITAABU = Mudhof
•    Lafazh ZAIDIN = Mudhaf Ilaih
•    Dengan demikian terjadilah Taqyid/pembatasan sebab Idhafah yakni memudhofkan lafazh KITAABUN kepada lafazh ZAIDUN.
Apabila dikehendaki Isim mudhaf pada Isim lain, maka perhatikan hukum-hukum yg berkenaan dengan Idafah, sebagai berikut:
Hukum Idhafah Pertama:
Wajib membuang Tanwin pada akhir kalimah isim yg menjadi Mudaf. apabila sebelum dijadikan Mudof ia mempunyai Tanwin.
Contoh sebelum susunan Idofah:
ركبت سيارة جديدة
ROKIBTU SAYYAAROTAN JADIIDATAN* = aku mengendarai Mobil Baru
Contoh menjadi Mudhaf tanwinnya dibuang:
ركبت سيارة زيد
ROKIBTU SAYYAAROTA ZAIDIN* = aku mengendarai Mobilnya Zaid.
Juga wajib membuang NUN pada akhir Isim Mutsanna, Jamak Mudzakkar Salim, dan Mulhaq-mulhaqnya, apa dimudhofkan. yaitu huruf NUN yg mengiringi huruf Tanda I’rob (yakni Nun yg ada setelah Wawu/Ya’ pada Jamak Mudzakkar Salim, atau Alif/Ya’ pada Isim Tatsniyah). contoh:
يسير الناس على جانبي الشارع
YASIIRUN-NAASA ‘ALAA JAANIBAYISY-SYAARI‘* = orang-orang berjalan di dua sisi pinggir jalan raya.
حاملو العلم محترمون
HAAMILUL-’ILMI MUHTAROMUUN* = orang yg punya ilmu mereka dihormati.
Jika Huruf NUNnya bukan Nun Tatsniyah atau Nun Jamak yakni bukan Nun yg mengiringi Huruf tanda I’rob, maka tidak boleh membuangnya. contoh:
المحافظة على الصلاة عنوانُ الاستقامة
AL-MUHAAFAZHOTU ‘ALASH-SHOLAATI ‘UNWAANUL-ISTIQOOMAH* = menjaga sholat adalah pertanda istiqomah.
Hukum Idofah Kedua:
I’rob Jar bagi Mudhaf Ilaih. Adapun amil Jar-nya adalah lafazh yg menjadi Mudhaf -demikian menurut Qoul yg shahih- alasannya: Lafazh Dhamir yg menjadi Mudhaf Ilaih dapat bersambung langsung dengan lafazh yg menjadi Mudhaf, yang mana dhamir tsb tidak akan bersambung kecuali kepada Amilnya, contohnya:
كتابك جديد
KITAABUKA JADIIDUN = Kitabmu baru.
Hukum Idhafah ketiga:
Wajib menyimpan Huruf Jar Asli yg ditempatkan antara Mudhaf dan Mudhaf Ilaih. Untuk memperjelas hubungan pertalian makna antara Mudaf dan Mudhaf Ilaeh-nya. Huruf-huruf simpanan tersebut berupa MIN, FIY dan LAM.
1. Idhafah menyimpan makna huruf MIN Lil-Bayan apabila Mudhaf Ilaih-nya berupa jenis dari Mudhaf. contoh:
خاتمُ ذهبٍ
KHOOTAMU DZAHABIN = cincin dari emas
Takdirannya adalah KHOOTAMUN MIN DZAHABIN’
2. Idhafah menyimpan makna huruf FIY Liz-Zharfi apabila Mudhaf Ilaih-nya berupa Zhorof bagi lafazh Mudhof. contoh:
عثمان شهيد الدار
‘UTSMAANU SYAHIIDUD-DAARI = Utsman Ra. adalah seorang yg mati Syahid di rumah.
Takdirannya adalah ‘UTSMAANU SYAAHIDUN FID-DAARI.
Atau berupa Zharaf Zaman.
Contoh ayat dalam Al-Qur’an:
بَلْ مَكْرُ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ
BAL MAKRUL-LAILI WAN-NAHAARI = “(Tidak) sebenarnya tipu daya(mu) di waktu malam dan siang (yang menghalangi kami) (QS. Saba’ : 33)
Takdirannya MAKRUN FIL-LAILI.
لِلَّذِينَ يُؤْلُونَ مِنْ نِسَائِهِمْ تَرَبُّصُ أَرْبَعَةِ أَشْهُرٍ
LILLADZIINA YU’LUUNA MIN-NISAA’IHIM TAROBBUSHU ARBA’ATI ASYHURIN = Kepada orang-orang yang meng-ilaa’ isterinya diberi tangguh empat bulan (lamanya). (QS. Al-Baqarah :226)
Takdirannya TAROBBUSHUN FIY ARBA’ATI ASYHURIN.
3. Idhafah menyimpan makna huruf LAM apabila tidak bermakna MIN atau FIY. contoh:
هذا كتاب زيد
HADZAA KITAABU ZAIDIN = ini kitab milik Zaid
Takdirannya: HADZAA KITAABUN LI ZAIDIN.
LAM berfungsi sebagai Lil-Mulk/Lil-Ikhtishosh Kepemilikan/Kewenangan.
Demikian Hukum-hukum yg berhubungan dengan Idhafah maknawi belum Idhofah Lafzhi yg akan dijelaskan pada bait-bait selanjutnya, berikut hukum-hukum Idhofah yg belum disebut disini.
أبْنِيَةُ أسْمَاءِ الْفَاعِلِينَ والْمَفعُولِينَ وَالصَّفاتِ المُشَبَّهةِ بِهَا
Bentuk-bentuk Isim Fa’il, Isim Maf’ul dan Sifat Musyabbahah
كَفَاعِلٍ صُغ اسْمَ فَاعِلٍ إذَا ¤ مِنْ ذِي ثَلَاثَةٍ يَكُونُ كَغَذَا
Bentuklah Isim Fa’il seperti wazan FAA’ILUN, apabila berupa Fi’il Tsulatsi. Contoh: GHODZAA (bentuk Isim Fa’ilnya GHOODIN asalnya GHOODIWUN)
وَهُوَ قَلِيلٌ فِي فَعُلْتُ وَفَعِلْ ¤ غَيْرَ مُعَدَّى بَلْ قِيَاسُهُ فَعِلْ
Isim Fa’il wazan FAA’ILUN tersebut jarang digunakan pada Fi’il wazan FA’ULA (dhommah’ain fiilnya) dan Fi’il wazan FA’ILA (karoh ‘ain fiilnya) yang tidak Muta’addi, bahkan qias Isim Fa’ilnya berwazan FA’ILUN, <lanjut ke bait berikutnya).
وَأفْعَلٌ فَعْلَانُ نَحْوُ أشِرِ ¤ وَنَحْوُ صَدْيَانَ وَنَحْوُ الأَجْهَرِ
atau wazan AF’ALUN atau wazan FA’LAANU. Contoh: ASYIRUN, SHODYAANU dan AJHARU. 
وَفَعْلٌ أوْلَى وَفَعِيلٌ بِفَعُلْ ¤ كَالضَّخْمِ وَالْجَمِيل وَالْفِعْلُ جَمُلْ
Isim Fa’il wazan FA’LUN dan FA’IILUN lebih utama untuk Fi’il wazan FA’ULA (dhommah ‘ain fi’ilnya). Contohnya DHOHMUN dan JAMIILUN Fi’ilnya berlafazh JAMULA 
وَأفعَلٌ فِيهِ قَلِيلٌ وَفَعَلْ ¤ وَبِسِوَى الْفَاعِلِ قَدْ يَغْنَى فَعَلْ
Adapun Isim Fa’il berwazan AF’ALUN dan FA’LUN pada Fi’il FA’ULA (dhommah ‘ain fi’ilnya) adalah jarang. Selanjutnya Fi’il wazan FA’ALA (fathah ‘ain fi’ilnya) terkadang cukup dengan bentuk Isim Fa’il selain wazan FAA’ILUN. 

–••Ο••–
Bab ini disimpulkan oleh Mushannif untuk menerangkan tentang wazan-wazan Isim Fa’il, Isim Maf’ul, juga Shifat Mushabbahah.
Abniyatu Asmaa’il Faa’iliina, menggunkan bentuk jamak mudzakkar salim (Faa’iliina) dimaksudkan adalah bentuk Isim subjek/pelaku yang didominasi oleh subjek berakal. Ash-shifaatil-Mushabbahati Bihaa, athaf kepada lafazh Asmaa’i, secara ringkas dapat diartikan bentuk sifat yang diserupakan Isim Fa’il dan Isim Maf’ul. Akan tetapi dijelaskan nanti pada Bab berikutnya yaitu Bab As-shifatul-Musyabbahatu bi Ismil-Faa’il. Dengan demikian dhamir “Bihaa” pada Bab ini menunjukkan bahwa Marji’nya hanya kepada Asmaa’il Faai’liina saja.
Sebelumnya telah dijelaskan bahwa Fi’il terbagi dua:
1. Fi’il Tsulatsi
2. Fi’il Ghair Tsulatsi
Disebutkan juga bahwa Fi’il Tsulatsi terdapat tiga wazan:
1. FA’ALA, Fathah ‘Ain Fi’ilnya, Muta’addi atau Lazim
2. FA’ILA, Kasroh ‘Ain Fi’ilnya, Muta’addi atau Lazim
3. FA’ULA, Dhommah ‘Ain, Lazim.
oOo
Berikut adalah Wazan-Wazan Isim Fa’il dan Sifat Mushabbahah:
1. Fi’il berwazan FA’ALA maka Isim Fa’ilnya ikut wazan FAA’ILUN, baik Muta’addi atau Lazim.
Contoh yang Muta’addi:
ضرب – ضارب. أخذ – آخذ
DHARABA-DHAARIBUN = Yang Memukul
AKHADZA-AAKHIDUN = Yang Mengambil
Contoh yang Lazim:
جلس – جالس. خرج – خارج
JALASA-JAALISUN = Yang Duduk
KHARAJA-KHAARIJUN = Yang Keluar
oOo
2. Fi’il berwazan FA’ILA maka Isim Fa’ilnya :
a. ikut wazan FAA’ILUN apabila Muta’addi. Contoh :
ركب – راكب. شرب – شارب
RAKIBA-RAAKIBUN = Yang Menunggang
SYARIBA-SYAARIBUN = Yang Meminum
b. Juga ikut wazan FAA’ILUN apabila Lazim tapi jarang. Contoh:
سلم – سالم. عقرت -عاقر
SALIMA-SAALIMUN = Yang Selamat/Sentosa
‘AQIRAT-’AAQIRUN = Yang Mandul
d. apabila Lazim paling banyak ikut wazan:
1. FA’ILUN (lk) FA’ILATUN (pr). biasanya menunjukkan tentang makna penyakit-penyakit jasmani atau tabiat atau sifat-sifat batin semisal kebahagiaan, kesedihan, kebaikan dll. Contoh:
فطِنَ – فَطِنٌ
FATHINA -FATHINUN = yang cerdas
فرح – فرِحٌ
FARIHA-FARIHUN = yang gembira
بَطِر – بَطِرٌ
BATHIRA-BATHIRUN = yang angkuh/tidak mensyukuri Nikmat.
وحَذِرَ – حَذِرٌ
HADZIRA-HADZRUN = yang berhati-hati/waspada
وتَعِب – تعب
TA’ABA-TA’IBUN = yang payah/cape‘
2. AF’ALA (lk) FA’LAA’A (pr). biasanya menunjukkan tentang makna keadaan bentuk corak atau warna atau cacat. Contoh:
حَمِر فهو أحمر
HAMIRA-AHMARA = yang merah
عرج فهو أعرج
‘ARIJA-A’RAJA = yang pincang
عور فهو أعور
‘AWIRA-A’WARA = yang jahat/tidak baik
كحل فهو أكحل
KAHILA-AKHALA = yang hitam
oOo
3. Fi’il berwazan FA’ULA maka Isim Fa’ilnya :
a. juga ikut wazan FAA’ILUN tapi jarang. Contoh :
طهُر فهو طاهر
THAHURA-THAAHIRUN = yang bersih/suci
حمُضَ فهو حامض
HAMUDHA-HAAMIDHUN = yang masam
b. Yang banyak ikut wazan :
1. FA’LUN, contoh:
ضحُم – ضخْم
DHAKHUMA-DHAKHMUN = Yang Gemuk
شهُم – شهْم
SYAHUMA-SYAHMUN = yang tangkas/cekatan
صَعُب فهو صَعْب
SHA’UBA-SHA’BUN = yang sulit
2. FA’IILUN, contoh:
شرُف فهو شريف
SYARUFA – SYARIIFUN = yang mulia
نبل فهو نبيل
NABULA – NABIILUN = yang mulia
وقبُح فهو قبيح
QABUHA – QABIIHUN = yang jelek/tidak baik
c. sedikit ikut wazan :
1. AF’ALA, contoh:
خظب فهو أخظب
KHATZABA-AKHTHABA = yang merah kehitaman
2. FA’ALA, contoh:
حَسُن فهو حَسنٌ
HASUNA – HASANUN = yang bagus
وبَطُل فهو بطلٌ
BATHULA – BATHALUN = yang juara/pahlawan
o0o
Kadang-kadang ada Fi’il Ttsulatsi wazan FA’ALA (fathah ‘ain fi’ilnya) tercukupi tanpa mengikuti wazan Isim Fa’il FAA’ILUN, seperti contoh:
طاب فهو طيب
THAABA – THAYYIBUN = yang baik
شاخ فهو شيخ
SYAAKHA – SYAIKHUN = yang tua
شاب فهو أشيب
SYAABA – ASY-YABU = yang muda
oOo
Kemudian disebutkan oleh mushannif pada Bait diatas (lihat bait ke 458 dan 459). Dapat difahami bahwa Isim Fa’il wazan FAA’ILUN jarang digunakan untuk kedua Fi’il wazan FA’ULA dan juga FA’ILA, yakni bentuk wazan Isim Fa’il FAA’ILUN banyak digunakan pada selain kedua wazan fi’il FA’ULA dan FA’ILA. Selanjutnya dijelaskan bahwa bentuk Isim Fa’il dari keduanya berwazan FA’ALA, AF’ALA dan FA’LAANA. Dan dicontohkan dalam Bait oleh Mushannif dengan contoh sbb:
أشِرَ – أشِرٌ
ASYIRA – ASYIRUN = yang angkuh/tidak menyukuri Nikmat.
صَدِيَ – صديان
SYADIYA – SHADYAANU = yang kehausan
جَهِر – أجهر
JAHIRA – AJHARU = yang tak dapat melihat di siang hari


باب الاِسْتِغَاثَةُ
BAB ISTIGHATSAH
إذَا اسْتُغِيثَ اسْمٌ مُنَادَى خُفِضَا ¤ بِاللَّامِ مَفْتُوحاً كَيَا لَلْمُرْتَضَى
Apabila Isim Munada dibuat Istighotsah maka ia dijarkan oleh Lam istighatsah yg berharkat Fathah. Contoh “Yaa Lal-Murtadhaa” (Tolonglah wahai orang yg Diridhoi Allah!)
وَافْتَحْ مَعَ المَعْطُوفِ إنْ كَرَّرْتَ يَا ¤ وَفِي سِوَى ذَلِكَ بِالْكَسْرِ ائْتِيَا
Fathahkan juga Lam Istighasah yg menyertai Ma’thufnya jika kamu mengulang kata “Yaa”, selain daripada itu (tanpa mengulang Yaa pada Ma’thuf) maka gunakanlah Lam Istighotsah yg berharkat kasrah.
–••Ο••–
ISTIGHATSAH (minta pertolongan) : termasuk salah satu dari jenis Nida (panggilan/kata seru) yaitu menyeru pihak kedua agar membebaskan dari hal yg tidak diinginkan yg telah terjadi, atau menyerunya untuk menolak dari suatu yg tidak diinginkan agar tidak terjadi. Perangkat Istighotsah tersebut menggunakan kata “YAA”.
Contoh Istighatsah minta tolong untuk hal yg telah terjadi :
يا لَلنَّاس لِلغريق
YAA LAN-NAASI LIL GHARIIQI = wahai manusia, tolonglah orang yg tenggelam!
Contoh Istighatsah minta tolong menolak hal yg tidak diinginkan agar tidak terjadi :
يا لَلحراس لِلأعداء
YAA LAL-HURRAASI LIL-A’DAA’I = wahai pengawal, tolong awasi musuh-musuh!
Metode Istighotsah yg berfungsi sebagai permintaan tolong tersebut bisa terlaksana apabila telah memenuhi ketiga rukunnya yaitu:
1. Harus menggunakan Huruf Nida’ “YAA” bukan yg lainnya.
2. Isim yg menjadi Mustaghats Bih (pihak kedua yg dipintai pertolongan) dijarkan oleh Lam berharkat fathah selamanya, kecuali pada Mustaghats lain yg athaf pada Mustaghats pertama dengan tanpa mengulang huruf Nida’ “YAA”. Contoh:
يا لَلعلماء ولِلمصلحين لِلشباب
YAA LAL-’ULAMAA’I WA LIL-MUSLIHIINA LISY-SYABAABI = wahai para ulama dan aparat sosial, tolonglah generasi muda!.
lafazh AL-MUSHLIHIINA = asalnya bukan merupakan Mustaghots, karena tidak ada huruf Nida “Yaa” padanya, akan tetapi ia telah diathafkan pada lafazh “ULAMAA’I” maka makna Istighotsah juga dikandungnya.
Apabila pada Ma’thufnya mengulang kata “Yaa”, maka wajib Lamnya berharkat Fathah, contoh:
يا لَلوعاظ ويا لَلخطباء لِظاهرة السَّهَرِ
YAA LAL-WU’AAZHI WA YAA LAL-KHUTHOBAA’I LI ZHAAHIROTIS-SAHARI = wahai penceramah dan muballigh, tolong peringati wanita malam!
3. Isim yg menjadi Mustaghats Lah (pihak ketiga penyebab dipintanya pertolongan agar ditangani atau diberi bantuan) dijarkan oleh huruf “Lam” berharkat Kasroh seperti pada contoh-contoh diatas, atau dijarkan oleh huruf “Min”, seperti contoh:
يا لَلقاضي من شاهد الزور
YAA LAL-QODHIY MIN SYAAHIDIZ-ZUURI = wahai hakim, tolong hindari saksi palsu!
Ada beberapa pendapat Ulama Nuhat tentang status Lam yg terdapat pada Mustaghats Bih, pendapat terbaik adalah: bahwa Lam tsb adalah huruf Jar yg diharkati fathah untuk membedakan dengan Lam yg terdapat pada Mustaghats Lah.
Beberapa pendapat oleh ulama’ nuhat tentang status huruf “Lam” yg terdapat pada Mustaghats Bih. Namun pendapat yg terbaik bahwa Lam-lam tersebut adalah huruf jar. Penggunaan Lam fathah pada Mustaghats Bih untuk membedakan dengan lam kasrah pada Mustaghats Lah. Masing-masing kedua lam jar tersebut berikut majrurnya, berta’alluq pada huruf Nida’ “Yaa” sebagai pengganti Fi’il “ALTAJI’U” (aku minta tolong) atau Fi’il semacamnya.
Contoh i’robnya :
يا لَلعلماءِ لِلجهال
YAA LAL-’ULAMAA’I LIL-JUHHAALI = wahai para alim, tolonglah orang-orang bodoh!
YAA = huruf nida dan istighasah.
LAL-ULAMAA’I = LAM huruf Jar dan Istighotsah, ULAMAA’ Majrur, Jar dan Majrur berta’alluq pada YAA.
LIL-JUHHAALI = Jar dan Majrur juga berta’alluq pada YAA.
الاستثناء
AL-ISTITSNA’
مَا اسْتَثْنَتِ الاَّ مَعْ تَمَامٍ يَنْتَصِبْ ¤ وَبَعْدَ نَفْيٍ أَوْ كَنَفْيٍ انْتُخِبْ
lafazh Mustatsna oleh illa pada kalam tam hukumnya NASHOB. (Selain) jatuh sesudah Nafi atau Syibhu Nafi, dipilihlah hukum … <berlanjut>
إتْبَاعُ مَا اتَّصَلَ وَانْصِبْ مَا انْقَطَعْ ¤ وَعَنْ تَمِيمٍ فِيهِ إِبْدَالٌ وَقَعْ
TABI’ (jadi badal) bagi yg mustatsna muttashil dan harus NASHOB! bagi yang mustasna munqothi’. Menurut logat Bani Tamim, TABI’ BADAL juga berlaku pada yg mustatsna munqothi’.
–••Ο••–
PENGERTIAN ISTITSNA‘ adalah : Mengecualikan dengan adat ILLA atau satu dari saudara ILLA terhadap lafaz yang masuk dalam hukum lafazh sebelum ILLA baik pemasukan hukum tsb kategori hakiki atau taqdiri.
Contoh:
قرأت الكتاب إلا صفحةً
QORO’TU AL-KITAABA ILLA SHOFHATAN* = aku telah membaca kitab itu kecuali satu halaman.
*Lafazh “SHOFHATAN” dikeluarkan/dikecualikan dari hukum lafazh sebelum adat ILLA, yaitu hukum MEMBACA (lafazh QORO’TU), karena ia termasuk dalam hukum tersebut, pemasukan seperti ini disebut hakiki, karena SHOFHATAN bagian dari AL-KITAB. maka pengecualian seperti ini dinamakan MUSTATSNA MUTTASHIL.
Contoh:
جاء القوم إلا سيارةً
JAA’A AL-QOUMU ILLA SAYYAAROTAN* = Kaum itu telah datang kecuali mobil.
*lafazh “SAYYAAROTAN” jatuh sesudah adat ILLA, ia dikecualikan dari hukum lafazh yg ada sebelum ILLA, yaitu hukum datang (lafaz JAA’A). Andaikan tidak ada ILLA ia termasuk pada hukum datangnya Kaum, pemasukan seperti ini disebut Taqdiri, karena ” SAYYAAROTAN” bukanlah jenis dari Kaum. maka pengecualian seperti ini dinamakan MUSTATSNA MUNQOTHI’
ADAWAT ISTISNA semuanya ada delapan dibagi menjadi empat bagian:
1. Kalimah huruf > ILLA
2. Kalimah Isim > GHOIRU dan SIWAA
3. Kalimah Fi’il > LAISA dan LAA YAKUUNU
4. Taroddud antara Fi’il dan Huruf > KHOLAA, ‘ADAA, HASYAA (untuk HASYAA seringnya disebut kalimah Huruf)
USLUB ISTITSNAA‘ tersusun dari tiga bagian:
1. Al-Mustatsnaa (isim yg jatuh sesudah adat istitsna’)
2. Al-Mustatsna minhu (isim yang ada sebelum adat istitsnaa’)
3. Adatul-Istitsna’ (perangkat istitsna).
I’ROB MUSTATSNA pada umumnya adalah wajib Nashob ‘ala Istitsnaiyah, dengan syarat:
1. Berupa Kalam Tamm yaitu: kalam Istitsnaa dengan menyebut Mustatsna Minhu.
2. Berupa Kalam Mujab (kalimat positif) yaitu: tanpa Nafi atau Syibhu Nafi (Nahi, Istifham bimakna Nafi).
Dalam hal ini Mustatsna wajib Nashob tidak ada perbedaan antara yang Mustatsna Muttashil dan Munqathi’ sebagimana dua contoh diatas. Contoh Firman Allah:
فَشَرِبُوا مِنْهُ إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ
FA SYAARIBUU MINHU ILLA QOLIILAN MINHUM = Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka (QS. Al-Baqoroh : 249)
Juga tidak ada perbedaan antara penyebutan mustasna diakhirkan atau dikedepankan dari Mustatsna Minhu-nya, contoh:
حضر إلا علياً الأصدقاءُ
HADHORO ILLA ‘ALIYYAN AL-ASHDIQOO’U = teman-teman telah hadir kecuali Ali
((Apabila Kalam Ghoiru Tamm, yakni tanpa menyebut Mustasna Minhu, maka hukumnya akan diterangkan pada bait selanjutnya))
Apabila Kalam Tam tersebut Ghoiru Mujab atau Manfi (kalimat negatif) yakni memakai Nafi atau Syibhu Nafi, maka dalam hal ini terbagi dua:
1. Jika berupa MUSTASNA MUTTASHIL, maka boleh dibaca dua jalan: Nashob sebab Istitsnaa’ atau Tabi’ mengikuti I’rob al-Mustatsna Minhu. Contoh:
لا تعجبني الكتُب إلا النافع
LAA TU’JIBUNII AL-KUTUBU ILLAA ANNAAFI’U/ANNAAFI’A* = Kitab-kitab itu tidak membuatku kagum kecuali kemanfa’atannya.
*lafzh ANNAAFI’U/ANNAAFI’A manshub sebab Istisna, atau marfu’ sebab Tabi’ menjadi Badal dari Al-Mustatsna Minhu (AL-KUTUBU). Contoh Firman Allah:
وَالَّذِينَ يَرْمُونَ أَزْوَاجَهُمْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُمْ شُهَدَاءُ إِلَّا انفســهم
WAL-LADZIINA YARMUUNA AZWAAJAHUM WA LAM YAKUN LAHUM SYUHADAA’U ILLAA ANFUSU HUM* = Dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri (QS. Annur :6)
*Qiro’ah Sab’ah membaca lafazh ANFUSU dengan Rofa’, selain pada Al-Qur’an ia boleh dibaca Nashob. Namun bacaan al-Qur’an sunnah mengikuti bacaan Mereka. Dan contoh Firmannya:
وَلَوْ أَنَّا كَتَبْنَا عَلَيْهِمْ أَنِ اقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ أَوِ اخْرُجُوا مِنْ دِيَارِكُمْ مَا فَعَلُوهُ إِلَّا قَلِيلٌ مِنْهُمْ
WA LAU ANNAA KATABNAA ‘ALAIHIM AN-IQTULUU ANFUSAKUM AW-IKHRUJUU MIN DIYAARIKUM MAA FA’ALUUHU ILLAA QOLIILUN MINHUM*
Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka: “Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu”, niscaya mereka tidak akan melakukannya kecuali sebagian kecil dari mereka (QS. Annisaa’ : 66)
*Qiro’ah Sab’ah selain Ibnu ‘Aamir membaca Rofa’ terhadap lafazh “QOLIILUN” sebagai Badal dari Fa’il dhamir Wau pada lafazh “FA’ALUUHU”. Sedangkan Ibnu ‘Aamir membaca “QOLIILAN” Nashob sebab Istitsna’.
2. Jika berupa MUSTASNA MUNQOTHI’, maka harus dibaca Nashob menurut jumhur mayoritas bangsa Arab. Contoh:
ما حضر الضيوفُ إلا سيارةً
MAA HADHORO ADH-DHUYUUFU ILLAA SAYYAAROTAN = tamu-tamu tidak hadir kecuali Mobil.
Contoh FirmanNya:
مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ
MAA LAHUM BIHII MIN ‘ILMIN ILLAA-TTIBAA’A-AZHZHONNI*
Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka (QS. An Nisaa’ : 157)
*Pada lafazh ITTIBAA’A, qiro’ah sab’ah membaca Nashob.
Sedangkan bangsa Arab Bani Tamim membaca Tabi’ atau ikut I’rob pada lafazh sebelum ILLA. Sekalipun al-Mustatsna bukan jenis bagian dari al-Mustatsna Minhu. Contoh :
ما حضر الضيوفُ إلا سيارة
MAA HADHORO ADH-DHUYUUFU ILLAA SAYYAAROTUN* = tamu-tamu tidak hadir kecuali Mobil.
*Lafazh “SAYYAAROTUN” dibaca rofa’ dijadikan Badal dari lafaz “ADH-DHUYUUFU”. Demikian ini shah karena kita boleh menyatakan:
حضر سيارة
HADHORO SAYYAAROTUN = Mobil hadir.
Apabila pernyataan dalam hal ini tidak shah, maka wajib dibaca Nashob, mufakat dari semua bangsa Arab. Contoh:
ما زاد المال إلا ما نقص
MAA ZAADA ALMAALA ILLAA MAA NAQOSHO* = harta tidak bertambah kecuali yang berkurang.
*lafazh MAA NAQOSHO (maushul dan shilah) wajib mahal Nashob, karena kita tidak boleh menyatakan:
زاد النقص
ZAADA AN-NAQSHU = kurang bertambah
إِنْ مُضْمَرُ اسْمٍ سَابِقٍ فِعْلاً شَغَلْ ¤ عَنْهُ بِنَصْبِ لَفْظِهِ أَوِ الْمحَلّ
Jika DHAMIR dari ISIM SABIQ (Isim yg mendahului dalam penyebutannya) merepotkan terhadap Fi’ilnya, tentang hal yang menashabkan lafazh Isim Sabik ataupun mahalnya.
فَالسَّابِقَ انْصِبْهُ بِفعْلٍ أُضْمِرَا ¤ حَتْماً مُوَافِقٍ لِمَا قَدْ أُظْهِرَا
Maka: nashabkanlah ISIM SABIK tersebut oleh FI’IL yang wajib disimpan dengan mencocoki terhadap FI’IL yang dizhahirkan.
–••Ο••–
Definisi ISTIGHOL menurut bahasa adalah: kesibukan.
Definisi ISYTIGHOL menurut istilah nahwu adalah: Mengedepankan Isim (Isim Sabiq) dan mengakhirkan Amilnya (Fi’il atau yg serupa pengamalannya) disibukkan tentang nashabnya Isim Sabiq, sebab Amil tsb sudah beramal pada dhamir yg merujuk pada Isim Sabiq atau pada Sababnya (lafazh mudhaf pada dhamir Isim Sabiq).
Contoh Isytighal Fi’il/Amil beramal pada Dhamir yg merujuk pada Isim Sabiq:
زيدا ضربته
ZAIDAN DHOROBTU HU = Zaid, aku memukulnya*
زيدا مررت به
ZAIDAN MARORTU BIHII =Zaid, aku berpapasan dengannya*
* Seandainya Dhamir pada contoh-contoh diatas ditiadakan, niscaya Amil/Fi’il tsb beramal pada Isim Sabik sebagai Maf’ulnya yg dikedepankan, atau Mu’allaqnya yg dikedepankan.
Contoh Istighal Fi’il/Amil beramal pada Sabab Dhamir yg merujuk pada Isim Sabiq:
زيدا ضربت ابنه
ZAIDAN DHOROBTU IBNA HU = Zaid, aku memukul anaknya.


Tulisan tangan Bahauddin Ibnu 'Aqil (694-769 H). Syarah Ibnu 'Aqil 'ala Alfiyah. Sumber: www.mahaja.com

Rukun-rukun dalam susunan kalimat ISYTIGHAL ada 3:
1. Masyghuulun ‘Anhu (lafazh yg dikedepankan/isim sabik)
2. Masyghuulun (Amil yg diakhirkan, Fi’il atau serupa Fi’il)
3. Masyghuulun Bihi (Dhamir/Sabab Dhamir yg merujuk pd Isim Saabiq)
Apabila terdapat kalimat dengan bentuk susunan rukun-rukun diatas, maka asalnya lafazh yg dikedepankan/isim sabiq tersebut boleh dibaca dua jalan:
1. Rofa’ sebagai Mubtada dan jumlah sesudahnya sebagai Khobarnya. Demikian yg ROJIH karena bebas dari masalah kira-kira/taqdir.
2. Nashob sebagai Maf’ul Bih bagi ‘Amil/Fi’il yg lafazhnya wajib dibuang ditafsiri dari ‘Amil/Fi’il yg lafaznya disebutkan. Demikian yg MARJUH karena butuh terhadap kira-kira/taqdir (disinilah pembahasan ISYTIGHOL).
Fi’il yg terbuang harus ditafsiri dari Fi’il yg tersebut, baik dalam penafsiarannya mencocoki lafaz dan makna, atau mencocoki makna saja, ataupun tidak mencocoki lafaz dan makna tapi mencakup Fi’il yg tersebut. Contoh:
Contoh Fi’il yg dibuang ditakdiri mencocoki lafaz dan makna:
زيدا ضربته
ZAIDAN DHOROBTU HU = Zaid, aku memukulnya
Taqdirannya adalah:
ضربت زيدا ضربته
DHOROBTU ZAIDAN DHOROBTU HU = aku memukul Zaid yakni aku memukulnya
Contoh Fi’il yg dibuang ditakdiri mencocoki makna saja:
زيدا مررت به
ZAIDAN MARORTU BI HII = Zaid, aku berpapasan dengannya
Taqdirannya adalah:
جاوزت زيدا مررت به
JAAWAZTU ZAIDAN MARORTU BI HII = aku lewat bertemu Zaid yakni aku berpapasan dengannya.
Contoh Fi’il yg dibuang ditakdiri tidak mencocoki lafaz dan makna tapi mencakup:
زيدا ضربت ابنه
ZAIDAN DHOROBTU IBNA HU = Zaid, aku memukul anaknya.
Taqdirannya adalah:
أهنت زيدا ضربت ابنه
AHANTU ZAIDAN DHOROBTU IBNA HU = aku menghinakan Zaid yakni aku memukul anaknya*
* maka dengan demikian jumlah fi’liyah yang ada setelah Isim Sabiq tersebut disebut jumlah tafsiriyah la mahalla lahaa minal I’roob (tidak punya I’rob).
سِوَاهُمَا الْحَرْفُ كَهَلْ وَفِي وَلَمْ ¤ فِعْـــلٌ مُـضَــارِعٌ يَلِي لَمْ كَـيَشمْ
Selain keduanya (ciri Isim dan Fi’il) dinamaan Kalimah Huruf, seperti lafadz Hal, Fi, dan Lam. Ciri Fi’il Mudhori’ adalah dapat mengiringi Lam, seperti lafadz Lam Yasyam.
وَمَاضِيَ الأَفْعَالِ بِالتَّا مِزْ وَسِمْ ¤ بِالنُّـــوْنِ فِعْلَ الأَمْرِ إِنْ أَمْرٌ فُهِمْ
Dan untuk ciri Fi’il Madhi, bedakanlah olehmu! dengan tanda Ta’. Dan namakanlah Fi’il Amar! dengan tanda Nun Taukid (sebagi cirinya) apabila Kalimah itu menunjukkan kata perintah.
وَالأَمْرُ إِنْ لَمْ يَكُ لِلنّوْنِ مَحَلْ ¤ فِيْهِ هُوَ اسْمٌ نَحْوُ صَهْ وَحَيَّهَلْ
Kata perintah jika tidak dapat menerima tempat untuk Nun Taukid, maka kata perintah tersebut dikategorikan Isim, seperti Shah! dan Hayyahal!
Pembagian Kalimah Huruf dan Ciri-Cirinya
Kalimah Huruf dapat dibedakan dengan Kalimah-Kalimah yang lain, yaitu Kalimat selain yang dapat menerima tanda Kalimah Isim dan tanda Kalimat Fi’il, atau Kalimat yang tidak bisa menerima tanda-tanda Kalimat Isim dan Fi’il. Kemudian dicontohkannya dengan Lafad هل, في, dan لم , ketiga contoh Kalimat Huruf tsb menunjukkan penjelasan bahwa Kalimat Huruf terbagi menjadi dua:

Alfiyah Bait 12-13-14
•    Kalimah Huruf Ghair Mukhtash (Tidak Khusus), bisa masuk pada Kalimat Isim, juga bisa masuk pada Kalimat Fi’il. Contoh هل :
هَلْ زَيْدٌ قَائِمٌ وَهَلْ قَامَ زَيْدٌ
Apakah Zaid orang yg berdiri? Dan apakah Zaid telah berdiri?
Lafadz “HAL” yang pertama masuk pada Kalimat Isim dan “HAL” yang kedua masuk pada Kalimat Fi’il.
•    Kalimat Huruf Mukhtash (Khusus), khusus masuk pada Kalimat Isim contoh في, dan khusus masuk pada Kalimat Fiil contoh لم :
لَمْ يَقُمْ زَيْدٌ فِي الدَّارِ
Zaid tidak berdiri di dalam Rumah.
Pembagian Kalimah Fi’il dan Ciri-Cirinya
Bait diatas juga menenerangkan bahwa Kalimah Fi’il terbagi menjai Fi’il Madhi, Fi’il Mudhari’ dan Fi’il Amar berikut ciri masing-masing.
•    Dikatakan Fi’il Mudhori apabila pantas dimasuki لم  contoh:
لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ
Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan
•    Dikatakan Fi’il Madhi apabila pantas dimasuki Ta’ Fa’il dan Ta’ Ta’nits Sakinah contoh:
قَالَتْ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي
Balqis berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku”
•    Dikatakan Fi’il Amar apabila bentuknya menunjukkan perintah dan pantas menerima Nun Taukid contoh:
أَكْرِمَنَّ الْمِسْكِين
Sungguh hormatilah oranga miskin !
Apabila ada kalimah yang menunjukkan kata perintah tapi tidak pantas menerima Nun Taukid, maka kalimah tersebut digolongkan “Isim Fi’il” seperti lafadz حيهل menyuruh terima dan lafadz صه menyuruh diam, Contoh:
صَهْ إذَا تَكَلَّمَ غَيْرُكَ
Diamlah ! jika orang lain berbicara
صه dan حيهل keduanya disebut kalimat Isim sekalipun menunjukkan tanda perintah, perbedaannya adalah dalam hal tidak bisanya menerima Nun Taukid. Oleh karena itu tidak bisa dilafadzkan صهن atau حيهلن
Share this:
•   
•   
•   
•   
•   
•   
•   
•   
•   
•   
•   
Categories: Bait 12-13-14 Tag:Fi'il Amar, Fi'il Madhi, Fi'il Mudhori', Huruf Ghair Mukhtash, Huruf Mukhtash, Isim Fi'il, Kalimat Fi'il, Kalimat Huruf, Pembagian Kalimat, Tanda Kalimat
Bait 11. Tanda Kalimat Fi’il: Ta’ Fail, Ta’ Ta’nits Sukun, Ya’ Fail, Nun Taukid.
7 Agustus 2010 Ibnu Toha 14 komentar
بِتَا فَعَلْتَ وَأَتَتْ وَيَا افْعَلِي ¤ وَنُوْنِ أَقْبِلَنَّ فِعْـــلٌ يَنْجَلِي
Dengan tanda Ta’ pada lafadz Fa’alta dan lafadz Atat, dan Ya’ pada lafadz If’ali, dan Nun pada Lafadz Aqbilanna, Kalimah Fi’il menjadi jelas.

Matan Nazham Alfiyyah
Bait ini menjelaskan bahwa Kalimat Fi’il dibedakan dari Kalimah Isim dan Kalimah Huruf, dengan beberapa tanda-tanda pengenalnya sebagaimana disebutkan dalam bait syair, yaitu:
Ta’ Fail
Ta’ dalam contoh فَعَلْتَ dimaksudkan adalah Ta’ Fail mancakup:
•    Ta’ Fail untuk Mutakallim, Ta’ berharkat Dhommah contoh:
ضَرَبْتُ زَيْداً
Aku memukul Zaid.
•    Ta’ Fail untuk Mukhatab, Ta’ berharkat Fathah contoh:
ضَرَبْتَ زَيْداً
Engkau (seorang laki-laki) memukul Zaid.
•    Ta’ Fail untuk Mukhatabah, Ta’ berharkat Kasroh contoh:
ضَرَبْتِ زَيْداً
Engkau (seorang perempuan ) memukul Zaid.
Ta’ Ta’nits Sukun
Ta’ dalam contoh lafadz اَتَتْ Maksudnya adalah Ta’ Ta’nits yang Sukun. Contoh:
ضَرَبَتْ زَيْداً
Dia (seorang perempuan) memukul Zaid.
Menyebut  Ta’ Ta’nits Sukun untuk membedakan dengan Ta’ Ta’nits yang tidak sukun yang bisa masuk kepada Kalimat Isim dan Kalimat Hururf
•    Bisa masuk pada Kalimat Isim contoh:
هِيَ مُسْلِمَةٌ
Dia seorang Muslimah.
•    Bisa masuk kepada kalimat Huruf contoh:
وَلاَتَ حِينَ مَنَاصٍ
Ketika itu tidak ada tempat pelarian.
Ya’ Fa’il
Ya’ dalam contoh lafadz افْعَلِيْ dimaksudkan adalah Ya’ Fail mancakup:
•    Ya’ Fa’il pada Fi’il Amar. Contoh:
اضْرِبِيْ
Pukullah wahai seorang perempuan!
•    Ya’ Fa’il pada Fi’il Mudhori’, contoh:
تَضْرِبِيْنَ زَيْداً
Engkau (seorang perempuan) akan memukul Zaid.
Menyebut Ya’ If’aliy atau Ya’ Fail, dan tidak menyebut Ya’ Dhomir dikarenakan termasuk Ya’ Dhomir Mutakallim yang tidak Khusus masuk kepada Fi’il tapi bisa masuk kepada semua Kalimat contoh:
سَأَلَنِيْ اِبْنِيْ عَنِّيْ
Anakku menanyaiku tentang aku.
Nun Taukid
Nun dalam contoh lafadz أقْبِلَنَّ dimaksudkan adalah Nun Taukid mancakup:
•    Nun Taukid Khofifah tanpa Tansydid contoh:
لَنَسْفَعَنْ بِالنَّاصِيَةِ
Sungguh akan Kami tarik ubun-ubunnya.
•    Nun Taukid Tsaqilah memakai Tansydid contoh:
لَنُخْرِجَنَّكَ يَا شُعَيْبُ
Sunggah kami akan mengeluarkanmu wahai Syu’aib.
بِالجَرِّ وَالتّنْوِيْنِ وَالنِّدَا وَاَلْ ¤ وَمُسْنَدٍ لِلإسْمِ تَمْيِيْزٌ حَصَلْ
Dengan sebab Jar, Tanwin, Nida’, Al, dan Musnad, tanda pembeda untuk Kalimat Isim menjadi berhasil.

Nadzom Alfiyah
Pada Bait ini, Mushannif menyebutkan tentang Tanda-tanda Kalimat Isim (Kata Benda). Sebagai ciri-cirinya untuk membedakan dengan Kalimat yang lain (Kalimat Fi’il/Kata Kerja dan Kalimat Huruf/Kata Tugas). Diantaranya adalah: Jar, Tanwin, Nida’, Al (Alif dan Lam) dan Musnad.
Jarr جر
Tanda Kalimat Isim yang pertama adalah Jar, mencakup: Jar sebab Harf, Jar sebab Idhafah dan Jar sebab Tabi’. Contoh:
مَرَرْتُ بغُلاَمِ زَيْدٍ الفَاضِلِ
Aku berjumpa dengan Anak Lelakinya Zaid yang baik itu.
Lafadz غلام dikatakan Jar sebab Harf (dijarkan oleh Kalimah Huruf), Lafadz زيد dikatakan Jar sebab Idhafah (menjadi Mudhaf Ilaih), dan Lafadz الفاضل dikatakan Jar sebab Tabi’ (menjadi Na’at/Sifat). Hal ini menunjukkan bahwa perkataan Mushannif lebih mencakup dari Qaul lain yang mengatakan bahwa tanda Kalimat Isim sebab Huruf Jarr, karena ini tidak mengarah kepada pengertian Jar sebab Idhafah dan Jar sebab Tabi’.
Tanwin تنوين
Tanda Kalimat Isim yang kedua adalah Tanwin. Tanwin adalah masdar dari Lafadz Nawwana yang artinya memberi Nun secara bunyinya bukan tulisannya. Sebagai tanda baca yang biasanya ditulis dobel ( اً-اٍ-اٌ ). Di dalam Ilmu Nahwu, Tanwin terbagi empat macam:
•    Tanwin Tamkin: yaitu Tanwin standar yang pantas disematkan kepada Kalimat-kalimat Isim yang Mu’rab selain Jamak Mu’annats Salim dan Isim yang seperti lafadz جوار dan غواش (ada pembagian khusus). Contoh: زيد dan رجل di dalam contoh:
جَاءَ زَيْدٌ هُوَ رَجُلٌ
Zaid telah datang dia seorang laki-laki
•    Tanwin Tankir: yaitu Tanwin penakirah yang pantas disematkan kepada Kalimat-kalimat Isim Mabni sebagai pembeda antara Ma’rifahnya dan Nakirahnya. Seperti Sibawaeh sang Imam Nahwu (yang Makrifah) dengan Sibawaeh yang lain (yang Nakirah). Contoh:
مَرَرْتُ بِسِبَوَيْهِ وَبِسِبَوَيْهٍ آخَرَ
Aku telah berjumpa dengan Sibawaeh (yang Imam Nahwu) dan Sibawaeh yang lain.
•    Tanwin Muqabalah: yaitu Tanwin hadapan yang pantas disematkan kepada Isim Jamak Mu’annats Salim (Jamak Salim untuk perempuan). Karena statusnya sebagai hadapan Nun dari Jamak Mudzakkar Salimnya (Jamak Salim untuk laki-laki). Contoh:
أفْلَحَ مُسْلِمُوْنَ وَمُسْلِمَاتٌ
Muslimin dan Muslimat telah beruntung.
•    Tanwin ‘Iwadh: atau Tanwin Pengganti, ada tiga macam:
◊ Tanwin Pengganti Jumlah: yaitu Tanwin yang pantas disematkan kepada Lafadz إذ sebagai pengganti dari Jumlah sesudahnya. Contoh Firman Allah:
وَأنْتُمْ حِيْنَئِذٍ تَنْظًرُوْنَ
Kalian ketika itu sedang melihat.
Maksudnya ketika nyawa sampai di kerongkongan. Jumlah kalimat ini dihilangkan dengan mendatangkan Tanwin sebagai penggantinya.
◊  Tanwin Pengganti Kalimah Isim: yaitu Tanwin yang pantas disematkan kepada Lafadz كل sebagai pengganti dari Mudhaf Ilaihnya. Contoh:
كَلٌّ قَائِمٌ
Semua dapat berdiri.
Maksudnya Semua manusia dapat berdiri. Kata manusia sebagai Mudhaf Iliahnya dihilangkan dan didatangkanlah Tanwin sebagai penggantinya.
◊  Tanwin Pengganti Huruf: yaitu Tanwin yang pantas disematkan kepada lafadz جوار dan غواش dan lain-lain sejenisnya, pada keadaan I’rab Rafa’ dan Jarrnya. Contoh:
هَؤُلاَءِ جَوَارٍ. وَمَرَرْتُ بِجَوَارٍ
Mereka itu anak-anak muda. Aku berjumpa dengan anak-anak muda.
Pada kedua  lafadz جوار asal bentuknya جواري kemudian Huruf Ya’ nya dibuang didatangkanlah Tanwin sebagai penggantinya.
Pembagian macam-macam Tanwin yang telah disebutkan di atas, merupakan Tanwin yang khusus untuk tanda Kalimat Isim. Itulah yang dmaksudkan dari kata Tanwin dalam Bait tsb, yaitu Tanwin Tamkin, Tanwin Tankir, Tanwin Muqabalah dan Tanwin ‘Iwadh.
Adapun Tanwin Tarannum/Taronnum dan Tanwin Ghali, yaitu Tanwin yang pantas disematkan kepada Qofiyah atau kesamaan bunyi huruf akhir dalam bait-bait syair Bahasa Arab. Tidak dikhususkan untuk Kalimat Isim saja, tapi bisa digunakan untuk Kalimat Fi’il dan juga untuk Kalimat Harf.
Nida’ نداء
Tanda Kalimat Isim yang ketiga adalah Nida’. Yaitu memanggil dengan menggunakan salah satu kata panggil atau Huruf Nida’ berupa يا dan saudara-saudaranya. Huruf Nida dikhususkan kepada Kalimat Isim karena Kalimat yang jatuh sesudah Huruf Nida’ (Munada) statusnya sebagai Maf’ul Bih. Sedangkan Maf’ul Bih hanya terjadi kepada Kalimat Isim saja. Contoh:
يَا رَسُوْلَ اللهِ
Wahai Utusan Allah.
AL أل
Tanda Kalimat Isim yang keempat berupa AL أل atau Alif dan Lam. Yaitu AL yang fungsinya untuk mema’rifatkan dan AL Zaidah. Contoh:
رَجَعَ الرَجُلُ مِنَ المَكَّةَ
Orang laki-laki itu telah pulang dari kota Mekkah.
AL pada Lafadz الرَجُلُ dinamakan AL Ma’rifat, sedang AL pada Lafadz المَكَّةَ dinamakan AL Zaidah. Sedangkan AL yang selain disebut di atas, tidak khusus masuk kepada Kalimat Isim. seperti AL Isim Maushul yang bisa masuk kepada Kalimat Fi’il Mudhori’, dan AL Huruf Istifham yang bisa masuk kepada Fi’il Madhi.
Musnad  مسند
Tanda Kalimat Isim yang kelima adalah Musnad. Artinya yang disandar atau menurut Istilah yang  dihukumi dengan suatu hukum. Contoh:
قَاَمَ زَيْدٌ وَ زَيْدٌ قَائِمٌ
Zaid telah berdiri dan Zaid adalah orang yang berdiri.
Kedua Lafadz زيد pada contoh di atas merupakan Musnad atau yang dihukumi dengan suatu hukum, yaitu hukum berdiri.  Hukum berdiri pada lafadz Zaid yang pertama adalah Kata Kerja dam Hukum berdiri untuk Lafadz Zaid yang kedua adalah Khabar.
الْكَلاَمُ وَمَا يَتَألَّفُ مِنْهُ
Bab Kalam dan Sesuatu yang Kalam tersusun darinya
كَلاَمُــنَا لَفْــظٌ مُفِيْدٌ كَاسْــتَقِمْ ¤ وَاسْمٌ وَفِعْلٌ ثُمَّ حَرْفٌ الْكَلِمْ
Kalam (menurut) kami (Ulama Nahwu) adalah lafadz yang memberi pengertian. Seperti lafadz “Istaqim!”. Isim, Fi’il dan Huruf adalah (tiga personil) dinamakan Kalim
وَاحِدُهُ كَلِمَةٌ وَالْقَوْلُ عَمْ ¤ وَكَلْمَةٌ بِهَا كَلاَمٌ قَدْ يُؤمْ
Tiap satu dari (personil Kalim) dinamakan Kalimat. Adapun Qaul adalah umum. Dan dengan menyebut Kalimat terkadang dimaksudkan adalah Kalam

Kitab Nadzom Alfiyyah KLIK DOWNLOAD
KALAM
Definisi Kalam menurut Istilah Ulama Nahwu adalah Sebutan untuk Lafadz yang memberi pengertian satu faedah yaitu baiknya diam. Sehingga yang berkata dan yang mendengar mengerti tanpa timbul keiskalan.
•    Lafadz adalah nama jenis yang mencakup Kalam, Kalim, atau Kalimat, termasuk yang Muhmal (tidak biasa dipakai) ataupun yang Musta’mal (biasa dipakai) contoh perkataan Muhmal: دَيْزٌ Daizun, tidak mempunyai arti. Contoh perkataan Musta’mal عَمْرٌو ‘Amrun, ‘Amr nama orang.
•    Mufid (yang memberi pengertian) untuk mengeluarkan Lafdz yang Muhmal, atau hanya satu Kalimat, atau Kalim yang tersusun dari tiga kalimat atau lebih tapi tidak memberi pengertian faedah baiknya diam, seperti Lafadz: اِنْ قَامَ زَيْدٌ Apabila Zaid berdiri.
Susunan Kalam pada dasarnya Cuma ada dua: 1. ISIM + ISIM, 2. FI’IL + ISIM. Contoh pertama: زيد قائم Zaid orang yg berdiri. Contoh kedua قام زيد Zaid telah berdiri. Sebagaimana contoh Kalam yang disebutkan oleh Mushannif pada baris baitnya, yaitu lafadz استقم ISTAQIM! Artinya: berdirilah! Pada lafadz ini terdiri dari Fiil ‘Amar dan Isim Fa’il berupa Dhomir Mustatir (kata ganti yang disimpan) FI’IL + ISIM takdirnya adalah استقم أنت ISTAQIM ANTA, artinya: berdirilah kamu! maka contoh ini memenuhi criteria untuk disebut Kalam yaitu lafadz yang memberi pengertian suatu faidah. Sepertinya Mushannif mendefinisikan kalam pada bait syairnya sebagai berikut: Kalam adalah Lafadz yang memberi pengertian suatu faidah seperti faidahnya lafadz استقم.

Bab Kalam Ibnu Aqil
KALIM
Adalah nama jenis yang setiap satu bagiannya disebut kalimat, yaitu: Isim, Fi’il dan Huruf. Jika Kalimat itu menunjukkan suatu arti pada dirinya sendiri tanpa terikat waktu, maka Kalimat tsb dinamakan KALIMAT ISIM. Jika Kalimat itu menunjukkan suatu arti pada dirinya sendiri dengan menyertai waktu, maka Kalimat tsb dinamakan KALIMAT FIIL. Jika Kalimat itu tidak menunjukkan suatu arti pada dirinya sendiri, melainkan kepada yang lainnya, maka Kalimat tsb dinamakan KALIMAT HURUF. Walhasil Kalim dalam Ilmu Nahwu adalah susunan dari tiga kalimat tsb atau lebih, baik berfaidah ataupun tidak misal: إن قام زيد jika Zaid telah berdiri.
KALIMAT
Adalah lafadz yang mempunyai satu makna tunggal yang biasa dipakai. Keluar dari definisi Kalimat adalah lafadz yang tidak biasa dipakai semisal دَيْزٌ Daizun. Juga keluar dari definisi Kalimat yaitu lafadz yang biasa dipakai tapi tidak menunjukkan satu makna, semisal Kalam.
QAUL
Adalah mengumumi semua, maksudnya termasuk Qaul adalah Kalam, Kalim juga Kalimat. Ada sebagian ulama berpendapat bahwa asal mula pemakaian Qaul untuk Lafadz yang mufrad (tunggal).
Selanjutnya Mushannif menerangkan bahwa menyebut Kalimat terkadang yang dimaksudkan adalah kalam. Seperti lafadz لا إله إلا الله Orang Arab menyebut Kalimat Ikhlash atau Kalimat Tahlil.
Sebutan Kalam dan Kalim, terkadang keduanya singkron saling mencocoki satu sama lain, dan terkadang tidak. Contoh yang mencocoki keduanya: قد قام زيد Zaid benar-benar telah berdiri. contoh tersebut dinamakan Kalam karena memberi pengertian, mempunyai faidah baiknya diam. Dan juga dinamakan Kalim karena tersusun dari ketiga personil Kalimat. Contoh hanya disebut Kalim: إن قام زيد Apabila Zaid berdiri. Dan contoh hanya disebut Kalam: زيد قائم Zaid orang yang berdiri.
Referensi: Kitab Syarah Ibnu Aqil
Site Url: Syarah Ibni ‘Aqil Li Alfiyyah Ibni Malik Page 6-7
المفعول فيه وهو المسمى ظرفا
Bab Maf’ul Fih yg disebut Zharaf
اَلظَّرْفُ وقتٌ أَوْ مَكَانٌ ضُمِّنَا ¤ فِي بِاطِّرَادٍ كَهُنَا امْكُثْ أَزْمُنَا
Zhorof adalah waktu atau tempat yg menyimpan makna “FI/di” secara Muth-thorid/kontinu, contoh: “UMKUTS HUNAA AZMUNAA” = “tinggalah di sini beberapa waktu..!”
–••Ο••–
Pengertian Maf’ul Fih atau Zhorof adalah: Isim Zaman atau Isim Makan yg menyimpan makna FI/di secara Muththorid/kontinu.
Contoh Maf’ul Fih dari Isim Zaman:
سافرت يوم الخميس
SAAFARTU YAUMAL-KHOMISI = aku bepergian di hari kamis.
Contoh Maf’ul Fihi dari Isim Makan:
صليت خلف مقام إبراهيم
SHOLLAITU KHOLFA MAQOOMI IBROOHIIM = aku shalat di belakang Maqom Ibrohim.
Lafazh YAUMA Isim Zaman dan Lafazh KHOLFA Isim Makan, keduanya menyimpan makna FI/DI. Disebut Zharaf Zaman karena menerangkan waktu pekerjaan terjadi, dan disebut Zhorof Makan menerangkan tempat pekerjaan terjadi.
Disyaratkan juga bahwa Isim Zaman atau Isim Makan tersebut harus Muththorid dalam menyimpan makna FI/DI yakni tetap permanen menyimpan makna FI dalam situasi berbagai macam pekerjaan/fi’il yg masuk, seperti contoh:
سافرت أو قدمت أو صمت أو خرجت يوم الخميس
Aku bepergian, datang, puasa, keluar,… DI HARI KAMIS.
Contoh Maf’ul Fih-Zhorof Zaman/Makan, dalam Al-Qur’an:
أَرْسِلْهُ مَعَنَا غَدًا يَرْتَعْ وَيَلْعَبْ
Biarkanlah dia pergi bersama kami besok pagi, agar dia (dapat) bersenang-senang dan (dapat) bermain-main (QS Yusuf :12)
وَلِتُنْذِرَ أُمَّ الْقُرَى وَمَنْ حَوْلَــها
dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) Ummul Qura (Mekah) dan orang-orang yang di luar lingkungannya. (QS. Al-An’am :92)
1. Keluar dari definisi Isim Zaman atau Isim Makan, yaitu kalimah yg juga menyimpan makna FI tapi bukan Isim Zaman dan bukan Isim Makan. Contoh FirmanNya:
وَتَرْغَبُونَ أَنْ تَنْكِحُوهُنَّ
WA TARGHOBUUNA AN TANKIHUUHUNNA
sedang kamu ingin mengawini mereka (QS. Annisa’ :127)
lafazh ” AN TANKIHUUHUNNA” adalah kalimah ta’wil masdar yg menyimpan makna FI/di. Karena takdir ta’wil masdarnya adalah: وترغبون في نكاحهن = WA TARGHOBUUNA FI NIKAAHIHINNA.
Maka lafazh ” AN TANKIHUUHUNNA” tidak nashob sebagai Zharaf karena bukan Isim Zaman dan bukan Isim Makan.
2. Keluar dari definisi menyimpan makna FI/di, yaitu Isim Zaman/Makan yg tidak menyimpan makan FI/di. Demikian apabila terjadi sebagai Mubtada’ atau Khobar atau Maf’ul Bih, dll. Contoh:
يوم الجمعة يوم مبارك
YAUMUL JUM’ATI YAUMUN MUBAAROK = Hari Jum’at adalah Hari yg diberkati.
Kedua Lafazh “YAUMU” pertama sebagai Mubtada’ dan kedua sebagai Khobar.
Contoh Firman Allah:
وَأَنْذِرْهُمْ يَوْمَ الْآزِفَةِ
WA ANDZIRHUM YAUMAL-AAZIFAH* = Berilah mereka peringatan dengan hari yang dekat (hari kiamat) (QS. Al-mu’min : 18)
*lafazh “YAUMA” dinashobkan sebagai Maf’ul Bih oleh Fi’il “ANDHIR”
3. Keluar dari definisi secara Muththorid/kontinu yaitu Isim Zaman/Makan yg tidak Muththorid dalam menyimpan makna FI/DI. Contoh:
دخلت البيت و سكنت الدار
DAKHOLTU AL-BAITA, WA SAKANTU AD-DAARO = aku masuk kedalam rumah, aku tinggal di rumah.
Lafazh “AL-BAITA” dan “AD-DAARO” adalah Isim Makan menyimpan makna FI tapi tidak Muththorid/kontinu yakni tidak pantas menyimpan FI untuk semua Fi’il yg masuk, kerena itu tidak boleh mengatakan: نمت البيت – جلست الدار NIMTU AL-BAITA – JALASTU AD-DAARO dengan maksud menyimpan makna FI. Berbeda dengan masuknya fi’il “DAKHOLA” atau “SAKANA” yg mana keduanya terkadang berlaku muta’addi sindirinya dan terkadang berlaku muta’addi sebab huruf Jar. Maka Lafazh “AL-BAITA” dan “AD-DAARO” pada contoh (DAKHOLTU AL-BAITA, WA SAKANTU AD-DAARO) tidaklah nashob sebagai Zharaf akan tetapi sebagai Maf’ul Bih.
المفعول له
BAB MAF’UL LAH / MAF’UL LIAJLIH
يُنْصَبُ مَفْعُولاً لَه الْمصْدَرُ إِنْ ¤ أَبَانَ تَعْلِيلاً كَجُدْ شُكْراً وَدنْ
Mashdar dinashobkan menjadi Maf’ul Lah (syaratnya) jika ia menjelaskan Ta’lil (alasan/faktor), contoh “JUD SYUKRON WA DIN!” = bersikap baiklah karena bersyukur dan beragamalah! (dg taat)
وَهْو بِمَا يَعْمَلُ فِيهِ مُتَّحدْ ¤ وَقْتاً وَفَاعِلاً وَإنْ شَرْطٌ فُقِدْ
Juga Masdar yg menjadi Maf’ul Lah harus bersatu dengan Amilnya dalam hal waktu dan subjeknya. Dan jika tidak didapati syarat …. >
فَاجْرُرْهُ بِالْحَرْفِ وَلَيْسَ يَمْتَنِعْ ¤ مَعَ الشُّرُوطِ كَلِزُهْدٍ ذَا قَنِعْ
>.. maka majrurkan dengan huruf jar. Pemajruran ini juga tidak dilarang sekalipun Masdar tsb mencukupi Syarat seperti contoh: LI ZUHDIN DZAA QONI’A = dia ini qona’ah dikarenakan zuhud.
–••Ο••–
Pengertian Maf’ul Lah/Maf’ul Li Ajlih menurut bahasa adalah: objek yg menjadi faktor pekerjaan. Menurut Ilmu Nahwu adalah: Isim Masdar yang menjelaskan tentang faktor/alasan dari penyebutan Amil sebelumnya. Dan bersatu dalam hal waktu dan subjeknya.
Contoh Maf’ul Liajlihi / Maf’ul Lahu:
جئت رغبةً فيك
JI’TU RUGHBATAN FIIKA* = aku datang karena senang kepadamu.
*Pada contoh diatas lafal “RUGHBATAN”=SENANG adalah Isim Masdar yg difahami sebagai faktor bagi Amil/kata kerja lafal “JI’TU”=AKU DATANG. Secara maknanya contoh diatas berbunyi seperti ini:
جئت للرغبة فيك
JI’TUKA LIR-RUGHBATI FIIKA = aku datang karena senang kepadamu.
lafal “RUGHBATAN” Isim Masdar yang menjadi Maf’ul Lah, juga bersekutu dalam hal waktu dengan Amil lafal “JI’TU”, karena waktu aku senang, itulah waktu aku mendatanginya. Juga bersekutu dalam satu subjek yaitu satu Fa’il berupa Dhamir Mutakallim/aku.
Contoh Maf’ul Li Ajlihi/Lahu Fi’rman Allah:
وَالَّذِينَ صَبَرُوا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ
WALLADZIINA SHOBARU-BTIGHOO’A WAJHI ROBBIHIM* = Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya (QS Ar-Ro’du :22)
* lafal “IBTIGHOO’A” sebagai Maf’ul Lah/Liajlih.
Juga contoh FirmanNya:
لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ
LAU YARUDDUUNAKUM MIMBA’DI IIMAANIKUM KUFFAARON HASADAN MIN ‘INDI ANFUSIHIM* = agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri (Al-Baqoroh :109)
*lafal “KAFFAARON” menjadi HAL sebagai Amil, dan lafal “HASADAN” sebagai Maf’ul Lah.
Hukum I’rob Maf’ul Liajlih / Maf’ul lah adalah : BOLEH NASHOB sekiranya terdapat tiga syarat sebagimana tersirat dalam bait diatas, yaitu:
1.    Isim Mashdar
2.    Lit-Ta’lil/Penjelasan Faktor alasan
3.    Bersatu dengan Amilnya dalam satu Waktu dan satu Fa’il
Atau kalimah yg mencukupi tiga syarat tersebut juga BOLEH DIJARKAN dengan huruf jar Lit-Ta’lil.
Jika salah satu saja dari ketiga syarat ini tidak terpenuhi maka WAJIB DIJARKAN dengan huruf jar lit-Ta’lil berupa huruf LAM, MIN, FIY atau huruf BA’.
Contoh yang tidak memenuhi syarat Isim Mashdar:
جئتك للكتاب
JI’TU KA LIL KITAABI = aku mendatangimu karena kitab itu.
Contoh FirmanNya:
وَالْأَرْضَ وَضَعَهَا لِلْأَنَامِ
WAL ARDHO WADHO’AHAA LIL ANAAMI = Dan Allah telah meratakan bumi untuk makhluk(Nya). (Ar-Rahmaan :10).
Contoh yang tidak bersatu dengan Amilnya dalam hal satu Waktu:
جئتك اليوم للإكرام غداً
JI’TUKA ALYAUMA LIL IKROOMI GHODAN = aku mendatangimu hari ini untuk penghormatan esok hari.
Contoh yang tidak bersatu dengan Amilnya dalam hal satu Fa’il/Subjek:
جاء خالد لإكرام عليِّ له
JAA’A KHOOLIDUN LI IKROOMI ‘ALIYYUN LAHU = Khalid datang agar Ali menghormatinya.
Contoh FirmanNya:
أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ
AQIMISH-SHOLAATA LI DULUUKISY-SYAMSI* = Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir (Al-Isro’ :78)
*Perbedaan Fa’il/subjek dalam ayat ini adalah pada lafal “AQIM=DIRIKANLAH” subjeknya berupa dhamir wajib mustatir takdirannya ANTA/KAMU dan lafal “DULUUKI=TERGELINCIR” subjeknya berupa lafal “ASY-SYAMSI=MATAHARI” (kemiringan matahari dari tengah-tengah atas langit/zhuhur). Juga terdapat Perbedaan Waktu dalam ayat ini yaitu waktu mendirikan sholat tentunya lebih akhir dari waktu tergelincirnya Matahari.
Kalimah yg dijarkan oleh huruf-huruf jar tersebut, tidak di-I’rob sebagai Maf’ul Lah; karena Maf’ul Lah tersebut khusus bagi kalimah yg Nashob saja. Sekalipun demikian, secara makna keduannya tidak berbeda alias sama.
المفعول المطلق
BAB MAF’UL MUTHLAQ
اَلْمَصْدَرُ اسْمُ مَا سِوَى الزَّمَانِ مِنْ ¤ مَدْلُولَيِ الْفِعْلِ كَأَمْنٍ مِنْ أَمِنْ
MASHDAR adalah isim yang selain menunjukkan zaman dari dua penunjukan Fi’il (yakni yang menunjukkan pada huduts = kejadian). Seperti lafazh AMNI masdar dari Fi’il lafazh AMINA
بِمِثْلِهِ أَوْ فِعْلٍ أوْ وَصْفٍ نُصِبْ ¤ وَكَوْنُهُ أَصْلاً لِهذَيْنِ انْتُخِبْ
MASDAR dinashobkan oleh serupanya atau oleh FI’IL atau oleh SHIFAT. Keberadaan MASDAR  dipilih sebagai bentuk asal bagi keduanya ini.
–••Ο••–
Sebelumnya perlu kita ketahui bahwa Kalimah Fi’il (kata kerja) menunjukkan pada dua hal secara bersamaan yaitu:
•    Huduts (kejadian)
•    Zaman (waktu)

Manuskrip: Tulisan pertama Kitab Syarah Alfiyah Ibnu Malik oleh Jalaluddin As-Suyuthi. 221 Halaman. Sumber : http://www.mahaja.com/library/manuscripts/manuscript/682
Contoh kita mengatakan:
بذل الغني ماله في الخير
BADZALA AL-GHONIYYU MAALAHUU FIL-KHOIRI* = orang kaya itu telah mendermakan hartanya di dalam kebaikan.
* Lafal “BADZALA” adalah Kalimah Fi’il/Kata Kerja, menunjukkan dua hal: kejadian pendermaan dan waktu pendermaan, yakni kejadian pada waktu lampau karena berupa Fi’il Madhiy.
Selanjutnya, kalau kita mengatakan:
بذل المال في الخير نفع لصاحبه
BADZLUL-MAALI FIL-KHOIRI NAF’UN LI SHOOHIBIHII *= mendermakan harta di dalam kebaikan adalah kemanfaatan bagi si empunya harta.
* lafal “BADZLU” adalah kalimah Isim yang menunjukkan kejadian pendermaan tanpa penunjukan waktu, demikian juga pada lafal “NAF’UN”. Maka setiap Isim yang mencocoki terhadap Fi’il di dalam hal sama-sama menunjukkan kejadian akan tetapi berbeda karena tidak menunjukkan zaman, maka Isim tersebut dinamakan ISIM MASDAR. Jadi:
Pengertian Isim Mashdar adalah: Isim yang menunjukkan pada kejadian yang terlepas dari zaman.
Di sini Kiyai Mushonnif menyusun Bab tentang Maf’ul Muthlaq, beserta beliau mendefinisikan Isim Masdar pada awal Bait. Tiada lain karena Maf’ul Mutlaq umumnya terbuat dari Isim Mashdar. Ada juga yg tidak berupa Isim Masdar insyaAllah akan dijelaskan pada bait-bait selanjutnya.
Contoh Maf’ul Mutlaq berupa Isim Mashdar :
انتصر الحق انتصاراً
INTASHORO AL-HAQQU INTISHOORON = yang hak telah memperoleh kemenangan dengan sebenar-benar kemenangan.
Pengertian Maf’ul Muthlaq adalah: Isim yang dinashobkan sebagai pengokohan (taukid lafzhi) terhadap Amilnya atau menerangkan macamnya atau bilangannya.
Contoh Mashdar Maf’ul Muthlaq sebagai taukid:
ضربت ضربا
DHOROBTU DHORBAN = aku telah memukul dengan sebenar-benar pukulan
Contoh Mashdar Maf’ul Muthlaq penerangan jenis/macamnya:
سرت سير زيد
SIRTU SAIRO ZAIDIN = aku berjalan semacam jalannya Zaid.
Contoh Mashdar Maf’ul Muthlaq penerangan jumlah:
ضربت ضربتين
DHOROBTU DHORBATAINI = aku memukul sebanyak dua pukulan.
Hukum Masdar dalam hal ini adalah nashob, baik amil yg menashobkan berupa Isim Mashdar, Fi’il, atau Sifat.
Contoh Masdar dinashobkan oleh ISIM MASDAR :
فَإِنَّ جَهَنَّمَ جَزَاؤُكُمْ جَزَاءً مَوْفُورًا
maka sesungguhnya neraka Jahannam adalah balasanmu semua, sebagai suatu pembalasan yang cukup. (Al-Isro’ : 16)
Contoh Mashdar dinashobkan oleh FI’IL:
وَيُرِيدُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الشَّهَوَاتِ أَنْ تَمِيلُوا مَيْلًا عَظِيمًا
sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling dengan berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran). (An-Nisa’ : 27)
Contoh Masdar dinashobkan oleh SHIFAT:
وَالصَّافَّاتِ صَفًّا
Demi (rombongan) yang ber shaf-shaf dengan sebenar-benarnya. (Ash-Shooffaat : 1)
Menurut pendapat yg masyhur dan rojih: Isim Mashdar merupakan bentuk asal dari semua Kalimah Musytaq, baik Fi’il, Isim Fa’il, Isim Maf’ul, Sifah Musyabbahah, Isim Tafdhil, Isim Zaman, Isim Makan, Isim alat, semua itu dibentuk dari asal Isim Masdar. Contoh Isim Fa’il lafaz “AL-QOOIMU” hasil bentukan dari Masdar lafaz “AL-QIYAAMU”. Contoh Isim Alat lafaz “AL-MIFTAAHU” hasil bentukan dari Masdar lafaz “AL-FATHU” dan seterusnya.
وَأَيُّ فِعْــلٍ آخِرٌ مِنْهُ أَلِفْ ¤ أوْ وَاوٌ أوْ يَاءٌ فَمُعْتَلاًّ عُرِفْ
Setiap Kalimah Fi’il yang akhirnya huruf illat Alif , Wau atau Ya’, maka dinamakan Fi’il Mu’tal.
فَالأَلِفَ انْوِ فِيْهِ غَيْرَ الْجَزْمِ ¤ وَأَبْـــدِ نَصْبَ مَا كَيَدْعُو يَرْمِي
Kira-kirakanlah! I’rab untuk Kalimah Fi’il yang berakhiran Alif pada selain Jazmnya. Dan Zhohirkanlah! tanda nashab untuk Kalimah Fi’il yang seperti يَدْعُو (Berakhiran huruf Wau) dan يَرْمِي (Berakhiran huruf Ya’)…
والرَّفعَ فِيْهِمَا انْوِ وَاحْذِفْ جَازِمَا ¤ ثَــلاَثَـــهُنَّ تَقـْـــضِ حُكمَــا لازِمَــــا
dan kira-kirakanlah! tanda Rofa’ untuk kedua lafadz (يَدْعُو dan يَرْمِي ). Buanglah (huruf-huruf illat itu) dimana engkau sebagai orang yang menjazmkan ketiga Kalimah Fi’il Mu’tal tsb, maka berarti engkau memutuskan dengan Hukum yang pasti.
Disebutkan dalam bait-bait ini tentang kalimah yang mu’tal bagian kedua. Yaitu kalimah Mu’tal untuk kata kerja/kalimah Fi’il. Adalah pembahasan terakhir dari kitab Alfiyah Bab Mu’rab dan Mabni. Merupakan bagian ketujuh dari tanda-tanda irab niyabah atau irab pengganti asal.
Pengertian kalimah Fi’il Mu’tal adalah: setiap kalimah Fi’il yang berakhiran huruf wau setelah harakat dhammah, atau berakhiran huruf ya’ setelah harakat kasrah, atau berakhiran alif setelah harakat fathah. Maksud dari kalimah Fi’il dalam hal ini adalah Fi’il Mudhari’. Sebab asal pembahasan mengenai kalimah Mu’rab.
Tanda I’rab Fi’il Mu’tal:
(1). Mu’tal Alif:
Rafa‘ dengan Dhammah yang dikira-kira atas alif, dicegah i’rab zhahirnya karena udzur, contoh:
الْمُتَّقِيْ يَخْشَى رَبَّهُ
Orang yang bertaqwa adalah dia yang takut kepada Tuhannya.
إِنَّمَا يَخْشَى اللهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.
Nashab dengan fathah yang dikira-kira atas alif. contoh:
لَنْ يَرْضَى الْعَاقِلُ بِاْلأَذَى
seorang yang berakal tidak akan rela disakiti.
وَمَا كُنْتَ تَرْجُو أَنْ يُلْقََى إِلَيْكَ الْكِتَابُ إلاَّ رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ
Dan kamu tidak pernah mengharap agar Al Quran diturunkan kepadamu, tetapi ia (diturunkan) karena suatu rahmat yang besar dari Tuhanmu
Jazm dengan membuang huruf Illah Alif, dan harakat Fathah adalah sebagai buktinya. contoh:
الْعَاصِيْ لَمْ يَخْشَ رَبَّهُ
Orang yang suka maksiat adalah dia yang tidak takut kepada Tuhannya.
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللهُ الدَّارَ الآخِرَةَ وَلاَ تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi
°
(2). Mu’tal Wau:
Rafa‘ dengan dikira-kira atas wau, dicegah i’rab zhahirnya karena berat. contoh:
الْمُوَحِّدُ لاَ يَدْعُوْ إلاَّ اللهَ
Seorang yang meyakini keesaan Allah, dia tidak menyeru kecuali kepada-Nya.
هُنَالِكَ تَبْلُو كُلُّ نَفْسٍ مَا أَسْلَفَتْ
Di tempat itu (padang Mahsyar), tiap-tiap diri merasakan pembalasan dari apa yang telah dikerjakannya dahulu
Nashab dengan harakat Fathah zhahir atas wau, karena paling ringnnya harakat. contoh:
لَنْ يَسْمُوَ أَحَدٌ إلاَّ بِأَدَبِهِ
seseorang tidak akan dipandang kecuali dengan budi perkertinya.
لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَهًا
kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia
Jazm dengan membuang huruf Illah Wau, dan harakat Dammah adalah sebagai buktinya. contoh:
لا تَدعُ على أولادك
Jangan.. berdo’a jelek untuk anak-anakmu…!
فَلْيَدْعُ نَادِيَهُ
Maka biarlah dia memanggil golongannya.
°
(3). Mu’tal Ya’:
Rafa‘ dengan Dhammah yang dikira-kira atas Ya’, dicegah i’rab zhahirnya karena berat, contoh:
أَنْتَ تُرَبِّيْ أَوْلاَدَكَ عَلَى الْفَضِيْلَةِ
Kamu didik anak-anakmu dengan kemulyaan.
لاَ إِلَهَ إلاَّ هُوَ يُحْيِِيْ وَيُمِيْتُ
Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menghidupkan dan Yang mematikan.
Nashab dengan harakat Fathah Zhahir atas Ya’, karena merupakan peling ringannya harakat. contoh:
لَنْ تُعْطِيَ الْفَقِيْرَ شَيْئاً إلاَّ أُجِرْتَ عَلَيْهِ
Jangan berikan sesuatupun kepada orang faqir kecuali engkau diganjar untuk itu.
قَالُوا يَا مُوسَى إِمَّا أَنْ تُلْقِيَ وَإِمَّا أَنْ نَكُونَ أَوَّلَ مَنْ أَلْقَى
(Setelah mereka berkumpul) mereka berkata: “Hai Musa (pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu) atau kamikah orang yang mula-mula melemparkan?”
Jazm dengan membuang huruf Illah berupa Ya’, dan harakat Kasrah merupakan buktinya. contoh:
لاَ تُؤْذِ جَارَكَ بِقُتَارِ قِدْرِكَ
Jangan sakiti hati tetanggamu dengan bau asap periukmu…!
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ
Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya
Kesimpulan pembahasan: Fi’il Mu’tal adalah Fi’il yang berakhiran Alif, Wau atau Ya’. Semua i’rabnya dikira-kira atas Alif selain Jazm. Dan untuk yang berakhiran wau atau ya’, zhahirkan pada nashabnya dan dikira-kira pada rafa’nya. Dan semua fi’il mu’tal tanda jazemnya dengan membuang huruf illah.
◊◊◊
وَسَمِّ مُعْتَلاًّ مِنَ الأَسْمَاءِ مَا ¤ كَالْمُصْطَفَى وَالْمُرْتَقَي مَكَارِمَا
Namailah! Isim Mu’tal, terhadap Isim-Isim yang seperti lafadz الْمُصْطَفَى (Isim yang berakhiran huruf Alif) dan seperti lafadz الْمُرْتَقَي مَكَارِمَا (Isim yang berakhiran huruf Ya’).
فَالأَوَّلُ الإِعْرَابُ فِيْهِ قُدِّرَا ¤ جَمِيْـعُهُ وَهْوَ الَّذِي قَدْ قُصِرَا
Contoh lafadz yang pertama (الْمُصْطَفَى) Semua tanda I’rabnya dikira-kira, itulah yang disebut Isim Maqshur.
وَالْثَّانِ مَنْقُوصٌ وَنَصْبُهُ ظَهَرْ ¤ وَرَفْـعُهُ يُنْــوَى كَذَا أيْضَــــاً يُجَرْ
Contoh lafadz yang kedua (الْمُرْتَقَي) dinamakan Isim Manqush, tanda Nashabnya Zhohir. Tanda Rofa’ dan juga Jarrnya sama dikira-kira.
Setelah menerangkan tentang tanda I’rab Kalimah-kalimah Isim dan Fi’il yang shahih, dan pada Bait-bait selanjutnya akan menerangkan tentang tanda i’rab untuk Isim Mu’tal dan Fi’il Mu’tal. Dimulai dari bait diatas dengan tanda Irab untuk Kalimah Isim Mu’tal. dalam hal ini terdapat dua isim Mu’tal yaitu Maqshur dan Manqush:
°°°
ISIM MAQSHUR المقصور
Definisi Maqshur adalah: Kalimah Isim Mu’rob yang berakhiran Alif Lazim. contoh فَيَى – عَصَى – رَحَى. Keluar dari definisi Maqshur adalah: رَمَى – يَخْشَى (Kalimah Fi’il). عَلى (Kalimah Huruf). مَتَى (Isim Mabni). الْهَادِيْ (berakhiran Ya’). زَيْدَانِ (Berakhiran Alif tidak Lazim).
Irab Isim Maqshur :
Di-i’rab dengan Harakat Muqaddar/dikira-kira atas Alif pada semua keadaan i’rabnya. Sebab yang mencegah i’rab zhahirnya karena udzur. Contoh Imamuna As-Syafi’i berkata:
contoh ketika Rafa’:
أَهَمُّ الْمَطَالِبِ رِضَا اللهِ
Paling pentingnya pengharapan adalah mengharap Kerelaan Allah
contoh ketika Nashab:
إِنَّ رِضَا النَّاسِ غَايَةٌ لاَ تُدْرَكُ
Sesungguhnya kerelaan manusia adalah batas yang belum final.
contoh ketika Jar:
اِحْرِصْ عَلَى رِضَا وَالِدَيْكَ
Tamaklah..! terhadap kerelaan kedua orang tuamu !
Allah berfirman:
ذَلِكَ هُدَى اللهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ
Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya
وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ
Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan balasan ketaqwaannya.
لِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا هُمْ نَاسِكُوهُ فَلَا يُنَازِعُنَّكَ فِي الْأَمْرِ وَادْعُ إِلَى رَبِّكَ إِنَّكَ لَعَلَى هُدًى مُسْتَقِيمٍ
Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syari’at tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syari’at) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus.
°°°
ISIM MANQUSH المنقوص
Definisi Manqush adalah: Kalimah Isim Mu’rob yang berakhiran Ya’ Lazim tidak bertasydid dan berada setelah harakat Kasrah . Contoh القَضِيْ – السَّاعِيْ – الوَافِيْ. Keluar dari definisi Maqshur adalah: يَعْطِيْ (Kalimah Fi’il). فِيْ (Kalimah Huruf). الذِيْ (Isim Mabni). الْفَتَىْ (berakhiran ِAlif layyinah/Ya’ maqshur). زَيْدَيَنِ (Berakhiran Ya’ tidak Lazim). ظَبْيٌ (jatuh sesudah sukun) كُرْسِيٌّ (Ya’ bertasydid). Untuk Lafazh ظَبْيٌ dan كُرْسِيٌّ tetap di-i’rab dengan harakat zhahir, Firman Allah:
فَأَذَاقَهُمُ اللهُ الْخِزْيَ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
Maka Allah merasakan kepada mereka kehinaan pada kehidupan dunia
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّمَا بَغْيُكُمْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ
Hai manusia, sesungguhnya kezalimanmu akan menimpa dirimu sendiri
°
Tanda I’rab Isim Manqush, apabila ia dimasuki AL atau menjadi Mudhaf maka huruf Ya’-nya ditetapkan:
Tanda Rofa’-nya dengan Dhammah yang dikira-kira atas Ya. Juga tanda Jar-nya dengan Kasrah yang dikira-kira atas Ya’. Sedangkan sebab yang menjadikan tercegahnya Harakat secara zhahir karena berat mengucapkannya » rujukan lihat pada Kaidah I’lal ke 5.
contoh ketika Rofa’ bersama AL:
السَّاعِيْ لِلْخَيْرِ كَفَاعِلِهِ
orang yang bertugas untuk kebaikan sama halnya dengan orang yg berbuat kebaikan itu sendiri.
contoh ketika Rofa’ menjadi Mudhaf:
جَاءَ قَاضِي الْقُضَاةِ
Hakim agung telah datang.
contoh ketika Jar bersama AL:
عَلَى الْبَاغِيْ تَدُوْرُ الدَّوَائِرُ
balasan atas orang yang aniaya, bencana akan kembali padanya (karma tetap berlaku)
contoh ketika Jar menjadi Mudhaf:
سَلَّمْتُ عَلَى قَاضِي الْقُضَاةِ
aku memberi salam pada Hakim agung.
Terkadang huruf Ya’ nya dibuang ketika rafa’ atau jar, sebagai penunjukan bahwa sebelum Ya’ berharakat kasrah, maka berlaku juga Isim Manqush yang bersamaan AL dan tanpa tanwin, seperti berlakunya Isim Manqush yang tanpa AL dengan ditanwin. contoh:
contoh ketika Rafa’
يَوْمَ يَدْعُ الدَّاعِ إِلَى شَيْءٍ نُكُرٍ
(Ingatlah) hari (ketika) seorang penyeru (malaikat) menyeru kepada sesuatu yang tidak menyenangkan (hari pembalasan)
contoh ketika Jar
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku
Tanda Nashab Isim Manqush yg dimasuki AL atau menjadi Mudhaf tersebut, adalah Nashab dengan Harakat Zhahir.
contoh besamaan dengan AL
لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ الرَّاشِيَ وَالْمُرْتَشِيَ
Rasulullah melaknat orang yang memberi suap dan orang yang menerima suap.
contoh menjadi mudhaf
رأيت قاضيَ القُضَاةِ
Aku melihat Hakim Agung
يَا قَوْمَنَا أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ
Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah
°
Tanda I’rab Isim Manqush, apabila ia tanpa AL atau tidak Mudhaf maka huruf Ya’-nya dibuang dan mendatangi Tanwin ketika Rafa’ dan Jar. Atau Ya’-nya ditetapkan ketika Nashab:
Tanda Rofa’-nya dengan Dhammah yang dikira-kira atas Ya yang dibuang. Juga tanda Jar-nya dengan Kasrah yang dikira-kira atas Ya’ yang dibuang. Sedangkan sebab terbuangnya Ya’ tersebut, karena bertemunya dua mati yaitu Ya’ Manqush dan Tanwin » rujukan lihat pada Kaidah I’lal ke 5.
contoh Rafa’ :
الْمُؤْمِنُ رَاضٍ قَانِعٍ
Sorang Mu’min adalah seorang yang suka rela dan menerima apa adanya.
إِنَّمَا أَنْتَ مُنْذِرٌ وَلِكُلِّ قَوْمٍ هَادٍ
Sesungguhnya kamu hanyalah seorang pemberi peringatan; dan bagi tiap-tiap kaum ada orang yang memberi petunjuk.
contoh Jar :
رُبَّ سَاعٍ لِقَاعِدٍ
Mungkin kali… seorang yg berusaha orang yg duduk-duduk (usaha bung…!)
وَمَنْ يُضْلِلِ اللهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ
Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka baginya tak ada seorangpun yang akan memberi petunjuk.
Tanda Nashab-nya dengan Fathah yang Zhahir/terang contoh:
سَمِعْتُ مُنَادِياً يُنَادِيْ لِلصَّلاَةِ
Aku mendengar seorang pemanggil sedang memanggil untuk shalat.
وَكَفَى بِرَبِّكَ هَادِيًا وَنَصِيرًا
Dan cukuplah Tuhanmu menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong
◊◊◊
وَاجْعَلْ لِنَحْوِ يَفْعَلاَنِ الْنُّوْنَا ¤ رَفْـعَاً وَتَدْعِــيْنَ وَتَسْـــــأَلُونَا
Jadikanlah! Nun sebagai tanda Rofa’ untuk contoh Kalimah-kalimah yang seperti lafadz يفعلان (Fi’il Mudhori’ yg disambung dg Alif Tatsniyah) dan lafadz تدعين (Fi’il Mudhori’ yg disambung dg Ya’ Mu’annats Mukhatabah) dan lafadz تسألون (Fi’il Mudhori’ yg disambung dg Wau Jamak)
وَحَذْفُهَا لِلْجَزْمِ وَالْنَّصْبِ سِمَهْ ¤ كَلَمْ تَكُــــوْنِي لِتَرُوْمِي مَـــظْلَمَهْ
Sedangkan tanda Jazm dan Nashabnya, yaitu dengan membuang Nun. seperti contoh َلمْ تَكُــــوْنِي لِتَرُوْمِي مَـــظْلَمَهْ

Setelah selesai menerngkan tentang I’rab pengganti untuk kalimah isim, selanjutnya bait menerangkan tentang I’rab pengganti untuk kalimah Fi’il. yaitu i’rab untuk Amtsilatul Khamsah atau Af’alul Khamsah atau contoh-contoh kalimah Fi’il yang lima.
Pengertian Af’alul Khamsah/Fi’il yang lima adalah: Setiap kalimah fi’il mudhari’ yang tersambung dengan Alif Tatsniyah, Wau jama’ atau Ya’ muannats mukhatabah.
Rinciannya sebagai berikut:
•    Fi’il Mudhari’ yang tersambung dengan Alif Tatsniyah terdapat 2 bentuk (berawalan huruf mudhara’ah Ya’ / Ta’ ) ada 4 penggunaan
•    Fi’il Mudhari’ yang tersambung dengan Wau Jama’  terdapat 2 bentuk (berawalan huruf mudhara’ah Ya’ / Ta’) ada 2 penggunaan
•    Fi’il Mudhari’ yang tersambung dengan Alif Tatsniyah terdapat 1 bentuk (berawalan huruf mudhara’ah Ta’) ada1 penggunaan
Lihat tabel berikut, Af’alul Khamsah ditandai warna oranye:
DIGUNAKAN UNTUK    FI’IL AMAR    FI’IL MUDHARI’    FI’IL MADHI
ORANG
KETIGA
MALE    TUNGGAL    ×    يَنْصُرُ    نَصَرَ
    DUAL    ×    يَنْصُرَانِِ    نَصَرَا
    JAMAK    ×    يَنْصُرُوَْنَ    نَصَرُوْا
ORANG
KETIGA
FEMALE    TUNGGAL    ×    تَنْصُرُ    نَصَرَتْ
    DUAL    ×    تَنْصُرَانِِ    نَصَرَتَا
    JAMAK    ×    يَنْصُرْنَ    نَصَرْنَ
ORANG
KEDUA
MALE    TUNGGAL    اُنْصُرْ    تَنْصُرُ    نَصَرْتَ
    DUAL    اُنْصُرَا    تَنْصُرَانِ    نَصَرتُمَا
    JAMAK    اُنْصُرُوْا    تَنْصُرُوْنَ    نَصَرْتُمْ
ORANG
KEDUA
FEMALE    TUNGGAL    اُنْصُرِيْ    تَنْصُرِيْنَ    نَصَرْتِ
    DUAL    اُنْصُرَا    تَنْصُرَانِِ    نَصَرْتُمَا
    JAMAK    اُنْصُرْنَ    تَنْصُرْنَ    نَصَرْتُنَّ
ORANG
PERTAMA
MALE/
FEMALE    TUNGGAL    ×    أَنْصُرُ    نَصَرْتُ
    DUAL/JAMAK    ×    نَنْصُرُ    نَصَرنَا
Tanda I’rab Af’alul Khamsah adalah:
Rafa’ dengan tetapnya Nun sebagai ganti dari Dhammah. contoh:
هُمْ يَفْعَلُوْنَ
mereka (lk) bekerja
هُمَا يَفْعَلاَنِ / تَفْعَلاَنِ
mereka berdua (lk/pr) berkerja
أَنْتُمْ تَفْعَلُوْنَ
kalian (lk) bekerja
أَنْتُمَا تَفْعَلاَنِ
kamu berdua (lk/pr) bekerja
أَنْتِ تَفْعَلِيْنَ
kamu seorang (pr) bekerja
Contoh Firman Allah:
وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.
Nashab dan Jazem  dengan membuang Nun sebagai ganti dari Fathah dan Sukun. contoh:
فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ
Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) – dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka
Share this:
•   
•   
•   
•   
•   
•   
•   
•   
•   
◊◊◊
وَجُــرَّ بِالْفَتْحَـةِ مَـالا يَنْصَرِفْ ¤ مَالَمْ يُضَفْ أَوْيَكُ بَعْدَ ألْ رَدِفْ
Jar-kanlah olehmu…! dengan tanda Fathah terhadap Isim yang tidak munsharif, selagi tidak dimudhafkan atau tidak berada setelah AL dengan mengekorinya

Diterangkan dalam Bait ini, bagian kedua dari Isim yang di-i’rab dengan harakat pengganti dari harakat asal. Yaitu Isim yang tidak Munsharif atau Isim ghair Munawwan atau isim yang tidak ditanwin.
Definisi Isim tidak munsharif adalah: setiap kalimah  isim mu’rab yang menyerupakan kalimah fi’il didalam hal terdapatnya dua illat dari sembilan illat, atau terdapat satu illat yg menempati maqom dua illat.
Contoh lafazh terdapat dua illat أَخْمَدُ “Ahmad” (Alami dan Wazan Fi’il) عَطْشَانُ “yg haus” (Sifat dan Ziadah Alif-Nun). contoh lafazh satu illat مَسَاجِدَ “Masjid-masjid” (bentuk/shighat Muntahal Jumu’).
Mengenai penyebab yang mencegah ditanwinkannya kalimah isim, dalam hal ini ada bab khusus yang akan diterangkan secara jelas disana –insyaAllah–. sedangkan dalam Bait ini, dimaksudkan mengenai hubungan dengan tanda I’rabnya. Rofa’ dengan Dhammah (i’rab asal), Nashab dengan Fathah (i’rab asal) dan Jar dengan Fathah (menggantikan i’rab asal Kasrah) contoh:
َجَاءَ أَحْمَدُ رَأَيْتُ أَحْمَدَ مَرَرْتُ بِأَحْمَدَ
Ahmad datang, Aku melihat Ahmad, Aku berjumpa dengan Ahmad.
وَلَقَدْ جَاءَكُمْ يُوسُفُ مِنْ قَبْلُ بِالْبَيِّنَاتِ
Dan sesungguhnya telah datang Yusuf kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan
إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا ِللهِ حَنِيفًا
Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif
وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا
Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya
Sebagai pengecualian tetap Jar dengan tanda  i’rab asal atau Kasrah,  bilamana Isim tidak munsharif/ghair munawwan tersebut berada pada dua posisi :
(1). Menjadi Mudhaf. contoh:
مَرَرْتُ بِأَحْمَدِكُمْ
Aku berjumpa dengan Ahmad-mu
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya
Tapi jika posisinya sebagai Mudhaf Ilaih, maka tetap berlaku tanda irab pengganti Jar dengan Fathah. contoh
هَذَا كِتَابُ أَحْمَدَ
Ini kitab Ahmad
إِنَّ اللهَ اصْطَفَى آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ
Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga ‘Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing).
(2).  Dimasuki huruf AL (ال). contoh:
سَأَلْتُ عَنْ اْلأَفْضَلِ مِنَ الطُّلاَّبِ
Aku bertanya tentang siswa terbaik dari para siswa
وَلاَ تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ
janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid.
Kesimpulan pembahasan Bait:
Jarkanlah dengan Fathah sebagai pengganti dari i’rab asal Kasrah, terhadap isim yang tidak munsharif/ghair munawwan dengan syarat tidak mudhaf atau tidak dimasuki oleh AL yang mubasyaroh bertemu langsung tanpa pemisah.

Bait ini menerangkan tentang i’rab Isim-isim yang dimulhaq-kan pada Jama’ Muannats Salim. Dalam hal ini ada dua kategori:
(1). Lafadz أُوْلاَتُ . tanda irabnya diikutkan pada Jamak Muannats Salim, dimana ia tidak memenuhi syarat definisi Jama’ Muannats Salim,  karena secara Lafazh ia tidak memiliki bentuk mufrad, dan secara makna ia jamak , mempunyai arti: mereka (jamak female) Si empunya . contoh:
وَإِنْ كُنَّ أُوْلاَتُ حَمْلٍ فَأَنْفِقُوا عَلَيْهِنَّ حَتَّى يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ
Dan jika mereka (isteri-isteri yang sudah ditalaq) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin
(2). Lafazh yang dijadikan sebuah nama (Isim Alam) dari asal lafazh jama’ muannats salim. Maka menjadi Isim Alam dan secara otomatis bisa dipakai untuk mudzakkar dan muannats (male/female). Seperti contoh lafazh أَذْرِعَــاتٍ asal dari bentuk jamak أذرعة dengan bentuk mufrad ذراع kemudian menjadi  أَذْرِعَـاتٍ sekarang menjadi sebuah nama negri dari wilayah pinggiran Syam. Terdapat tiga Madzhab dalam menghukumi tanda Irab Isim yang sejenis أَذْرِعَاتٍ:
Madzhab pertama (Madzhab yg Shahih): dii’rab seperti lafazh Jamak Muannats Salim sebagaimana ketika belum dijadikan sebuah nama berikut di-tanwin. contoh:
هَذِهِ أَذْرِعَاتٌ وَرَأَيْتُ أَذْرِعَاتٍ وَمَرَرْتُ بِأَذْرِعَاتٍ
Ini negri Adri’at, aku melihat negri Adri’at, aku melewati negri Adri’at.
Madzhab kedua: menghukumi Rofa’ dengan dhammah, jar dan nashab dengan kasrah berikut menghilangka tanda tanwin. contoh:
هَذِهِ أَذْرِعَاتُ وَرَأَيْتُ أَذْرِعَاتِ وَمَرَرْتُ بِأَذْرِعَاتِ
Ini negri Adri’at, aku melihat negri Adri’at, aku melewati negri Adri’at.
Madzhab ketiga: menghukumi Rafa’ dengan dhammah, Jar dan Nashab dengan Fathah beserta menghilangkan Tanwin, seperti Isim tidak munsharif (ber-illat Alami beserta Mu’annats Ma’nawiy). contoh:
هَذِهِ أَذْرِعَاتُ وَرَأَيْتُ أَذْرِعَاتَ وَمَرَرْتُ بِأَذْرِعَاتَ
Ini negri Adri’at, aku melihat negri Adri’at, aku melewati negri Adri’at.
◊◊◊
Contoh Syahid syair untuk lafazh أَذْرِعَاتٍ (nama tempat di negeri Syam) boleh di-i’rab sesuai ketiga Madzhab diatas. Syair bahar Thawil  oleh Imru-ul Qais bin Hujr al-Kindi (130 SH. – 80 SH. / 497 – 535 M.)
تَنَوَّرْتُها مِنْ أذْرِعاتٍ وَأهْلُهَا ¤ بِيَثْربَ أدْنَى دَارِهَا نَظَرٌ عَالِى
dari kejauhan….
Kupandang api unggun negri Adri’at…
pada penduduknya yg berada di kota Yatsrib…
terasa paling terdekatnya rumah negri Adri’at…
adalah pemandangan yg bernilai seni tinggi…

Seperti lafazh أَذْرِعَاتٍ yaitu contoh lafazh عَرَفَاتٍ di dalam Al-Qur’an :
فَإِذَا أَفَضْتُمْ مِنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللهَ عِنْدَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ
Maka apabila kamu telah bertolak dari ‘Arafat, berdzikirlah kepada Allah di Masy’aril-haram
Kesimpulan penjelasan Bait : bahwa lafazh أُوْلاَتُ ditandai dengan kasrah didalam Jar dan Nashabnya di-mulhaq-kan/mengikuti irab jamak muannats salim. demikian juga lafazh yang dijadikan sebuah nama (أَذْرِعَاتٍ) dari asal bentuk lafazh  jamak muannats salim.
◊◊◊
وَمَــــــا بِتَـا وَأَلِـــفٍ قَدْ جُمِعَـــــــا ¤  يُكْسَرُ فِي الْجَرِّ وَفي النَّصْبِ مَعَا
Adapun kalimah yang di-jamak-kan dengan menambah Alif dan Ta’ (Jama’ Muannats Salim), adalah ditandai harakat kasrah didalam Jar dan Nashabnya secara bersamaan.
Setelah rampung penjelasan tentang kalimah-kalimah yang di-i’rab dengan huruf sebagai pengganti dari i’rab asal harakat, yaitu tanda I’rab Asmaus-Sittah, Isim Mutsanna dan Jama’ Mudzakkar Salim pada bait-bait sebelumnya.  Selanjutnya  Kiyai Mushannif Alfiyah Muhammad Ibnu Malik –semoga Allah Merahmatinya– menerangkan tentang Kalimah-kalimah yang di-i’rab dengan Harakat sebagai ganti dari Harakat tanda i’rab asal. Dalam hal ini terdapat dua kategori, yang pertama adalah dalam Bait ke 41 ini.  Yaitu kalimah yang di-jamak-kan dengan tambahan Alif dan Ta’ (ا – ت / alif zaidah dan ta’ zaidah) atau dinamakan Jamak  Muannats Salim.
◊◊◊
Definisi Jama’ Muannats Salim adalah: Lafazh yang menunjukkan lebih banyak dari dua, disebabkan oleh penambahan dua huruf Alif dan Ta’ Zaidah di akhirnya. contoh:
حَضَرَتِ الْمُتَحَجِّبَاتِ
Para wanita berjilbab telah hadir
*Maka  lafazh الْمُتَحَجِّبَاتِ pada contoh ini adalah lafadz jamak dengan tambaha alif dan ta’,  Jama’ Mu’annats Salim.
◊◊◊
Tanda I’rab Jama’ Muannas Salim adalah: Rafa’ dengan Dhammah (i’rab asal), Jar dengan Kasrah (i’rab asal) juga Nashab dengan Kasrah (pengganti i’rab asal Fathah). contoh:
وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ
Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain.
وَعَدَ اللهُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ
Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai
لِيُعَذِّبَ اللهُ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ وَيَتُوبَ اللهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima taubat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan.
◊◊◊
Dua kategori bukan Jamak Mu’annats Salim adalah: 1. Lafazh Jama’ ada Alif dan Ta’ di akhirnya tapi bukan Alif Zaidah, contoh:
قُضَاةٌ وَ دُعَاةٌ
Para hakim dan para pendakwa
Dua lafazh ini, berupa Alif asli salinan dari asal huruf  kalimah sebelum proses I’lal. asal bentuknya adalah قُضَيَةٌ  ya’ diganti alif karena jatuh sesudah fathah, dan دُعَوَةٌ wau juga diganti alif karena jatuh sesudah harakat fathah. Untuk lebih jelasnya, bisa dilihat pada page Kaidah I’lal ke 1: http://nahwusharaf.wordpress.com/belajar-ilal/kaidah-ilal/kaidah-ilal-ke-1/
2. Lafazh Jama’ ada Alif dan Ta’ di akhirnya tapi  bukan Ta’ Zaidah, contoh:
أَبْيَاتٌ، أَمْوَاتٌ، أَصْوَاتٌ
Bait-bait, Mayat-mayat, Suara-suara
Contoh ini, huruf Ta’-nya adalah asli kalimah bukan tambahan, lafazh mufradnya adalah بَيْتٌ، مَيِّتٌ، صَوْتٌ
Dua kategori lafazh-lafazh  jamak tersebut bukan Bab Jamak Muannats Salim, karena lafazh menunjukkan jamak bukan karena sebab Alif dan Ta’. akan tetapi termasuk pada kategori bentuk Jamak Taksir, dinashabkan dengan tanda irab asal yaitu Fathah.  contoh:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لاَ تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلاَ تَجْهَرُوا لَهُ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras
كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللهِ وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?
◊◊◊
Kesimpulan penjelasan Bait 41: Sesungguhnya Lafazh yang di jamak sebab tambahan Alif dan Ta’, di-i’rab dengan harakat kasrah ketika Jar dan Nashab secara bersamaan. Penyebutan Jar dengan tanda kasrah,  bukan sebagai penggati asal. Sedangkan penyebutan Nashab dg kasrah adalah pokok pembahasan dalam Bait kali ini, yaitu bagian pertama dari tanda i’rab dg harakat pengganti dari i’rab harakat asal.

وَنُوْنَ مَجْمُوْعٍ وَمَا بِهِ الْتَحَقْ ¤ فَافْــتَحْ وَقَــلَّ مَنْ بِكَــسْرِهِ نَطَــقْ
Fathah-kanlah…! terhadap Nun-nya Jamak Mudzakkar Salim berikut Isim yang mulhaq kepadanya.  Ada sedikit orang Arab yang berucap dengan meng-kasrahkannya.
وَنُوْنُ مَا ثُنِّيَ وَالْمُلْحَقِ بِهْ ¤ بِعَـــكْسِ ذَاكَ اسْتَعْمَلُوْهُ فَانْتَبِهْ
Adapun Nun-nya Isim yang di-tatsniyah-kan berikut mulhaqnya, mereka (orang Arab) mengamalakannya dengan kebalikan Jamak mudzakkar salim (yakni, Nun Tatsniyah lebih banyak diamalkan dengan harakat kasrah) maka perhatikanlah…!
Huruf Nun (ن) yang ada pada akhir kalimah isim Jama’ Mudzakkar Salim, yang masyhur diucapkan dengan harakat Fathah untuk semua keadaan i’rabnya. Demikian juga di-harakat fathah, untuk Nun yang ada pada isim mulhaq jamak mudzakkar salim. Tidaklah maksud pengharkatan huruf Nun ini sebagai tanda i’rab, melainkan ia di-i’rab dengan huruf.
Ditemukan juga pada sebagian orang Arab (secara Syadz) meng-kasrahkan Huruf Nun setelah Ya’  (yakni, ketika keadaan Nashab dan Jar) pada Jama’ Mudzakkar salim dan Mulhaq-nya.  Sebagaimana termaktub dalam Syawahid Syair :
Syair Bahar Wafir oleh Jarir Bin ‘Athiyyah seorang penyair dari Bani Tamim (28 – 110 H. / 648 – 827 M.)  :
عَرَفْنَا جَعْفَراً وَبَني أبِيهِ ¤ وَأَنْكَرْنَا زَعَانِفَ آخَرِينِ
Kami kenal baik dengan Ja’far  dan putra-putra dari ayahnya (Bani Abi Ja’far) …
dan kami mengingkari terhadap Zi’nifah-zi’nifah (bagian kolompok pengikut) yang lain.
* Lafadz آخَرِيْنِ huruf Nun dikasrahkan bersamaan ia adalah Jamak Mudzakkar Salim. Nashab menjadi sifat bagi isim maf’ul زَعَانِفَ.
Juga Syair bahar Wafir oleh Penyair Suhaim bin Wusail Ar-Riyyahi  (40 SH. – 60 H. / 583 – 680 M.)
أَكُلَّ الدَّهْرِ حِلٌّ وارْتِحَالٌ ¤ أَمَا يُبْقِيْ عَلَيَّ وَلاَ يَقِيْنِي
apakah tetap berlangsung pada setiap masa … berdiam dan pergi ….
tidakkah masa membiarkanku menetap… dan memastikanku…. ???
وَمَاذَا تَبْتَغِي الشُّعَرَاءُ مِنِّي ¤ وَقَدْ جَاوَزْتُ حَدَّ الأَرْبَعِيْنِ
ooo…gerangan apa… mereka para penyair akan memperdayaiku ….
sungguh masa ini telah aku lewati selama kurun masa empat puluh tahun ….
* Lafadz الأَرْبَعِيْنِ huruf Nun dikasrahkan bersamaan ia adalah Isim Mulhaq Jamak Mudzakkar Salim majrur menjadi mudhaf ilaih.
Tidaklah kasrah pada Nun jamak salim dan mulhaqnya tersebut merupakan logat arab, ikhtilaf bagi mereka yang berdalih sepert itu. Adapun Huruf Nun pada Isim Mutsanna dan Mulhaq-mulhaqnya, yang masyhur di-harkati kasrah, sedangkan diharkati Fathah adalah merupakan logat bagi sebagian orang arab.  sebagaimana contoh syawahid syair :
Syair dalam Bahar  Thawil oleh Shahabah Nabi Humaid bin Tsaur Al-Hilaliy ra.  (? – 30 H. / ? – 650 M.)
عَلَى أَحْوَذِيَّيْنَ اسْتَقَلَّتْ عَشِيَّةً ¤ فَمَا هِيَ إِلاَّ لَمْحَةٌ وَتَغِيْبُ
dengan kelincahan kedua sayapnya (si burung Qutthah) terbang melesat pada senja hari…
tidaklah penglihatan ini  melainkan hanya sekilas kemudian ia menghilang…
* Lafadz أَحْوَذِيَّيْنَ huruf Nun difathahkan bersamaan dengan Ya’ tanda jar dari  Isim Mutsanna yang di-jarkan oleh huruf jar.
Bait Alfiyah di atas bukanlah maksud menghukumi jarang penggunaan harkah Kasrah untuk  Nun Jamak Mudzakkar Salim dan Harakat Fathah untuk  Nun Isim Mutsanna. Tetapi  maksudnya (sebagaimana dalam kitab syarah kafiyah as-syafiyah oleh beliau) Harakat Kasrah nun Jama’ Mudzakkar adalah Syadz, sedangkan Harakat Fathah Isim Mutsanna adalah sebagaian Logat. Dalam hal ini terdapat dua Qaul: 1. Fathah untuk Nun Mutsanna ketika bersama dengan Ya’,  atau 2. Fathah untuk Nun Mutsanna yang bersama Alif. Dzahirnya perkataan Mushannif  adalah untuk Qaul yang kedua, yakni Fathah Nun Mutsanna ketika bersama dengan Alif.
Contoh penggunaan Nun yang difathahkan dalam Syawahid Syair dari seseorang:
أَعْرِفُ مِنْهَا الْجِيْدَ وَالْعَيْنَانَا … وَمَنْخِرَيْنِ أَشْبَهَا ظَبْيَانَا
Aku mengenalinya…. lehernya….. kedua matanya…..
dan kedua lubang hidung tempat ingusnya… menyerupai hidung si Dzabyan….
* Lafadz الْعَيْنَانَا huruf Nun difathahkan bersamaan dengan tetapnya Alif bagi sebagian logat Arab pada Isim Mutsanna yg dinashabkan karena athaf pada isim manshub.
Status syair diatas ada yang mengatakan  mashnu’ (bukan dari bangsa arab), tidaklah 100% bisa dijadikan sebagai syahid syair. diceritakan oleh Ibnu Hisyam bahwa kesubhatan status Syair diatas, yaitu terkumpulnya dua logat dalam satu bait, menetapkan Alif lafazh tatsniyah ketika nashab (الْعَيْنَانَا)  dan lafadz lain menggunakan Ya’ pada (مَنْخِرَيْنِ ). sedangkan imam Sibawaihi dalam kitabnya mengatakan bahwa periwayatan syair diatas adalah Tsiqah dapat dipercaya.
Referensi:
1.    شرح ابن عقيل على ألفية ابن مالك
2.    حاشية الخضري على ابن عقيل
3.    تراجم شعراء الموسوعة الشعرية  » Download.rar 306 kB

| Alfiyah Ibn Malik Bait 36-37-38 | Designer: By Ibnu Toha | Font: Deco Type Naskh | Flatform: CorelDraw&Photoshop |
وَشِبْهِ ذَيْنِ وَبِهِ عِشْرُوْنَا ¤ وَبَابُـــهُ أُلْحِــقَ وَالأَهْــــلُوْنَا
….dan yang serupa dengan keduanya ini (“Aamir” dan “Mudznib”, pada bait sebelumnya). Dan lafadz “‘Isyruuna dan babnya”, dimulhaqkan kepadanya (I’rab Jamak Mudzakkar Salim). Juga lafadz “Ahluuna”
أوْلُو وَعَالَمُوْنَ عِلِّيّونَا ¤ وَأَرْضُـــوْنَ شَذَّ وَالْسِّـنُوْنَا
Juga lafadz “Uluu, ‘Aalamuuna, ‘Illiyyuuna dan lafazh Aradhuuna adalah contoh yang syadz (paling jauh dari definisi Jamak Mudzakkar Salim). Juga Lafadz “sinuuna…..
وَبَابُهُ وَمِثْلَ حِيْنٍ قَـدْ يَرِدْ ¤ ذَا الْبَابُ وَهْوَ عِنْدَ قَوْمٍ يَطَّرِدْ
.…dan babnya”. Terkadang Bab ini (bab sinuuna) ditemukan dii’rab semisal lafadz “Hiina” (dii’rab harkat, dengan tetapnya ya’ dan nun) demikian ini ditemukan pada suatu kaum (dari Ahli Nawu atau orang Arab)
Disebutkan pada awal bait diatas kalimat: “dan yang serupa dengan keduanya ini (“Aamir” dan “Mudznib”, pada bait sebelumnya)” yakni, semua Isim Alam dan Isim shifat yang menggenapi syarat sebagai Jama’ Mudzakkar Salim dimana tanda I’rab-nya dengan wau ketika rafa’ dan dengan ya’ ketika nashab dan jar.
Kemudian disebutkan oleh kiyai Mushannif pada Bait kalimat selanjutnya, tentang Isim-isim yang mulhaq/diikutkan kepada I’rab jama’ mudzakkar salim. Adalah Isim yang tidak mencukupi dari syarat ataupun sifat yang wajib dimiliki oleh tiap Isim yang dapat dijadikan jama’ mudzakkar salim.
Dintara Isim-isim Mulhaq Jama’ Mudzakkar Salim tersebut, yang paling masyhur dalam penggunaannya adalah:
•    Kalimah isim yang menunjukkan arti banyak, dan tidak bisa dimufradkan baik secara lafazh atau secara makna: yaitu bab عِشْرُوْنَ (dua puluh) hitungan dari 20, 30, 40 hingga – 90.
contoh Firman Allah:
إِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ عِشْرُونَ صَابِرُونَ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ
Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh.
وَإِذْ وَاعَدْنَا مُوسَى أَرْبَعِينَ لَيْلَةً
Dan (ingatlah), ketika Kami berjanji kepada Musa (memberikan Taurat, sesudah) empat puluh malam
•    Kalimah isim yang tidak menggenapi sebagian syarat Jama’ Mudzakkar Salim, seperti lafazh أَهْلٌ dijamakkan menjadi أهْلُوْنَ beserta ia bukan Isim Alam pun bukan Isim Sifat. Sebagaimana disebutkan dalam syawahid syi’ir:
وَمَا الْمَالُ وَاْلأَهْلُوْنَ إِلاَّ وَدَائِعٌ … وَلاَ بُدَّ يَوْماً أَنْ تُرَدَّ اْلوَدَائِعُ
Tidaklah harta dan sanak-keluarga melainkan hanyalah titipan, dan pastilah titipan itu suatu hari akan dikembalikan.
Seperti itu juga lafazh عَالَمُوْنَ dari lafazh عَالَمٌ (Alam, sesuatu selain Allah). Dijamakkan seperti Jama’ mudzakkar salim, beserta ia bukan Isim Alam pun bukan Isim Sifat. Contoh firman Allah:
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
•    Kalimah isim yang menunjukkan makna Jamak, namun secara lafazh ia tidak bisa dimufradkan. Semisal lafazh أُوْلُوْ. Contoh Firman Allah Swt.
شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ
Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu.
•    Kalimah mufrad yang di-jamak-kan menjadi isim alam, semisal lafazh عِلِّيُّونَ (kitab catatan amal baik, tempat paling tinggi di Surga, tempat di langit ketujuh dibawah ‘Arsy) dari isim mufrad عِلِّيٌّ (tempat tinggi) akan tetapi ini bukan dari jenis yang berakal. Seperti dalam firman Allah:
كَلَّا إِنَّ كِتَابَ الْأَبْرَارِ لَفِي عِلِّيِّينَ
Sekali-kali tidak, sesungguhnya kitab orang-orang yang berbakti itu (tersimpan) dalam ‘Illiyyin.
وَمَا أَدْرَاكَ مَا عِلِّيُّونَ
Tahukah kamu apakah ‘Illiyyin itu?
•    Kalimah yang dijamakkan dengan merubah bentuk asal mufradnya, termasuk dari golongan jama’ taksir, akan tetapi ia di-mulhaq-kan kepada jama’ mudzakkar salim di-I’rab dengan huruf.
contoh: اَرَضُوْنَ, huruf Ra’ berharkah fathah, dan lafazh mufrad-nya disukunkan اَرْضٌ – perubahan bentuk asal mufrad, termasuk dari mufrad muannats, jenis tidak berakal, bukan isim alam, dan bukan isim sifat.
سِنُوْنَ dan babnya, huruf Sin di-kasrahkan pada jamaknya, dan di-fathahkan pada bentuk mufradnya سَنَةٌ – perubahan bentuk asal mufrad, termasuk dari mufrad muannats, jenis tidak berakal, bukan isim alam, dan bukan isim sifat. Contoh:
قَالَ كَمْ لَبِثْتُمْ فِي الْأَرْضِ عَدَدَ سِنِينَ
Allah bertanya: “Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?”
Adapun maksud daripada bab سِنُوْنَ adalah: setiap isim bangsa tiga huruf (Tsulatsi) yang dibuang Lam Fi’ilnya dan diganti dengan Ta’ muannats marbuthah (ة). Di’irab dengan harakah, bagi orang Arab ia tidak digolongkan pada jamak taksir. Misalnya lafazh; عِضَةٌ “kebohongan” jamaknya lafazh عِضُوْنَ dg meng-kasrah-kan huruf ‘Ain. Proses I’lal: asal mufradnya adalah عِضَوٌ isim bangsa Tsulatsi, dibuang Lam Fi’ilnya yaitu huruf Wau dan diganti dengan Ta’ muannats, maka menjadi عِضَةٌ. Contoh Firman Allah:
الَّذِينَ جَعَلُوا الْقُرْآنَ عِضِينَ
(yaitu) orang-orang (yahudi dan nashrani) yang telah menjadikan Al Quran itu terbagi-bagi (menjadikan kebohongan).
Contoh lain: عِزَةٌ manjadi عِزِيْنَ dan مِائَةٌ menjadi مِئِيْنَ dll.
عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ عِزِينَ
dari kanan dan dari kiri dengan berkelompok-kelompok
Lafazh عِزِيْنَ dinashabkan menjadi Haal. Mulhaq pada jama’ mudzakkar salim.
سِنُوْنَ dan bab-babnya yang dii’rab dengan mengikuti irab jama’ mudzakkar salim ini, termasuk sebagian aksen dari bangsa arab. Diantaranya pula ada yang meng-I’rab سِنُوْنَ dan bab-babnya dengan harakah zhahir pada huruf Nun terakhir yang biasanya ditanwinkan beserta tetapnya huruf Ya’ pada semua I’rabnya, tak ubahnya ia di-i’rab semisal lafazh حِيْنٍ. Contoh:
هَذِهِ سِنِيْنٌ مُجْدِبَةٌ
Ini adalah tahun-tahun yang gersang
وَأَقِمْتُ عِنْدَهُ سِنِيْناً
Aku tinggal bersamanya beberapa tahun.
دَرَسْتُ النَّحْوَ خَمْسَ سِنِيْنٍ
Aku mempelajari Ilmu Nahwu selama lima tahun.
Disebutkan pada salah satu Syawahid Sya’ir dalam bahar Thawil:
دَعَانِيَ مِنْ نَجْدٍ فإِنَّ سِنِينَهُ × لَعِبْنَ بِنَا شِيْباً وَشَيِّبْنَنَا مُرْدَا
Tolong kawan…!
Jangan ungkit lagi tentang Kota Najd
Sesungguhnya tahun-tahun di kota itu…
Telah mempermainkanku ketika aku sudah dalam keadaan ber-uban.
Sesungguhnya tahun-tahun di kota itu…
Telah mengubaniku semenjak aku masih dalam keadaan sangat muda.
Lafazh سِنِيْنَهُ pada Syair diatas, menunjukkan nashab dengan harakah Fathah dan bukan dengan Ya’, karena ia tidak membuang huruf Nun pada keadaan ia menjadi mudhaf.
Ada juga logat dan aksen bahasa arab, tetap meng-I’rab semua bentuk jama’ mudzakkar salim dan mulhaq-mulhaqnya, diberlakukan seperti irab isim mufrad (dii’rab harakah pada nun dengan tetapnya ya’) contoh:
جَاءَ مُعَلِّمِيْنٌ. كَلَّمْتُ مُعَلِّمِيْناً. سَلَّمْتُ عَلَى مُعَلِّمِيْنٍ
Para pengajar telah datang. Aku berbicara pada para pengajar. Aku memberi salam pada para pengajar.
Kesimpulan dari penjelasan bait:
Lafazh عِشْرُوْنَ dan saudara-saudaranya di-mulhaq-kan atau diikutkan kepada jamak mudzakkar salim dalam pengamalan I’rabnya. Seperti itu juga lafazh أهْلُوْنَ – عَالَمُوْنَ – أُوْلُوْ dan عِلِّيُّونَ.
Sedangkan untuk Lafazh اَرَضُوْنَ digaris-bawahi oleh Mushannif sebagai syadz dalam hal ke-mulhaq-annya. Seperti itu juga lafazh سِنُوْنَ dan babnya. Karena kedua lafazh ini adalah isim jenis bukan sifat, bukan isim alam, muannats, tidak berakal, tidak salim lafaz mufradnya, sama sekali tidak memiliki empat syarat untuk jamak mudzakkar salim. Oleh karena itu syadz-nya kedua lafazh tsb lebih kuat.
Disebutkan juga dalam bait: lafazh سِنِيْنَ dan babnya, di-I’rab semisal lafazh حِيْنٍ yakni, menetapkan huruf Ya’ dan Nun pada semua I’rabnya dengan dii’rab harkah zhahir atas Nun yang ditanwin pada nakirahnya.
Disebutkan pula dalam bait bahwa: ditemukan pada orang-orang arab yaitu mengi’rab semua lafazh jamak mudzakkar salim dan mulhaq-mulhaqnya semisal irab pada lafazh سِنِيْنَyang diserupakan dengan irab حِيْنٍ. ***
وَارْفَعْ بِوَاوٍ وَبِيَا اجْرُرْ وَانْصِبِ ¤ سَــــــــالِمَ جَمْعِ عَــــــــامِرٍ وَمُذْنِبِ
Rafa’kanlah dengan Wau!, Jar-kan dan Nashabkanlah dengan Ya’! terhadap Jama’ Mudzakkar Salim dari lafadz “‘Aamir” dan “Mudznib”
Telah disebutkan sebelumnya, dua bagian yang dii’rab dengan huruf pengganti I’rab asal yaitu Asmaus-Sittah dan Isim Mutsanna. Kemudian pada Bait ini Mushannif menyebut bagian ketiga tanda I’rab dengan Huruf untuk Jama’ Mudzakkar Salim berikut mulhaq-mulhaqnya yang akan disebut pada bait-bait selanjutnya. Yaitu tanda I’rab dengan Wau ketika Rafa’ dan dengan Ya’ ketika Nashab atau Jar-nya. Contoh:
أَفْلَحَ الآمِرُوْنَ بِالْمَعْروْفِ
Beruntunglah mereka yang memerintah dengan ma’ruf.
شَجِعْتُ الآمِرِيْنَ بِاْلمَعْرُوْفِ
Aku memberi motifasi kepada pemerintah-pemerintah dengan ma’ruf.
سَلَّمْتُ عَلَى الآمِرِيْنَ بِالْمَعْرُوْفِ
Aku memberi salam untuk mereka yang memerintah kepada yang ma’ruf.
Definisi Jamak Mudzakkar Salim adalah: Isim yang menunjukkan arti lebih dari dua dengan sebab tambahan huruf di akhirnya, dapat di-mufrad-kan dan di-athaf-kan berupa lafazh yang sama. Contoh:
فَرَحَ الْفَائِزُوْنَ
Bergembiralah orang-orang yang sukses.
Maka contoh kalimah isim diatas menunjukkan arti lebih dari dua, sebab huruf zaidah di akhirnya berupa wawu dan nun, dapat dipisah dibentuk mufrad (tunggal) dengan membuang huruf zaidah menjadi فائز berikut di-athaf-kan terdiri dari lafazh yang sama, maka menjadi جاء فائز وفائز آخر.
Maksud perkataan السالم “Salim” adalah selamat atau tidak berubah bentuk mufrad-nya ketika dibuat bentuk Jamak. artinya, tetap langgeng  lafazh mufrad –nya setelah dibuat Jamak, yakni huruf-hurufnya tidak mengalami perubahan,  baik jenisnya,  jumlahnya atau harkah-nya. kecuali karena ada proses I’lal. Misal المصطفى setelah dibuat jamak mudzakkar salim menjadi المصطفاون karena bertemu dua mati yaitu Alif dan Wau jamak, maka Alif dibuang dan menjadi المُصْطَفَوْنَ
Disebutkan pada bait diatas contoh lafazh عامر ومذنب “’Aamir dan Mudznib” menunjukkan bahwa kalimah yang boleh di bentuk jamak dengan Jama’ Mudzakkar Salim ada dua kategori, yaitu Isim Jamid (عامر ) atau Isim Sifat (مذنب) .
Disyaratkan untuk Isim Jamid yang dapat di-bentuk jamak dengan jama’ mudzakkar salim dengan 5 syarat:
1. Harus berupa Isim Alam / kata nama. Contoh: زيد “Zaid”. خالد “Khalid”. Tidak diperkenankan untuk isim jamid yang bukan isim alam contoh: غلام “anak kecil laki”, رجل “pria dewasa” kecuali jika dishighat tashghir/dibentuk mini, maka boleh karena otomatis menjadi Isim Sifat contoh: رجيل “si pria kecil” dapat dibentuk jama’ mudzakkar salim menjadi رجيلون.
2. Harus nama laki-laki, tidak diperkenankan untuk nama perempuan misal: زينب “Zainab” هند “Hindun” سعاد “Su’ad”.
3. Harus nama makhluk ber-akal (yakni dari jenis makhluk yang berakal termasuk bayi dan orang gila). Tidak diperkenankan untuk semisal nama hewan لاحق “Lahiq” nama kuda.
4. Harus kosong dari Ta’ Muannats Zaidah. Tidak diperkenankan untuk contoh: حمزة “Hamzah” طلحة “Thalhah”.
5. Bukan dari Isim Alam hasil Tarkib (berasal dari susunan kata) contoh سيبويه “Sibawaihi”.
Contoh Jama’ Mudzakkar Salim dari Isim Alam yang mencukupi Syarat :
جَاءَ زَيْدُوْنَ. هَنَأتُ زَيْدِيْنَ. مَرَرْتُ بِزَيْدِيْنَ
Zaid-Zaid telah datang. Aku membantu Zaid-Zaid. Aku berjumpa dengan Zaid-Zaid.
Disyaratkan untuk Isim Sifat yang dapat di-bentuk jamak dengan jama’ mudzakkar salim dengan 6 syarat:
1. Harus sifat bagi laki-laki, tidak diperkenankan seperti contoh: حائض “yang Haid” مرضع “yang menyusui”
2. Harus sifat bagi yang berakal, tidak diperkenankan untuk contoh: صاهل “yg meringkik” (sifat kuda)
3. Harus kosong dari ta’ muannats, maka tidak diperkenankan seperti contoh علامة “tanda” قائمة “sangga” صائمة “tenang”.
4. Bukan Isim sifat dengan wazan أفعل yang muannts-nya adalah فعلاء contoh: أحمر “yang merah” أخضر “yang hijau”.
5. Bukan Isim sifat dengan wazan فعلان yang muannts-nya adalah فعلى contoh: سكران “yang mabok”.
6. Bukan dari Isim Sifat yang sama bisa ditujukan untuk laki-laki dan atau perempuan contoh: صبور “yang sabar” جريح “yang terluka”
Contoh Jama’ Mudzakkar Salim dari Isim Sifat yang mencukupi Syarat :
فَرِحَ الْمُخَلَّفُونَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلَافَ رَسُولِ اللَّهِ وَكَرِهُوا أَنْ يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut perang) itu merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah.
وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.
وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا
Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.
Kesimpulan penjelasan bait: Rofa’kanlah dengan wau sebagai ganti dari dhammah, Jar-kanlah dengan Ya’ sebagai ganti dari kasrah, dan Nashab-kan juga dengan Ya’ sebagai ganti dari Fathah. Terhadap Jama’ Mudzakkar Salim dari lafazh ‘Aamir (isim Alam) dan Lafazh Mudznib (isim Sifat).
بِالأَلِفِ ارْفَع الْمُثَنَّى وَكِلاَ ¤ إذَا بِمُـــضْمَرٍ مُضَــافَاً وُصِلاَ
Rofa’-kanlah! dengan tanda Alif terhadap Isim Mutsanna, juga lafadz Kilaa apabila tersambung langsung dengan Dhamir, dengan menjadi Mudhaf.
كِلْتَا كَذَاكَ اثْنَانِ وَاثْنَتَانِ ¤ كَابْنَــيْنِ وَابْنَتَيْــنِ يَجْــرِيَانِ
Juga (Rofa’ dg tanda Alif) lafadz Kiltaa, begitupun juga lafadz Itsnaani dan Itsnataani sama (I’rob-nya) dengan lafadz Ibnaini dan Ibnataini keduanya contoh yang di jar-kan.
وَتَخْلُفُ الْيَا فِي جَمِيْعِهَا الأَلِفْ ¤ جَــــرًّا وَنَصْـــبَاً بَعْدَ فَتْـــحٍ قَدْ أُلِفْ
Ya’ menggantikan Alif (tanda Rofa’) pada semua lafadz tsb (Mutsanna dan Mulhaq-mulhaqnya) ketika Jar dan Nashab-nya, terletak setelah harakah Fathah yang tetap dipertahankan.

Kitab Hasyiyah Al-Khudhari penjelasan Syarah Ibnu 'Aqil
Telah disebutkan sebelumnya tanda I’rab dengan huruf sebagai pengganti dari I’rab Harakah yaitu pada Asmaus-Sittah. Selanjutnya pada Bait ini, Kiyai Mushannif Ibnu Malik menerangkan tentang I’rab pengganti asal bagian kedua, yaitu untuk tanda I’rob Isim Mutsanna (Kata benda dual) dan Muhaqnya (Isim yang diserupakan Isim Tatsniyah/Mutsanna).
Definisi Isim Tatsniyah/Mutsanna dalam ilmu nahwu dan Sharaf adalah: Satu lafazh kalimah yg menunjukkan dua buah objek, dikarenakan ada penambahan huruf zaidah di akhirnya, dapat dibentuk mufrad/tunggal beserta dapat dipisah dan diathafkan terdiri dari dua lafazh yang sama. Contoh Isim Tatsniyah:
زَيْدَانِ, ضَرْبَانِ, مُسْلِمَانِ
Dua Zaid, dua pukulan, dua orang Muslim.
4 macam kategori lafazh kalimah tidak bisa dikatakan Isim Tatsniyah/Mutsanna:
1. Lafazh menunjukkan dua objek, tapi bukan sebab huruf tambahan. Contoh:
شَفْعٌ
Sepasang
2. Lafazh ada tambahan huruf zaidah semisal Isim Tatsniyah, tapi tidak menunjukkan dua objek. Contoh:
•    Menunjukkan Mufrad/tunggal dari isim sifat:
رَجْلاَنُ، رَحْمَانُ، شَبْعَانُ، جَوْعَانُ، سَكْرانُ، نَدْمَانُ
Pejalan kaki, pengasih, yang kenyang, yang lapar, yang mabuk, tukang minum.
•    Menunjukkan Mufrad/tunggal dari isim alam / nama:
عُثْمَانُ، عَفَّانُ، حَسَانُ
Utsman, ‘Affan, Hasan
•    Menunjukkan Jamak dari jama’ taksir:
صِنْوَانٌ, غِلْمَانٌ, صِرْدَانٌ, رُغْفَانٌ, جُرْذَانٌ
Saudara-saudara sekandung, anak-anak muda, kumpulan burung-burung sejenis, adonan-adonan roti/keju, kumpulan tikus-tikus.
Masing-masing ketiga jenis contoh-contoh kalimah diatas di-I’rab dengan Harkah Zhahir pada Nun shighah bukan Nun maqom tanwin, sedangkan Alifnya adalah Lazim pada semua I’rabnya.
3. Lafazh menunjukkan dua buah tapi tidak dapat dimufrodkan/tunggal. Contoh:
اثْنَانِ
Dua
Tidak bisa dimufrodkan atau tidak bisa membuang huruf zaidah atau tidak bisa dilafalkan اثْنٌ.
4. Lafazh menunjukkan dua buah objek, ada tambahan huruf zaidah, bisa dimufrodkan/tunggal, bisa dipisah berikut diathafkan tapi bukan terdiri dari dua lafazh yang sama. Contoh sebagaimana orang arab mengatakan:
القَمَرَيْنِ
Dua planet yg menyinari bumi
Karena setelah dipisah dan di-athafkan menjadi الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ
اَبَوَيْنِ
Dua orang tua.
Karena setelah dipisah dan di-athafkan menjadi الأَبُ والأُمُّ
Tanda I’rob Isim Mutsanna/Tatsniyah
Tanda I’rob untuk Isim Mutsanna adalah Rofa’ dengan huruf Alif sebagai ganti dari I’rob asal harakah Dhammah, Nashab dengan Huruf Ya’ sebagai ganti dari Fathah juga Jar dengan huruf Ya’ sebagai ganti dari Kasroh. Contoh:
قَالَ رَجُلاَنِ مِنَ الَّذِينَ يَخَافُونَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمَا
Berkatalah dua orang diantara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya.
فَوَجَدَ فِيهَا رَجُلَيْنِ يَقْتَتِلاَنِ هَذَا مِنْ شِيعَتِهِ وَهَذَا مِنْ عَدُوِّهِ
didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Fir’aun).
قَدْ كَانَ لَكُمْ آيَةٌ فِي فِئَتَيْنِ الْتَقَتَا
Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur).
Demikianlah I’rob Isim Tatsniyah menurut sebagian besar logat orang Arab. Dan sebagian lain (logat bani Kinanah, Bani Harits bin Ka’ab, bani ‘Ambar, bani Bakar bin Wa’il, bani Zubaid, bani Kats’am, bani Hamdan, bani ‘Udzrah) mengamalkan Isim Mutsanna dan Mulhaqnya dengan tanda Alif secara muthlaq; baik rofa’, nashab dan jarnya. contoh:
جَاءَ الزَّيْدَانِ كِلاَهُمَا- رَأَيْتُ الزَّيْدَانِ كِلاَهُمَا- مَرَرْتُ بِالزَّيْدَانِ كِلاَهُمَا
Dua Zaid telah datang kedua-duanya – Aku melihat dua Zaid kedua-duanya – Aku bertemu dengan dua Zaid kedua-duanya.
Demikian juga sebagian Qiraah membaca Inna ditasydid pada Ayat:
قَالُوا إِنْ هَذَانِ لَسَاحِرَانِ
Mereka berkata: “Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir…”
Nabi bersabda:
لاَ وِترَانِ فِي لَيْلَةٍ
Tidaklah dua Witir dalam satu malam.
Tanda I’rob Muhaq kepada Isim Mutsanna/Tatsniyah
Termasuk juga untuk I’rob Isim yang diserupakan atau di-mulhaq-kan dengan Isim Mutsanna atau dikenal dengan sebutan Mulhaq Mutsanna, yaitu setiap isim/kata benda yang kurang mencukupi syarat definisi Isim Mutsanna. Di antara isim-isim mulhaq tsb. Sebagaimana disebutkan dalam bait adalah:
Kilaa dan kiltaa (كِلاَ وكِلْتَا), dengan prosedur sbb:
1. Diberlakukan seperti I’rab Isim Mutsanna, apabila Mudhaf pada Isim Dhamir. Contoh:
جَاءَنِيْ كِلاَهُمَا وَرَأَيْتُ كِلَيْهِمَا وََمَرَرْتُ بِكِلَيْهِمَا
Keduanya (male) mendatangiku, Aku melihat keduanya, Aku bertemu dengan keduanya
وَجَاءَتْنِيْ كِلْتَاهُمَا وَرَأَيْتُ كِلْتَيْهِِمَا وَمَرَرْتُ بِكِلْتَيْهِمَا
Keduanya (female) mendatangiku, Aku melihat keduanya, Aku bertemu dengan keduanya
العِلْمُ وَالعَمَلُ كِلاَهُمَا مَطْلُوْبٌ
Ilmu dan Amal, kedua-duanya dituntut.
إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ
Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah”
2. Diberlakukan seperti I’rab Isim Maqshur (tetap menggunakan Alif, pada Rafa’/Nashab/Jar). Apabila Mudhaf pada Isim Zhahir. Contoh:
جَائَنِيْ كِلاَ الرَّجُلَيْنِ وَكِلْتَا الْمَرْأَتَيْنِ وَرَأَيْتُ كِلاَ الرَّجُلَيْنِ وَكِلْتَا الْمَرْأَتَيْنِ وَمَرَرْتُ بِكِلاَ الرَّجُلَيْنِ وَكِلْتَا الْمَرْأَتَيْنِ
Datang kepadaku kedua pria dan kedua wanita itu. Aku melihat kedua pria dan kedua wanita itu. Aku berjumpa dengan kedua pria dan kedua wanita itu.
كِلْتَا الْجَنَّتَيْنِ آتَتْ أُكُلَهَا
Kedua buah kebun itu menghasilkan buahnya
Itsnaani dan Itsnataaani (اثْنَانِ واثْنَتَانِ), dengan prosedur sbb:
Diberlakukan Hukum I’rab seperti Isim Mutsanna tanpa syarat, sebagaimana contoh Isim Mutsanna/Tatsniyah lafazh Ibnaani dan Ibnataani (ابْنَانِ وابْنَتَانِ). Contoh:
حَضَرَ مِنَ الضُّيُوْفِ اثْنَانِ
Telah hadir dua orang dari tamu-tamu itu.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا شَهَادَةُ بَيْنِكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ حِينَ الْوَصِيَّةِ اثْنَانِ ذَوَا عَدْلٍ مِنْكُمْ
Hai orang-orang yang beriman, apabila salah seorang kamu menghadapi kematian, sedang dia akan berwasiat, maka hendaklah (wasiat itu) disaksikan oleh dua orang yang adil di antara kamu…
Kesimpulan penjelasan Bait: Isim Mutsanna/Tatsniyah di rofa’-kan dengan Alif, demikian juga Kilaa dan Kiltaa dengan syarat mudhaf dan mudhaf ilaih-nya harus isim dhamir. Sedangkan itsnaani dan itsnataani diberlakukan seperi Isim Mutsanna sebagaimana Ibnaani dan ibnataani. Adapun ketika dalam keadaan Nashab atau Jar, maka tanda irob-nya adalah Ya’ menempati tempatnya Alif ketika Rofa’. Semua tanda irab Isim Mutsanna dan mulhaq-nya jatuh sesudah harakah Fathah, karena fathah ini biasa berlaku untuk alif Tatsniyah. Maka tetap dipertahankan ketika bersama dengan Ya’.
الْمُضَافُ إِلَى يَاءِ الْمُتَكَلِّمِ
BAB MUDHAF PADA YA’ MUTAKALLIM
آخِرَ مَا أضِيْفَ لِلْيَا اكْسِرْ إِذَا ¤ لَمْ يَكُ مُعْتَلاً كَرَامٍ وَقَذَا
Berilah harkat kasroh pada akhir kalimah yg mudhof pada Ya’ Mutakallim. Dengan syarat apabila tidak berupa Isim Mu’tal. Contoh Isim Mu’tal seperti “Roomin” (Isim Mu’tal Manqush berakhiran Ya’ asalnya “Roomiyun”) dan contoh “Qodzaa” (Isim Mu’tal Maqshur berakhiran Alif)
أَوْ يَكُ كَابْنَيْنِ وَزَيْدِيْنَ فَذِي ¤ جَمِيْعُهَا الْيَا بَعْدُ فَتْحُهَا احْتُذِي
Atau berupa Isim yang seperti contoh “Ibnaini” (berupa Isim Tatsniyah) juga seperti contoh “Zaidiina” (berupa Isim Jamak Mudzakkar Salim). Kesemua Isim seperti contoh tersebut ini (yakni: Manqush, Maqshur, Tatsniyah dan Jamak Mudzakkar Salim), maka Ya’ Mutakallim yang jatuh sesudahnya diberi harkat Fathah.
وَتُدْغَمُ الْيَا فِيْهِ وَالْوَاوُ وَإِنْ ¤ مَا قَبْلَ وَاوٍ ضُمَّ فَاكْسِرْهُ يَهُنْ
Ya’ akhir kalimah diidghomkan pada Ya’ Mutakallim. Dan Wawu akhir kalimah (juga diidghomkan pada Ya’ Mutakallim, yakni setelah Wawu itu diganti Ya’). Jika huruf sebelum Wawu berharkat Dhommah, maka gantilah dengan harkat kasroh demikian menjadi ringan.
وَأَلِفَاً سَلِّمْ وَفِي الْمَقْصُوْر عَنْ ¤ هُذَيْلٍ انْقِلاَبُهَا يَاءً حَسَنْ
Tetapkan Salim (yakni selamat tanpa ada perubahan) pada Alif akhir kalimah (di dalam Isim Maqshur dan juga Isim Tatsniyah Marfu’). Perubahan Alif kepada Ya’ di dalam Isim Maqshur adalah baik menurut logat Bani Hudzail.
–••Ο••–
Bab ini dikhususkan untuk hukum-hukum Idhafah Isim kepada Ya’ Mutakallim. Merupakan hukum-hukum Idhofah yg dibahas secara tersendiri. Yakni Hukum Idhafah yang bertalian dengan Ya’ Mutakallim dan hukum Huruf akhir pada Isim yang menjadi Mudhaf.
Kaedah yang umum untuk bab ini adalah: wajib kasroh di akhir kalimah yang Mudhaf pada Ya’ Mutakallim untuk menyesuaikan (lil-munasabah) dengan Ya’ yg jatuh sesudahnya. Dan Ya’ Mutakallim diberi Sukun atau diharkati Fathah, dalam mahal Jar menjadi Mudhaf Ilaih.
Termasuk pada hukum yang umum dalam Bab ini adalah apabila Isim yang menjadi Mudhaf berupa:
1. Isim Mufrod Shohih. Semisal lafazh “KITAABUN”. Contoh:
كتابي جديد
KITAABIY JADIIDUN = Kitabku baru.
atau berupa Isim Mufrod yang serupa dengan hukum Shohih. Yakni, Isim yang berakhiran Wawu atau Ya’ dan huruf sebelumnya Sukun, seperti lafazh DALWUN, SHOFWUN, SAQYUN, ZHOBYUN. contoh:
سقيي الماءَ من دلوي فيه ثواب عظيم
SAQYIY AL-MAA’A MIN DALWIY FIIHI TSAWAABUN ‘AZHIIMUN = Pemberianku akan air minum dari timbaku, di dalamnya terdapat pahala yang besar.
2. Jamak Taksir Shohih Akhir. Semisal lafazh “THULLABUN”, “KUTUBUN”. Contoh:
كتبي مرتبة
KUTUBIY MUROTTABATUN = kitab-kitabku tersusun rapi
3. Jama’ Mu’annats Salim. Semisal lafazh “AKHOWAATUN”, “‘AMMAATUN”, “BANAATUN”. Contoh:
أزور عماتي وأَصِلُ أخواتي
AZUURU ‘AMMAATIY WA ASHILU AKHOWAATIY = aku mengunjungi Paman-paman ku dan bersilaturrahmi pada Saudara-saudaraku.
Kaidah I’rob untuk lafazh-lafazh mudhof pada contoh diatas adalah: Untuk lafazh Mudhof yang Marfu’ dikatakan Rofa’ dengan tanda dhommah muqoddar atas huruf sebelum Ya’ Mutakallim. Keterbatasan posisi oleh harkat yang bersesuaian merupakan pencegah dari I’rob Zhahirnya. Dan untuk lafazh Mudhof yang Manshub -selain Jamak Mu’annats Salim- dikatakan Nashob dengan tanda Fathah muqoddar dengan alasan yang sama. Demikian juga untuk Mudhof yang Majrur dikatakan Jar dengan tanda Kasroh Muqoddar dan alasan yg sama. Dan untuk yang Majrur dikatakan juga Jar dengan Kasroh Zhohir demikian untuk alasan kemudahan karena harkat Kasroh nampak dalam lafazhnya. Adapun Kaidah I’rob untuk Ya’ Mutakallim dalam hal ini adalah: Dhamir Muttashil mabni atas Sukun atau Fathah didalam mahal Jar sebab menjadi Mudhaf Ilaih.
¤¤¤
Dibedakan dari Kaidah yang umum yaitu terdapat pada empat masalah. Wajib memberi sukun pada akhir kalimah yang menjadi Mudhof, dan Ya’ Mutakallim menjadi mabni atas Fathah saja sebagai Mudhaf Ilaihnya dalam mahal Jar. Empat masalah tersebut adalah:
1. Isim Maqshur, seperti lafazh “FATAA”, “HUDAA”.
Hukumnya adalah wajib sukun pada akhir kalimah, karena berakhiran Alif. Ya’ Mutakallim wajib diharkati Fathah dikarenakan paling ringannya harkat. Pemberian harkat untuk menghidari bertemunya dua huruf mati. Maka Alif maqshur ditetapkan, kecuali menurut logat Bani Hudzail, dalam hal ini Alif ditukar dengan Ya’.
Contoh:
هدايَ خير طريق لنجاتي
HUDAAYA KHOIRU THORIIQIN LI NAJAATIY = Petunjuk untukku adalah paling benarnya jalan menuju keselamatanku.
Contoh bagi lughoh Bani Hudzail:
هديَ خير طريق لنجاتي
HUDAYYA KHOIRU THORIIQIN LI NAJAATIY = Petunjuk untukku adalah paling benarnya jalan menuju keselamatanku.
Contoh dalam Ayat Al-Qur’an :
قَالَ هِيَ عَصَايَ
QOOLA HIYA ‘ASHOO-YA = Berkata Musa: “Ini adalah tongkatku (QS. Thoha :18)
I’rob Lafazh ‘ASHOO-YA :
“ASHOO” = Mudhaf Menjadi Khobar dirofa’kan dengan Dhommah muqaddar atas Alif. Tercegah harkat Zhohirnya karena ta’adzdzur.
“YA” = Dhamir Mutakallim Muttashil mabni Fathah dalam mahal Jar menjadi Mudhaf Ilaih.
Contoh lagi Ayat dalam Al-quran:
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
QUL INNA SHOLAATIY WA NUSUKIY WA MAHYAAYA WA MAMAATIY LILLAAHI ROBBIL ‘AALAMIIN = Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. (QS. Al-An’am: 162).
2. Isim Manqush, seperti lafazh “AL-HAADIY”, “AD-DAA’IY”
Hukumnya adalah wajib sukun pada akhir kalimah, karena berakhiran hurut Ya’ yang di-idghomkan pada Ya’ Mutakallim. Dan Ya’ Mutakalli disini wajib diharkati Fathah.
Contoh:
الشرع هاديّ لطريق الخير
ASY-SYAR’U HAADIY-YA LI THORIIQIL-KHOIR = peraturan hukum (syara’) sebagai penunjukku menuju jalan kebenaran.
I’rob lafazh HAADIY-YA:
“HAADIY” = Mudhof dalam posisi menjadi Khobar, dirofa’kan dengan Dhommah yang dikira-kira (muqoddar) atas Ya’ yang di-idghomkan pada Ya’ Mutakallim. tercegah I’rob zhohirnya karena berat (lits-tsaqli).
“YA” = Ya’ Dhamir Muttashil Mutakallim mabni atas Fathah dalam mahal Jar menjadi Mudhof Ilaihi.
3. Isim Mutsanna/Tatsniyah berikut Mulhaq-mulhaqnya.
Hukumnya adalah wajib sukun pada akhir kalimah. Ya’ Mutakallim wajib diharkati Fathah. Nun dibuang karena Idhofah. Huruf Alif ditetapkan/Salim ketika Rofa, dan diidghomkan ketika Nashob atau Jar seperti pada Isim Manqush.
Contoh:
لن أجازى إلا بما قدمت يداي
LAN UJAZAA ILLAA BIMAA QODDAMAT YADAAYA = aku tidak akan mendapat balasan kecuali dengan apa yang telah diperbuat oleh kedua tanganku.
لا أعتمد في الرزق بعد الله إلا على يديّ
LAA A’TAMIDU FIR-RIZQI BA’DALLAAHI ILLAA ‘ALAA YADAYYA = aku tidak akan menguasai suatu rizki (harta) setelah Allah. kecuali atas hasil perbuatan kedua tanganku.
I’robnya lafazh YADAAYA: “YADAA” = Fail marfu’, tanda rofa’nya Alif. “YA” = Mudhaf Ilaih mabni fathah di dalam mahal Jar. Asalnya adalah “YADAAANI LIY”. NUN dan LAM dibuang karena Idhofah. Untuk contoh kedua YADAYYA: Ya’ akhir kalimah diidghomakan pada Ya’ Mutakallim.
Contoh di dalam Ayat Al-Qur’an:
مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ
MAA MANA’AKA AN TASJUDA LIMAA KHOLAQTU BI YADAYYA = apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. (QS. Shood :75)
I’rob pada lafaz YADAYYA: “YADAY” = Isim Mutsanna Majrur tanda Jarnya Ya’, dan diidghomkan pada Ya’ kedua yakni pada Ya’ Mutakallim yang menjadi Mudhaf Ilaih.
4. Jama’ Mudzakkaar Salim dan Mulhaq-mulhaqnya
Hukumnya adalah wajib sukun pada akhir kalimah. Ya’ Mutakallim wajib diharkati Fathah.
Dalam keadaa Rofa Wawu diganti Ya’ dan di-idghomkan pada Ya’ Mutakallim. Kemudian harkat Dhommah diganti Kasroh untuk menyesuaikan pada Ya’ Mutakallim (lil munasabah). Untuk keadaan Nashob dan Jar, Ya’ diidghamkan pada Ya’ Mutakallim. contoh:
أنتم مشاركيّ في الدعوة إلى الله
ANTUM MUSYAARIKIYYA FID-DA’WATI ILALLAAH = kalian adalah teman-tamanku di dalam dakwah ilallaah.
I’lal lafazh MUSYAARIKIYYA: asalnya MUSYAARIKUUNA LIY, Nun dan Lam dibuang karena Idhafah. Maka menjadi MUSYAARIKUUYA. Kemudian Wawu diganti Ya dan di-idghomkan pada Ya’ Mutakallim. Kemudian harkat Dhummah diganti Kasroh maka menjadi MUSYAARIKIYYA.
Contoh dalam Ayat Al-Qur’an:
وَمَا أَنْتُمْ بِمُصْرِخِيَّ
WAMAA ANTUM BI MUSHRIKHIYYA = dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku (QS. Ibrohim : 22)
Jumhur Qiro’ah membaca lafazh MUSHRIKHIYYA dengan Fathah pada Ya’ tasydid. karena asalnya Ya’ jamak yang sukun diidghomkan pada Ya’ Mutakallim yang Fathah, maka harkat Fathah ditetapkan. Sedangkan Qiro’ah Hamzah (sebagian dari Qiro’ah Sab’ah) membaca kasrah pada Ya tasydid menjadi MUSHRIHIYYI demikian termasuk dari salah satu lugot bangsa Arab, dan apabila sebelum wawu berharkat Fathah seperti contoh MUSHTHOFAUNA, maka harkat Fathah tentu ditetapkan menjadi MUSHTHOFAYYA.

–••Ο••–
المُنَادَى المُضَافُ إلَى يَاء المُتَكَلِّمِ
BAB MUNADA MUDHAF PADA YA’ MUTAKALLIM
وَاجْعَلْ مُنَادًى صَحَّ إنْ يُضِفْ لِيَا ¤ كَعَبْدِ عَبْدِي عَبْدَا عَبْدِيَا
Jika Munada Shahih akhir mudhaf pada Ya’ Mutakallim maka buatlah serupa contoh Abdi, Abdiy, Abdaa atau Abdayaa. 
–••Ο••–
Munada yang dimudhafkan pada Ya’ Mutakallim bisa berupa Isim Mu’tal Akhir atau Shahih Akhir.
Apabila berupa Isim Mu’tal Akhir, maka hukumnya sama dengan ketika tidak menjadi Munada, sebagaimana penjelasannya dalam Bab Mudhaf pada Ya’ Mutakallim, yaitu menetapkan Ya Mutakallim dengan berharkat fathah, contoh:
يا فتايَ
YAA FATAAYA = Hai Pemudaku!
يا قاضيَّ
YAA QAADIYA = Hai Hakimku !
oOo
Apabila berupa Isim Shahih, maka boleh dibaca dengan lima cara :
1. Membuang Ya’ Mutakallim dan menetapkan harkat kasrah sebagai dalil terbuangnya Ya’ Mutakallim. Cara yang pertama ini adalah yang paling banyak digunakan, contoh :
يا غلامِ
YAA GHULAAMI = wahai anak mudaku !
Contoh dalam Ayat Al-Qur’an :
يَا عِبَادِ فَاتَّقُونِ
YAA ‘IBAADI FAT-TAQUUN = Maka bertakwalah kepada-Ku hai hamba-hamba-Ku (QS. Azzumar 16)
Lafazh ‘IBAADI = Munada Mudhaf, Manshub tanda nashabnya Fathah Muqaddar di atas huruf sebelum Ya’ Mutakallim yg dibuang untuk takhfif/meringankan, dicegah i’rab zhahirnya karena Isytighol mahal/ termuatnya posisi dengan huruf yang sesuai. Ya’ yg terbuang adalah Dhamir Mutakallim Mabni Sukun pada posisi Jarr sebagai Mudhaf Ilaih.
2. Menetapkan Ya’ dengan berharkat Sukun, Cara yang keduan ini juga yang paling banyak digunakan setelah cara yg pertama, contoh:
يا غلامي
YAA GHULAAMIY = wahai pemudaku !
Contoh dalam Ayat Al-Qur’an dengan menetapkan Ya’ sukun oleh sebagian Qiro’ah Sab’ah bacaan Abu ‘Amr dan Ibnu “Amir:
يَا عِبَادِيْ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ وَلَا أَنتُمْ تَحْزَنُونَ
YAA ‘IBAADIY LAA KHOUFUN ‘ALAIKUMUL-YAUMA WA LAA ANTUM TAHZANUUN. = “Hai hamba-hamba-Ku, tiada kekhawatiran terhadapmu pada hari ini dan tidak pula kamu bersedih hati.(Az-Zukhruf 68)
Lafazh IBAADIY = Munada Manshub, tanda nashabnya Fathah muqaddar diatas Ya’ yg dibuang. Ya’ dhamir mutakallim mabni sukun dalam posisi Jarr sebagai Mudhaf Ilaih.
3. Mengganti Ya’ dengan Alif kemudian membuangnya, menetapkan harkat Fathah sebagai dalil terbuangnya Alif, contoh:
يا غلامَ
YAA GHULAAMA = wahai pemudaku !
Lafazh GHULAAMA = Munada Mudhaf Manshub, tanda nashabnya Fathah zhahir. Ya’ Mutakallim diganti Alif yg terbuang dalam mahal Jar Mudhaf Ilaih.
4. Mengganti Ya’ dengan Alif yg ditetapkan, contoh:
يا غلامَا
YAA GHULAAMAA = wahai pemudaku !
Contoh dalam Ayat Al-Qur’an:
يَا أَسَفَى عَلَى يُوسُفَ
YAA ASAFAA ‘ALAA YUUSUFA = “Aduhai duka citaku terhadap Yusuf” (QS. Yusuf 84)
Lafazh ASAFAA = Munada Manshub, tanda nashabnya dengan fathah zhahir, Ya’ Mutakallim digantikan Alif sebagai Dhamir yg mabni atas sukun dalam mahal Jar Mudhaf Ilaih.
5. Menetapkan Ya’ dengan berharkat Fathah, contoh :
يا غلامِيَ
YAA GHULAAMIYA = wahai pemudaku!
contoh dalam Ayat Al-Qur’an :
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ
QUL YAA ‘IBAADIYAL-LADZIINA ASROFUU ‘ALAA ANFUSIHIM = Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri (QS. Az-Zumar :53)
Lafazh ‘IBAADIYA = Munada dinashabkan dengan Fathah Muqaddar, Ya’ mutakallim dhamir mabni fathah dalam mahal jarr menjadi Mudhaf Ilaih.
Lima cara bacaan diatas dalam hal yang paling banyak digunakan, yaitu : dengan membuang Ya’ Mutakallim dan cukup dengan harkat kasrah pada akhir kalimat, kemudian menetapkan Ya’ sukun atau berharkat Fathah, kemudian mengganti Ya’ dengan Alif, kemudian membuang Alif, terakhir cukup dengan Fathah akhir kalimah.
باب التَّرْخِيمُ
BAB TARKHIM 
تَرْخِيماً احذِفْ آخِرَ المُنَادَى ¤ كَيَاسُعَا فِيمَنْ دَعَا سُعَادا
Buanglah dengan di-tarhim pada akhir kalimah Munada, seperti contoh “Yaa Su’aa” didalam perkataan orang yg memanggil nama Su’aad.
وَجَوِّزَنْهُ مُطْلَقاً فِي كُلِّ مَا ¤ أُنِّثَ بِالهَا وَالَّذِي قَدْ رُخِّمَا
Perbolehkanlah tarkhim secara mutlak pada setiap Munada yg dita’nits dengan Ha’ (ta’ marbutoh). Dan terhadap Munada yg ditarkhim… (ke bait selanjutnya) 
بحَذْفهَا وَفِّرْهُ بَعْدُ وَاحْظُلَا ¤ تَرْخِيمَ مَا مِنْ هذِهِ الْهَا قَدْ خَلا
…dengan membuang Ha’ ta’nits tsb, pertahankan setelah itu. Cegahlah tarkhim terhadap munada yg kosong dari Ha’ ta’nits… 
إلّا الرُّبَاعِيَّ فَمَا فَوقُ الْعَلَمْ ¤ دُونَ إضَافَةٍ وَإسْنادٍ مُتَمْ
kecuali berupa isim empat huruf atau lebih yg berupa isim alam bukan tarkib idhafah atau tarkib Isnad tamm. 
–••Ο••–
Pengertian Tarkhim menurut bahasa adalah melunakkan suara. Menurut Istilah Ilmu Nahwu adalah pembuangan akhir kalimah didalam Nida’ dengan cara khusus umumnya untuk meringankan.
Macam-macam Tarhim :
1. Tarkhim Munada
2. Tarkhim Dharurah
3. Tarkhim Tashghir (dijelaskan pada bab Tashghir)
Pembagian Isim yg ditarkhim
1. Barakhiran Ha’
2. Tidak berakhiran Ha’
Jika Isim tersebut diakhiri dengan Ha’ maka boleh ditarkhim secara mutlak yakni baik berupa Isim ‘Alam semisal “Faathimah”, “Hamzah”, atau bukan Isim ‘Alam semisal “Jaariyah”, baik berupa Isim lebih dari tiga huruf atau tetap tiga huruf semisal “Syaatun”. Maka menjadi “Yaa Faathima”, “Yaa Hamza”, “Yaa Syaa”.
Contoh:
ياشا إدجني
YAA SYAA IDZJINIY! = hai kambing tinggalah/diamlah disini.
lafazh SYAA asalnya SYAATUN ditarkhim dengan membuang akhir kalimah yg berupa huruf Ha’ Muannats (huruf ta’ marbuthoh disebut Ha’ karena ketika wakof dibaca Ha’).
Jika Isim tersebut tidak berakhiran Ha’ muannats, maka boleh ditarkhim dengan tiga syarat sbb:
1. Harus Isim empat huruf atau lebih.
2. Harus isim ‘Alam.
3. Harus bukan tarkib idhofi atau tarkib isnadi.
Apabilah ketiga syarat diatas tidak terpenuhi, maka isim yg tidak berakhiran Ha’ tersebut tidak boleh ditarhim, semisal hanya terdiri dari tiga huruf “zaidun”, “umar” atau bukan isim Alam “qoo’imun” “jaalisun” atau berupa terkib idhafi “Abdul Aziz” atau berupa tarkib Isnadi “Syaaba Qornaahaa”. (InsyaAllah akan dijelaskan bagian-bagiannya pada bait selanjutnya)
تعدي الفعل ولزومه
FI’IL MUTA’ADDI DAN FI’IL LAZIM
عَلاَمَةُ الْفِعْلِ الْمُعَدَّى أَنْ تَصِلْ ¤ هَا غَيْرِ مَصْدَرٍ بِهِ نَحْوُ عَمِلْ
Tanda Kalimah Fi’il yang Muta’addi adalah dibenarkan kamu menyambungnya dengan “HA” dhamir selain yg merujuk pada Masdar. Demikian seperti contoh “AMILA = melakukan”
فَانْصِبْ بِهِ مَفْعولَهُ إِنْ لَمْ يَنُبْ ¤ عَنْ فَاعِلٍ نَحْوُ تَدَبَّرْتُ الْكُتُبْ
Maka nashobkanlah dengan Fi’il Muta’addin ini terhadap Maf’ulnya jika ia lagi tidak menggantikan Fa’il (tidak menjadi Naibul Fa’il) demikian seperti contoh: “TADABBARTU ALKUTUBA = aku menelaah banyak kitab”
–••Ο••–
FI’IL TAM TERBAGI MENJADI MUTA’ADDI DAN LAZIM:

توضيح المقاصد والمسالك بشرح ألفية ابن مالك
1. Definisi Fi’il Muta’addi adalah: kalimah Fi’il yg sampai kepada Maf’ul tanpa perantara Huruf Jar atau perantara Huruf ta’diyah lainnya. Contoh:
ضربت زيدا
DHOROBTU ZAIDAN = Aku memukul Zaid.
2. Definisi Fi’il Lazim adalah: kalimah Fi’il yg tidak sampai kepada Maf’ul kecuali perantara Huruf Jar atau perantara Huruf ta’diyah lainnya semisal Huruf Hamzah lit-ta’diyah.
Contoh Fi’il Lazim tidak sampai kepada Maf’ul kecuali perantara Huruf Jar:
مررت بـزيد
MARORTU BI ZAIDIN = aku melewati Zaed.
Contoh Fi’il Lazim tidak sampai kepada Maf’ul kecuali perantara Hamzah:
أخرجت الزكاة
AKHROJTU AZ-ZAKAATA = aku mengeluarkan zakat.
¤¤¤
TANDA-TANDA FI’IL MUTA’ADDI DAN FI’IL LAZIM:
1. Tanda-tanda Fi’il Muta’addi:
1. Dapat disambung dengan HA Dhamir yg tidak merujuk pada Masdar (yakni Dhamir Maf’ul Bih).
2. Dapat dibentuk shighat Isim Maf’ul Tam (tampa kebutuhan huruf jar).
Contoh dapat bersambung dengan HA Dhamir yg tidak merujuk pada Masdar *
ضربتــه
DHOROBTUHUU = aku memukulnya
* bukan sebagai tanda Fi’il Mutaadi, karena HA dhamir merujuk pada Masdar sama bisa disambung dengan Fi’il Muta’addi juga Fi’il Lazim, contoh:
الضرب ضربتــه
ADH-DHORBU DHOROBTUHUU = pukulan itu aku yg memukulnya
القيام قمتــه
AL-QIYAAMU QUMTUHUU = berdiri itu aku yg berdirinya
Demikian juga bersambung dg HA dhamir merujuk pada Zhorof (zaman/makan), tidak boleh sebagai tanda Fi’il Muta’addi, sebab butuh tawassu’/taqdir huruf jar, contoh:
الليلةَ قمتــها والنهارَ صمتــها
ALLAILATA QUMTUHAA, WAN-NAHAARO SHUMTUHAA = aku berdiri di malam hari dan aku berpuasa di siang hari.
Sesungguhnya taqdirannya sebelum membuang huruf jar adalah:
الليلةَ قمت فيها والنهارَ صمت فيه
ALLAILATA QUMTU FII HAA, WAN-NAHAARO SHUMTU FII HAA.
¤¤¤
Tambahan:
Sebagian ulama Nuhat berpendapat bahwa kalimah Fi’il terbagi menjadi tiga: 1. MUTA’ADDI, 2. LAZIM dan ditambah 3. Fi’il TIDAK MUTA’ADDI PUN TIDAK LAZIM: yaitu KAANA dan saudara-saudaranya, sebab KAANA tidak menashobakan Maf’ul Bih juga tidak dapat dimuta’addikan dengan huruf jar, seperti itu juga Fi’il-fi’il yg kadang ditemukan Muta’addi sendirinya dan kadang Muta’addin dengan perantara huruf jar, seperti contoh:
شكرتــه وشكرت له
SYAKARTUHUU dan SYAKRTU LAHUU = aku berterima kasih padanya
نصحتــه ونصحت له
NASHOHTUHUU dan NASHOHTU LAHUU = aku menasehatinya.
Maka dikatakan bahwa KAANA cs, tidaklah keluar dari pembagian Fi’il yg dua. KAANA termasuk dari Fi’il Muta’addi karena khobarnya diserupakan Maf’ul Bihnya.
Demikian juga lafazh SYAKARTU wa SYAKARTU LAHUU cs… tidaklah keluar dari dua pembagian fi’il: dikatakan Fi’il Muta’adi karena lafaz SYAKARTU LAHUU Huruf Jar sebagai Zaidah. Atau dikatakan Fi’il Lazim karena lafazh SYAKARTU naza’ khofidh atau membuang huruf jar.
Hukum Fi’il Muta’addi adalah: menashobkan terhadap MAF’UL BIH yg tidak menjadi NAIBUL FAA’IL
Pengertian MAF’UL BIH (objek) adalah: Isim yg dinashobkan yg dikenai langsung oleh pekerjaan FA’IL tanpa perantaraan, baik dalam kalam Mutsbat (kalimat positif) atau dalam kalam Manfi (kalimat negatif):
Contoh KALAM MUTSBAT
فهمت الدرس
FAHIMTU AD-DARSA = aku memahami pelajaran
Contoh KALAM MANFI
لم أفهم الدرس
LAM AFHAM AD-DARSA = aku tidak memahami pelajaran.
¤¤¤
2. Tanda-tanda Fi’il Lazim:
Akan dijelaskan pada bait selanjutnya… Insya Allah.
تعدي الفعل ولزومه
FI’IL MUTA’ADDI DAN FI’IL LAZIM
عَلاَمَةُ الْفِعْلِ الْمُعَدَّى أَنْ تَصِلْ ¤ هَا غَيْرِ مَصْدَرٍ بِهِ نَحْوُ عَمِلْ
Tanda Kalimah Fi’il yang Muta’addi adalah dibenarkan kamu menyambungnya dengan “HA” dhamir selain yg merujuk pada Masdar. Demikian seperti contoh “AMILA = melakukan”
فَانْصِبْ بِهِ مَفْعولَهُ إِنْ لَمْ يَنُبْ ¤ عَنْ فَاعِلٍ نَحْوُ تَدَبَّرْتُ الْكُتُبْ
Maka nashobkanlah dengan Fi’il Muta’addin ini terhadap Maf’ulnya jika ia lagi tidak menggantikan Fa’il (tidak menjadi Naibul Fa’il) demikian seperti contoh: “TADABBARTU ALKUTUBA = aku menelaah banyak kitab”
–••Ο••–
FI’IL TAM TERBAGI MENJADI MUTA’ADDI DAN LAZIM:

توضيح المقاصد والمسالك بشرح ألفية ابن مالك
1. Definisi Fi’il Muta’addi adalah: kalimah Fi’il yg sampai kepada Maf’ul tanpa perantara Huruf Jar atau perantara Huruf ta’diyah lainnya. Contoh:
ضربت زيدا
DHOROBTU ZAIDAN = Aku memukul Zaid.
2. Definisi Fi’il Lazim adalah: kalimah Fi’il yg tidak sampai kepada Maf’ul kecuali perantara Huruf Jar atau perantara Huruf ta’diyah lainnya semisal Huruf Hamzah lit-ta’diyah.
Contoh Fi’il Lazim tidak sampai kepada Maf’ul kecuali perantara Huruf Jar:
مررت بـزيد
MARORTU BI ZAIDIN = aku melewati Zaed.
Contoh Fi’il Lazim tidak sampai kepada Maf’ul kecuali perantara Hamzah:
أخرجت الزكاة
AKHROJTU AZ-ZAKAATA = aku mengeluarkan zakat.
¤¤¤
TANDA-TANDA FI’IL MUTA’ADDI DAN FI’IL LAZIM:
1. Tanda-tanda Fi’il Muta’addi:
1. Dapat disambung dengan HA Dhamir yg tidak merujuk pada Masdar (yakni Dhamir Maf’ul Bih).
2. Dapat dibentuk shighat Isim Maf’ul Tam (tampa kebutuhan huruf jar).
Contoh dapat bersambung dengan HA Dhamir yg tidak merujuk pada Masdar *
ضربتــه
DHOROBTUHUU = aku memukulnya
* bukan sebagai tanda Fi’il Mutaadi, karena HA dhamir merujuk pada Masdar sama bisa disambung dengan Fi’il Muta’addi juga Fi’il Lazim, contoh:
الضرب ضربتــه
ADH-DHORBU DHOROBTUHUU = pukulan itu aku yg memukulnya
القيام قمتــه
AL-QIYAAMU QUMTUHUU = berdiri itu aku yg berdirinya
Demikian juga bersambung dg HA dhamir merujuk pada Zhorof (zaman/makan), tidak boleh sebagai tanda Fi’il Muta’addi, sebab butuh tawassu’/taqdir huruf jar, contoh:
الليلةَ قمتــها والنهارَ صمتــها
ALLAILATA QUMTUHAA, WAN-NAHAARO SHUMTUHAA = aku berdiri di malam hari dan aku berpuasa di siang hari.
Sesungguhnya taqdirannya sebelum membuang huruf jar adalah:
الليلةَ قمت فيها والنهارَ صمت فيه
ALLAILATA QUMTU FII HAA, WAN-NAHAARO SHUMTU FII HAA.
¤¤¤
Tambahan:
Sebagian ulama Nuhat berpendapat bahwa kalimah Fi’il terbagi menjadi tiga: 1. MUTA’ADDI, 2. LAZIM dan ditambah 3. Fi’il TIDAK MUTA’ADDI PUN TIDAK LAZIM: yaitu KAANA dan saudara-saudaranya, sebab KAANA tidak menashobakan Maf’ul Bih juga tidak dapat dimuta’addikan dengan huruf jar, seperti itu juga Fi’il-fi’il yg kadang ditemukan Muta’addi sendirinya dan kadang Muta’addin dengan perantara huruf jar, seperti contoh:
شكرتــه وشكرت له
SYAKARTUHUU dan SYAKRTU LAHUU = aku berterima kasih padanya
نصحتــه ونصحت له
NASHOHTUHUU dan NASHOHTU LAHUU = aku menasehatinya.
Maka dikatakan bahwa KAANA cs, tidaklah keluar dari pembagian Fi’il yg dua. KAANA termasuk dari Fi’il Muta’addi karena khobarnya diserupakan Maf’ul Bihnya.
Demikian juga lafazh SYAKARTU wa SYAKARTU LAHUU cs… tidaklah keluar dari dua pembagian fi’il: dikatakan Fi’il Muta’adi karena lafaz SYAKARTU LAHUU Huruf Jar sebagai Zaidah. Atau dikatakan Fi’il Lazim karena lafazh SYAKARTU naza’ khofidh atau membuang huruf jar.
Hukum Fi’il Muta’addi adalah: menashobkan terhadap MAF’UL BIH yg tidak menjadi NAIBUL FAA’IL
Pengertian MAF’UL BIH (objek) adalah: Isim yg dinashobkan yg dikenai langsung oleh pekerjaan FA’IL tanpa perantaraan, baik dalam kalam Mutsbat (kalimat positif) atau dalam kalam Manfi (kalimat negatif):
Contoh KALAM MUTSBAT
فهمت الدرس
FAHIMTU AD-DARSA = aku memahami pelajaran
Contoh KALAM MANFI
لم أفهم الدرس
LAM AFHAM AD-DARSA = aku tidak memahami pelajaran.
¤¤¤
2. Tanda-tanda Fi’il Lazim:
Akan dijelaskan pada bait selanjutnya… Insya Allah.
يَنُوبُ مَفْعُولٌ بِهِ عَنْ فَاعِلِ ¤ فِيما لَهُ كَنيِلَ خَيْرُ نَائِلِ
Maf’ul bih menggantikan Fa’il di dalam semua hukumnya. Seperti contoh: “NIILA KHOIRU NAA-ILI=anugerah terbaik telah diperoleh”.
–••Ο••–
Naibul Fa’il adalah Isim yg dirofa’kan baik secara lafzhan atau mahallan, menggantikan dan menempati tempatnya Fa’il yg tidak disebutkan, dan Fi’ilnya dibentuk Mabni Majhul. Baik isim yg menggantikan itu asalnya berupa Maf’ul bih atau serupanya sepeti Zhorof, Masdar dan Jar-majrur.
Contoh bentuk kalimat asal :
أكرم خالد الغريب
AKROMA KHOOLIDUN AL-GHORIIBA = Kholid menghormati orang asing itu
Contoh bentuk kalimat setelah Fa’ilnya dibuang dan Fi’ilnya dibentuk Mabni Majhul:
أُكْرِم الغريب
UKRIMA AL-GHOORIBU = Orang asing itu dihormati
Pada contoh ini lafazh AL-GHOORIBU adalah Naibul Fa’il menggantikan Fa’ilnya yg dibuang. Lafazh UKRIMA adalah kalimah Fi’il Madhi yang dibentuk Mabni Majhul.
Dengan demikian apabila Fa’ilnya dibuang karena suatu alasan baik alasan bangsa Lafzhiy atau bangsa Ma’nawiy (lihat Motif al-Hadzf/alasan membuang lafazh) maka pembuangan Fa’il ini menimbulkan dua keputusan:
1. Merubah Fi’ilnya ke bentuk Majhul
2. Menempatkan Pengganti Fa’il pada posisi Fa’il berikut hukum2nya, semisal: harus Rofa’, harus berada setelah Fi’ilnya, sebagai pokok kalimat, hukum ta’nits pada fi’ilnya, dan lain-lain (lihat BAB FA’IL) .
وَصِلْ أَوِ افْصِلْ هَاء سَلْنِيْهِ وَمَا ¤ أَشْبَهَـهُ فِي كُنْـتُهُ الْخُــلْفُ انْتَمَى
Muttashil-kanlah atau Munfashil-kanlah..! (boleh memilih) untuk Dhomir Ha’ pada contoh lafadz سَلْنِيْهِ dan lafadz yang serupanya. Adapun perbedaan Ulama bernisbatkan kepada lafadzكُنْتُهُ
كَـــذَاكَ خِلْتَنِيْــهِ وَاتِّصَــــــالاَ ¤ أَخْتَأارُ غَيْرِي اخْتَارَ الانْفِصَالاَ
Seperti itu juga, yaitu lafadz خِلْتَنِيْهِ , aku memilih menggunakan Dhomir Muttashil, selainku memilih menggunakan Dhomir Munfashil
–••Ο••–
Boleh menggunakan Dhamir Munfashil beserta masih memungkinkan menggunakan Dhamir Muttashil, yg demikian ada di tiga permasalahan:
PERMASALAHAN PERTAMA: Amilnya berupa Fi’il yang bukan Amil Nawasikh yg serupa A’THOO Cs menashabkan dua maf’ul yg berupa dua Dhamir, dhamir yg pertama lebih khusus dari dhamir yg kedua (yakni, dhamir mutakallim lebih khusus dari dhamir mukhothob dan dhamir mukhothob lebih khusus dari dhamir ghaib).
Contoh menggunakan dhamir Muttashil:
الكتاب سلـنيه
AL-KITAABU SALNII HI = Mintalah kitab itu padaku..!
Boleh menggunakan dhamir Munfashil contoh:
الكتاب سلـني إياه
AL-KITAABU SALNII IYYAAHU = Mintalah kitab itu padaku..!
Jika dhamir yg pertama tidak lebih khusus dari dhamir yg kedua, maka wajib menggunakan dhamir Munfashil. Contoh:
الكتاب أعطاه إياك زيد
ALKITAABU A’THOO HU IYYAKA ZAIDUN = Zaid memberikan kitab itu kepadamu
Atau jika kedua dhamir itu tidak nashab semuanya yakni salah satunya, maka wajib menggunakan Dhamir Muttashil contoh:
النظام أحببـته
AN-NIZHAAM AHBABTU HU = aku menyukai undang-undang itu.
PERHATIAN:
Dalam permasalahan pertama ini, lebih diutamakan menggunakan dhamir Muttashil daripada dhamir Munfashil, mengingat pada hukum asalnya (lihat Penggunaan Bentuk Dhamir  » Alfiyah Bait 63) beserta dikokohkan oleh dalil dalam Al-Qur’an, contoh:
فَسَيَكْفِيـكَهُمُ اللَّهُ
FASAYAKFIIKAHUMU-LLAAHU = Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka (Al-Baqarah : 137)
أَنُلْزِمُـكُمُوهَا وَأَنْتُمْ لَهَا كَارِهُونَ
ANULZIMUKUMUUHAA WA ANTUM LAHAA KAARIHUUN = Apa akan kami paksakankah kamu menerimanya, padahal kamu tiada menyukainya? (Hud : 28)
إِنْ يَسْأَلْـكُمُوهَا
IN YAS-ALKUMUUHAA = Jika Dia meminta harta kepadamu (Muhammad : 47)
Terkadang ditemukan menggunakan dhamir Munfashil sebagaimana dalil dalam Hadits. Oleh karenanya dalam masalah ini, penggunaan dhamir Muttashil tidaklah wajib dan penggunaan dhamir Munfashil tidak khusus pada Syair saja. Contoh dalam Hadits:
أَفَلَا تَتَّقِي اللهَ فِيْ هَذِهِ الْبَهِيْمَةِ الَّتِى مَلَكَّـكَ اللهُ إِيَّاهَا
Tidakkah engkau bertakwa kepada Allah dalam binatang ini, yang telah dijadikan sebagai milikmu oleh Allah? (Shahih Muslim).
PERMASALAHAN KEDUA: bersambung….
–••Ο••–
وَفِي اخْتِيَارٍ لاَ يَجِيء الْمُنْفَصِلْ ¤ إذَا تَــــأَتَّى أنْ يَجِيء الْمُتَّــصِلْ
Dalam keadaan bisa memilih, tidak boleh mendatangkan Dhomir Munfashil jika masih memungkinkan untuk mendatangkan Dhomir Muttashil.
–••Ο••–
Jikalau masih memungkinkan menggunakan dhamir Muttashil janganlah menggantikannya dengan dhamir Munfashil. Sebab dhamir digunakan untuk tujuan meringkas kata. Bentuk dhamir Muttashil jauh lebih ringkas daripada Dhamir Munfashil. Contoh:
أكرمتـك
AKROMTUKA = aku memulyakanmu
jangan mengatakan:
أكرمت إياك
AKROMTU IYYAKA = aku memulyakanmu
Terkadang di beberapa tempat ada yg harus menggunakan dhamir Munfashil karena tidak memungkinkan menggunakan dhamir Muttashil diantaranya adalah:
1. Dhamir dikedepankan dari Amilnya karena suatu motif semisal untuk Faidah Qashr, contoh:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan (al-Fatihah : 5)
2. Dhamir Jatuh sesudah ILLA, contoh:
وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia (Al-Israa’ : 23)
3. Dhamir dipisah dari Amil oleh Ma’mul lain, contoh:
يُخْرِجُونَ الرَّسُولَ وَإِيَّاكُمْ
mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu (Al-Mumtahanah : 1)
4. Dharurah Syi’ir, contoh:
بالباعث الوارث الأموات قد ضمنت إياهم الأرض في دهر الدهارير
–••Ο••–
وَذُو انْتِصَابٍ فِي انْفِصَالٍ جُعِلاَ¤ إيَّايَ وَالْتَّـــفْرِيْعُ لَيْسَ مُشْـــكِلاَ
Dhamir yang Manshub pada Dhamir Munfashil, dijadikannya seperti lafazh “IYYAAYA”, berikut cabang-cabangnya tanpa ada kesulitan (mudah dalam menentukannya).
–••Ο••–
Telah dijelaskan bahwa Dhamir Munfasil dari segi mahal I’robnya ada dua macam:
1. Mahal Rofa’ (Dhamir Munfashil Marfu‘ > lihat penjelasannya Dhamir Munfasil Marfu’  » Alfiyah Bait 61)
2. Mahal Nashab (Dhamir Munfashil Manshub).
Dhamir Munfashil Manshub semuanya berjumlah 12 dhamir:
Rinciannya sbb:
1. Untuk Mutakallim (orang pertama) terdapat 2 bentuk dhamir
- IYYAAYA = mutakallim wahdah = PADAKU
- IYYAANAA = mutakallim ma’al-ghair aw mu’azh-zham nafsah = PADA KAMI atau PADAKU pengagungan diri.
2. Untuk Mukhothob (orang ke dua) terdapat 5 bentuk dhamir:
- IYYAAKA = mufrad mudzakkar = PADAMU (LK)
- IYYAAKI = mufrad muannats = PADAMU (PR)
- IYYAAKUMAA = mutsanna mudzakkar/muannats = PADAMU BERDUA (LK/PR)
- IYYAAKUM = jamak mudzakkar = PADA KALIAN (LK)
- IYYAAKUNNA – jamak muannats = PADA KALIAN (PR)
3. Untuk Ghaib (orang ketiga) terdapat 5 bentuk dhamir:
- IYYAAHU = mufrad mudzakkar = PADANYA (LK)
- IYYAAHAA = mufrad muannats = PADANYA (PR)
- IYYAAHUMAA = mutsanna mudzakkar/muannats = PADANYA BERDUA (LK/PR)
- IYYAAHUM = jamak mudzakkar = PADA MEREKA (LK)
- IYYAAHUNNA – jamak muannats = PADA MEREKA (PR)
LIHAT TABEL BERIKUT:
DHAMIR MUNFASHIL MANSHUB
ORANG KETIGA(GHAIB)    ORANG KEDUA(MUKHOTHOB)    ORANG PERTAMA(MUTAKALLIM)
إياه    إياكَ    إياي
إياها    إياك    إيانا
إياهما    إياكما   
إياهم    إياكم   
إياهن    أياكن   
–••Ο••–
وَذُو ارْتِفَاعٍ وَانْفِصَالٍ أَنَا هُوْ¤ وَأَنْــتَ وَالْفُـــرُوْعُ لاَ تَشْــتَبِهُ
Dhomir Rofa’ dan Munfasil, yaitu seperti أَنَا, هُوْ, أَنْتَ dan cabang-cabangnya yg tidak ada kemiripan
–••Ο••–
Telah dijelaskan bahwa Dhamir Bariz dibagi dua:
1.    Dhamir Bariz Muttashil/Dhamir Muttashil (telah dijelaskan pada bait lalu lihat Pengertian Dhamir Muttashil, Alfiyah Bait 55-56)
2.    Dhamir Bariz Munfashil/Dhamir Munfasil.
Dhamir Munfashil adalah Isim Dhamir yang dapat dijadikan permulaan dan bisa berada setelah lafazh ILLA.
Contoh bisa dijadikan permulaan kalimat
Firman Allah:
هم العدوّ فاحذرهم
Mereka itulah musuh (yang sebenarnya) maka waspadalah terhadap mereka (Al-Munaafiquun : 4)
Contoh bisa berada setelah lafazh ILLA
Firman Allah:
وقضى ربّك ألا تعبدوا إلا إياه
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia (Al-Israa’ : 23)
Dhamir Munfasil dari segi mahal I’robnya hanya ada dua:
1. Mahal Rofa’ (Dhamir Munfasil Marfu’)
2. Mahal Nashab (Dhamir Munfashil Manshub > akan dijelaskan pada bait selanjutnya Insyaallah).
Dhamir Munfasil Marfu’ semuanya berjumlah 12 dhamir:
Rinciannya sbb:
1. Untuk Mutakallim (orang pertama) terdapat 2 bentuk dhamir
-      ANA = mutakallim wahdah = AKU
-      NAHNU = mutakallim ma’al-ghair aw mu’azh-zham nafsah = KAMI atau AKU mengagungkan diri.
2. Untuk Mukhothob (orang ke dua) terdapat 5 bentuk dhamir:
-      ANTA = mufrad mudzakkar = KAMU (LK)
-      ANTI = mufrad muannats = KAMU (PR)
-      ANTUMAA =  mutsanna mudzakkar/muannats = KAMU BERDUA (LK/PR)
-      ANTUM = jamak mudzakkar = KAMU SEKALIAN (LK)
-      ANTUNNA – jamak muannats = KAMU SEKALIAN (PR)
3. Untuk Ghaib (orang ketiga) terdapat 5 bentuk dhamir:
-      HUWA = mufrad mudzakkar = DIA (LK)
-      HIYA = mufrad muannats = DIA (PR)
-      HUMAA = mutsanna mudzakkar/muannats = DIA BERDUA (LK/PR)
-      HUM = jamak mudzakkar = MEREKA (LK)
-      HUNNA – jamak muannats = MEREKA (PR)
LIHAT TABEL BERIKUT:
DHAMIR MUNFASIL MARFU’
ORANG KETIGA
(GHAIB)    ORANG KEDUA
(MUKHOTHOB)    ORANG PERTAMA
(MUTAKALLIM)
هو    أنت    أنا
هي    أنت    نحن
هما    أنتما   
هم    أنتم   
هن    أنتن   
–••Ο••–
وَمِنْ ضَمِيْرِ الْرَّفْعِ مَا يَسْتَتِرُ ¤ كَافْعَلْ أوَافِقْ نَغتَبِطْ إذْ تُشْكرُ
Dhomir Mustatir ada pada sebagian dhomir Rofa’. Seperti pada contoh: افْعَلْ أوَافِقْ نَغتَبِطْ إذْ تُشْكرُ (ket: افْعَلْ = Fi’il ‘Amar untuk satu mukhotob, taqdirannya انت . dan أوَافِقْ = Fi’il Mudhori’ untuk satu Mutakallim, taqdirannya انا. dan نَغتَبِطْ = Fi’il Mudhori’ untuk Mutakallim Ma’al Ghair, taqdirannya نحن . dan تُشْكرُ = Fi’il Mudhori’ untuk satu Mukhotob, taqdirannya انت)
–••Ο••–
Telah dijelaskan pada pelajaran dahulu bahwa dhamir ada dua golongan 1. Isim Dhamir Bariz (mempunyai bentuk lafazh) dan 2. Isim Dhamir Mustatir (tidak mempunyai bentuk lafaz).
Dhamir Mustatir (ضامر مستتر) atau dhamir yang tidak berbentuk Lafazh, ada dua macam 1. Wajib Mustatir dan 2. Jaiz Mustatir
1. Wajib Mustatir واجب الاستتار
Pengertian dhamir yang Wajib Mustatir adalah:  Isim Dhamir Mustatir dimana posisinya tidak bisa digantikan oleh Isim Zhahir pun oleh Isim Dhamir Munfashil. contoh:
أَقُوْمُ بِوَاجِبِيْ نَحْوَ قَرَابَتِيْ
aku menunaikan kewajibanku pada keluargaku
Contoh أقوم pada kalimat diatas, mempunyai Fa’il (subjek) yang berupa Isim Dhamir Mustatir yang wajib. takdirannya adalah  أنا (saya), maka posisi dhamir ini tidak bisa digantikan isim zhahir  semisal أقوم خالد. Atau tidak bisa digantikan isim dhamir munfashil semisal أقوم أنا dengan maksud sebagai Fa’ilnya, bisa juga dilafalkan demikian, akan tetapi ia bukan Fail tapi sebagai taukid bagi damir mustatir.
Isim Dhamir wajib mustatir menempati pada 10 kategori kalimah. lihat tabel berikut :
ISIM DHAMIR WAJIB MUSTATIR
NO    TEMPAT WAJIB MUSTATIR    CONTOH
1    Fi’il Amar untuk satu mufrad (laki-laki)    فَــاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ
Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu
2    Fi’il Mudhari’ yang diawali Hamzah Mudhara’ah untuk Mutakallim (aku lk/pr)    وَأُفَوِّضُ أَمْرِي إِلَى الله
Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah
3    Fi’il Mudhari’ yang diawali Nun Mudhara’ah untuk Mutakallim Ma’al Ghair (kami lk/pr)    نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ الْقَصَصِ
Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik
4    Fi’il Mudhari’ yang diawali Ta’ Mudhara’ah untuk Mukhatab Mufrad (kamu satu laki-laki)    تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ
Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki
5    Isim Fi’il Amar    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ
Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu
6    Isim Fi’il Mudhari’    فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ
maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah”
7    Fi’il Ta’ajub    مَا أَحْسَنَ الصِّدْقَ
Alangkah indahnya kenyataan ini
8    Isim Masdar yang menggantikan tugas Fi’ilnya    وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
Dan kepada kedua orang tua, berbuat baiklah!
9    Fi’il-Fi’il Istitsna’ seperti خلا، عدا، حاشا    حَضَرَ الضُّيُوْفُ خَلاَ وَاحِداً
Tamu-tamu sudah hadir selain satu orang
10    Perangkat Istitsna semisal ليس    مَا أُنْهِرَ اَلدَّمُ وَذُكِرَ اِسْمُ اَللَّهِ عَلَيْهِ فَكُلْ لَيْسَ اَلسِّنَّ وَالظُّفْرَ
Apa yang dapat menumpahkan darah dengan diiringi sebutan nama Allah, makanlah, selain gigi dan kuku
2. Jaiz Mustatir جائز الاستتار
Pengertian dhamir yang Jaiz Mustatir adalah:  Isim Dhamir mustatir dimana posisinya bisa digantikan oleh Isim Zhahir pun oleh Isim Dhamir Munfashil. yaitu kalimah Fi’il untuk Mufrad Ghaib (subjek orang ketiga tunggal male) contoh:
فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ
Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung.
kalimah Fi’il untuk Mufrad Ghaibah (subjek orang ketiga tunggal female) contoh:
وَقَالَتْ لِأُخْتِهِ قُصِّيهِ
Dan berkatalah ibu Musa kepada saudara Musa yang perempuan
kalimah Isim Fi’il Madhi. contoh:
الصَّدِيْقُ هَيْهَاتَ
jauh sekali dari kebenaran.
Isim Sifat yang murni, semisal Isim Fa’il. Contoh:
وَلَمَّا جَاءَهُمْ رَسُولٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ
Dan setelah datang kepada mereka seorang Rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa (kitab) yang ada pada mereka
Maka lafazh مُصَدِّقٌ terdapat dhamir Mustatir Jaiz takdirannya adalah هُوَ tertuju kepada lafazh رَسُولٌ
Kitab Alfiyah Ibnu Malik » Bab Nakirah dan Ma’rifah » Bait 57-58-59

–••Ο••–
وَكُـلُّ مُضْمَرٍ لَـهُ الْبِنَا يَجِبْ ¤ وَلَفْظُ مَا جُرَّ كَلَفْظِ مَا نُصِبْ
Semua Dhomir wajib Mabni. Lafadz Dhomir yang dijarrkan, sama bentuknya dengan lafadz Dhomir yang dinashobkan.
لِلرَّفْعِ وَالْنَّصْبِ وَجَرَ نا صَلَحْ ¤ كَاعْـرِفْ بِنَا فَـإِنَّنَا نِلْـنَا الْمِـنَحْ
Dhomir Muttashil نا mencocoki semua bentuknya dalam mahal Rofa’, Nashob, dan Jarrnya. Seperti contoh lafadz: اعْرِفْ بِنَا فَإِنَّنَا نِلْنَا الْمِنَحْ ( ket. بنا = Mahal Jarr, فَإِنَّنَا = Mahal nashab, نِلْنَا = Mahal rofa’)
وَأَلِفٌ وَالْــوَاوُ وَالْنُّوْنُّ لِمَا ¤ غَابَ وَغَيْرِهِ كَقَامَا وَاعْلَمَا
Alif, Wau dan Nun, termasuk Dhomir Muttashil untuk Ghoib juga Hadhir. Seperti contoh: قَامَا (Alif Dhomir Muttashil Ghoibain, artinya: “mereka berdua telah berdiri”) dan contoh: اعْلَمَا (Alif Dhomir Muttashil Mukhothobain, artinya: “ketahuilah kalian berdua!”).
–••Ο••–
Telah dijelaskan pada pelajaran dahulu dalam bab Mu’rab dan Mabni, bahwa semua lafazh dhamir adalah mabni. Dan tentunya kemabnian isim dhamir tersebut menempati pada mahal/posisi irabnya masing-masing.
Untuk Dhamir Muttashil (ضمير متصل) didalam mahal irabnya terdapat tiga kategori:
(1). Hanya menempati pada Mahal Rofa’ saja. yaitu ada 5 bentuk dhamir:
1- Ta’ dhamir Mutaharrik/berharkah (التاء المتحرك). dhamir hadir (untuk Mutakallim, mukhatab , atau mukhatabah). contoh:
فَإِذَا عَزَمْـتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.
2- Alif Tatsniyah (الف الإثنين). (untuk dhamir hadir juga ghaib)  contoh:
فَخَانَتـَـاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيـَـا عَنْهُمَا مِنَ اللهِ شَيْئًا
lalu kedua isteri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah
3- Wau Jamak (واو الجماعة), (untuk dhamir hadir juga ghaib) contoh:
وَإِذَا أَظْلَمَ عَلَيْهِمْ قَامُــوْا
dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti
4- Ya’ Mukhatabah (ياء المخاطبة) (untuk dhamir hadir) contoh:
فَكُلِــيْ وَاشْرَبِــيْ وَقَرِّيْ عَيْنًا
maka makan (kamu pr) , minum (kamu pr) dan bersenang hatilah kamu (pr)
5- Nun Jamak muannats (نون الإناث) (dhamir hadir juga ghaib) contoh:
وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْــنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلاَثَةَ قُرُوءٍ
Wanita-wanita yang ditalak handaklah (mereka pr) menahan diri (menunggu) tiga kali quru’.

(2). sama bisa menempati pada Mahal Nashab dan Jar saja . yaitu ada 3 bentuk dhamir:
1. Ya’ Mutakallim, (dhamir hadir) contoh:
قَالَ يَا قَوْمِ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كُنْتُ عَلَى بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّــيْ وَآتَانِــيْ مِنْهُ رَحْمَةً
Shaleh berkata: “Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan diberi-Nya aku rahmat (kenabian) dari-Nya
2. Kaf Mukhatab (dhamir hadir)  contoh:
مَا وَدَّعـَـكَ رَبـُّـكَ وَمَا قَلَى
Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu
3. Ha’ Ghaib (dhamir ghaib) contoh:
قَالَ لـَـهُ صَاحِبـُـهُ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ
Kawannya (yang mukmin) berkata kepadanya – sedang dia bercakap-cakap dengannya

(3). Sama bisa menempati pada Mahal Rafa’, Nashab dan Jar . yaitu 1 bentuk dhamir berupa “Naa” (نا) (dhamir hadir).
contoh:
رَبـَّـنَا إِنـَّـنَا آمَــنَّا فَاغْفِرْ لَــنَا ذُنُوبَــنا وَقِــنَا عَذَابَ النَّارِ
Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman (kami), maka ampunilah (kami) segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka
Ada juga bentuk isim dhamir yang sama bisa digunakan pada semua mahal i’rab (rafa’, nashab dan jar) yaitu هُمْ dan ي. Namun statusnya tidak seperti نا yang digaribawahi oleh Kiyai Mushannif Ibnu Malik tsb. karena khusus نا adalah satu-satunya bentuk isim dhamir Muttashil dan Mutakallim yang dapat digunakan pada semua kedudukan i’rab.
Contoh هم:
Sebagai dhamir Munfashil ketika mahal Rafa’:
هُمُ الَّذِينَ يَقُولُونَ لاَ تُنْفِقُوا عَلَى مَنْ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ حَتَّى يَنْفَضُّوا
Mereka orang-orang yang mengatakan (kepada orang-orang Anshar): “Janganlah kamu memberikan perbelanjaan kepada orang-orang (Muhajirin) yang ada disisi Rasulullah supaya mereka bubar (meninggalkan Rasulullah).
Sebagai dhamir Muttashil ketika mahal Nashab:
سَلـْـهُمْ أَيـُّـهُمْ بِذَلِكَ زَعِيمٌ
Tanyakanlah kepada mereka: “Siapakah di antara mereka yang bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil itu?”
Juga sebagai dhamir Muttashil ketika mahal Jar:
وَمِنـْـهُمْ مَنْ يَقُولُ ائْذَنْ لِي وَلاَ تَفْتِنِّي أَلاَ فِي الْفِتْنَةِ سَقَطُوا
Di antara mereka ada orang yang berkata: “Berilah saya keizinan (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus dalam fitnah.” Ketahuilah bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah
Contoh ي:
Sebagai dhamir mua’annats mukhatabah (kamu pr) ketika mahal Rafa’:
فَكُلِــيْ وَاشْرَبِــيْ وَقَرِّيْ عَيْنًا
maka makan (kamu pr) , minum (kamu pr) dan bersenang hatilah kamu (pr)
Sebagai dhamir mutakallim (lk/pr) ketika mahal Nashab:
وَآتَانِــي مِنْهُ رَحْمَةً
dan diberi-Nya aku rahmat (kenabian) dari-Nya
Juga sebagai dhamir mutakallim (lk/pr) ketika mahal Jar:
أَنِ اشْكُرْ لِــيْ وَلِوَالِدَيْكَ
Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu

Kesimpulan Bait diatas: semua dhamir adalah Mabni. diantara isim dhamir ada yang mencocoki bentuknya dalam mahal jar dan mahal nashab. kemudian digaris bawahi oleh Mushannif bahwa dhamir نا “naa” mencocoki bentuknya untuk semua mahal i’rab yang tiga (rafa’-nashab-jar) sebagaimana contoh dalam bait: بِنَا فَإنَّنَا نِلْنَا. disebutkan bahwa dhamir yang berupa Alif tatsniyah, Wau jamak dan Nun jamak muannats, adalah dhamir mahal Rafa’ bisa digunakan untuk Ghaib juga Hadir* (*mukhatab saja). sebagimana contoh bait: قَامَا واعْلَمَا.
Kitab Alfiyah Ibnu Malik » Bab Nakirah dan Ma’rifah » Bait 55-56

–••Ο••–
وَذُو اتِّصَالٍ مِنْهُ مَا لاَ يُبْتَدَا ¤ وَلاَ يَلِي إلاَّ اخْتِيَــــارَاً أبَــدَا
Dhomir Muttashil adalah Isim Dhomir yang tidak bisa dijadikan permulaan dan tidak boleh mengiringi إلا selama masih bisa memilih demikian..
كَالْيَاءِ وَالْكَافِ مِنِ ابْني أكْرَمَكْ ¤ وَالْيَــاءِ وَالْهَا مِنْ سَلِيْهِ مَا مَلَكْ
Seperti Ya’ dan Kaf dari contoh lafadz: ابْني أكْرَمَكْ (Ya’ Mutakallim dan Kaf Mukhothob), dan seperti Ya’ dan Ha’ dari contoh lafadz: سَلِيْهِ مَا مَلَكْ (Ya’ Mukhatabah dan Ha’ Ghaib)
–••Ο••–
Isim Dhamir dari segi penampakannya ada dua golongan:
(1). Dhamir Bariz (بارز) : adalah Isim Dhamir yang mempunyai bentuk penampakan lafazh secara hakikiyah (kongkrit) atau secara hukmiyah (abstrak).
Contoh dhamir bariz yang hakikiyah
أَكْرَمـْتُ الْغَرِيْبَ
Aku memulyakan orang asing itu.
Contoh dhamir bariz yang hukmiyah:
جََََََاءَ الَّذِيْ أَكْرَمْتُ
seorang yang aku mulyakan telah datang
(maksudnya: أَكْرَمْتُــهُ yang aku memulyakan-nya. maka dhamir yang berupa ـه “nya” pada contoh kalimat diatas, ada secara hukumnya).
(2). Dhamir Mustatir (مستتر): adalah Isim Dhamir yang tidak mempunyai bentuk lafazh. contoh:
حَافِظْ عَلَى الصَّلاَةِ
Peliharalah… shalat !
(yakni, حَافِظْ أنْتَ Peliharalah olehmu…!)

Dhamir Bariz ada dua macam:
1. (ضمير بارز متصل) Dhamir Bariz Muttashil
2. (ضمير بارز منفصل) Dhamir Bariz Munfashil (akan diterangkan pada bait-bait selanjutnya)
(ضمير بارز متصل) Dhamir Bariz Muttashil/dhamir muttashil: adalah dhamir yang tidak bisa dijadikan permulaan kalimat dan tidak bisa berada setelah lafazh إلا secara ikhtiar (اختيارا) “pemilihan”, maksud ikhtiar adalah longgar atau lowong dalam susunan kalimat tidak sempit semisal pada dharurah syi’ir. Contoh Dhamir Muttashil:
اِسْتَمَعْـتُ لِلْمُحَاضَرَةِ
Aku mendengarkan ceramah
Contoh syawahid syair yang melafalkan dhamir bariz muttashil jatuh sesudah إلا secara Syadz:
أَعُوذُ بِرَبِّ الْعَرْشِ مِنْ فِئَةٍ بَغَتْ × عَلَيَّ فَمَالِي عَوْضُ إِلاّهُ نَاصِرُ
Aku berlindung pada Tuhan yang memiliki Arsy….
daripada golongan orang yang menganiayaiku……
maka sebab itu….
tidaklah bagiku seorang penolong kecuali Dia selamanya….
(syahid pada syair diatas adalah pada lafazh إِلاّهُ dimana dhamir muttashil jatuh setelah إِلاّ adalah Syad,  yakni tidak boleh kecuali pada dharurah syi’il)
Demikian juga Dhamir muttashil jatuh sesudah “Illa” pada syair berikut:
وَمَا عَلَيْنَا إِذَا مَاكُنْتِ جَارَتَنَا × ألاَّ يُجَاوِرَنَا إِلاَّكِ دَيَّارُ
(wahai kekasih…)
tidaklah kami menaruh perhatian…
bilamana dikau sudi menjadi tetangga kami…
seakan tidak ada tetangga lain kecuali hanya dikau seorang…
◊◊◊
فَمَا لِذِي غَيْبَةٍ أوْ حُضُورِ ¤ كَأَنْـتَ وَهْـوَ سَمِّ بِالضَّمِيْرِ
Setiap Isim yang menunjukkan arti ghaib dan hadir seperti contoh: انت dan هم , maka namakanlah! Isim Dhomir.

Pengertian Isim Dhamir (kata ganti): Isim Jamid yang menunjukkan pada Mutakallim (orang pertama), Mukhatab (orang kedua) atau Ghaib (orang ketiga). contoh:
أنَا عَرَفْتُ وَاجِبِيْ
Aku mengetahui  kewajibanku
أنْتَ تَحْتَرِمُ أَبَاكَ
Engkau menghormati ayahmu
المُؤْمِنُ يَصُوْنُ عِرْضِــهِ
Seorang Mu’min menjaga kehormatan dirinya.
Maksud Isim Jamid: tidak mempunyai asal bentuk pun tidak terdapat bentuk pecahannya. Dhamir Mutakallim dan dhamir Mukhatab keduanya disebut dhamir hadir, karena suatu yang didhamirkan ada secara hadir pada waktu pengucapan.
الْنَّكِرَةُ وَالْمَعْرِفَةُ
Bab Nakirah dan Makrifah
نَكِرَةٌ قَـــــابِلُ أَلْ مُؤثِّــــرَاً ¤ أَوْ وَاقِعٌ مَوْقِعَ مَا قَدْ ذُكِرَا
Nakirah adalah Isim yang dapat menerima AL pemberi bekas Ma’rifah, atau Isim yang menempati tempatnya Isim tersebut (dapat menerima AL Ma’rifah).
وَغَيْــرُهُ مَعْرِفَـةٌ كَــهُمْ وَذِي ¤ وَهِنْـدَ وَابْنـيِ وَالْغُلاَمِ وَالَّذِي
Selain tersebut (pengertian Isim Nakirah) dinamakan Isim Ma’rifah, yaitu seperti هم (Isim Dhamir), ذي (Isim Isyarah), هند (Isim Alam), ابني (Isim Mudhaf), الغلام (Isim dg AL ma’rifah) dan الذي (Isim Maushul).
Kalimah Isim/kata benda dibagi menjadi Isim Nakirah (tak tentu) dan Isim Ma’rifah (tertentu).
°°°
Isim Nakirah
Definisi Isim Nakirah adalah: Kalimah isim menunjukkan pada sesuatu secara kesatuan yang tidak ditentukan. contoh:
جَاءَ طَالِبٌ
Penuntut telah datang
قَدِمَ ضَيْفٌ
Tamu telah tiba
Ada dua jenis isim Nakirah:
(1). Kalimah Isim dapat dipasangi AL dan membekaskan ma’rifah atau menjadikannya tertentu. contoh:
كِتَابٌ، رَجُلٌ
Buku, Laki-laki
maka dapat dipasangi AL dan membekaskan Ma’rifah menjadi contoh:
الرَّجُلُ شُجَاعٌ، الكِتَابُ نَفِيْسٌ
Laki-laki itu pemberani, Buku itu sangat bagus.
(2). Kalimah Isim menduduki kedudukan Isim yang dapat dipasangi AL, seperti lafazh ذُوْ  artinya “pemilik” sinonim dengan lafazh صَاحِبٌ “pemilik“. contoh
جَاءَ ذُوْ عِلْمٍ
seorang yang berilmu telah datang
pada contoh ini maksudnya adalah صَاحِبُ عِلْمٍ “pemilik Ilmu” maka lafadz ذُوْ adalah isim nakirah yang tak dapat dijodohkan dengan AL, akan tetapi ia menduduki kedudukan Isim yang dapat dipasangi AL pemberi bekas ma’rifah, yaitu lafazh صَاحِبُ.
°°°
Isim Ma’rifah
Definisi Isim Ma’rifah adalah: Kalimah isim menunjukkan pada sesuatu secara kesatuan yang tertentu. contoh:
أَنْتَ مُخْلِصٌ
Enkau seorang yang tulus.
Ada dua jenis isim Ma’rifah:
(1). Kalimah Isim tidak dapat dipasangi AL,  pun tidak  menduduki kedudukan Isim dapat dipasangi AL. Contoh:
جَاءَ عَلِيٌّ
Sayyidina Ali telah datang.
(2). Kalimah Isim dapat menerima AL, akan tetapi tidak membekaskan ma’rifat. contoh:
جَاءَ الْعَبَّاسُ
Sayyidina ‘Abbas telah datang.
contoh AL pada lafazh العباس tidak berfungsi mema’rifahkan, karena ia sudah ma’rifah sebab Isim ‘Alam.  Mengenai AL jenis ini, Insya-Allah akan diterangkan pada Babnya sendiri. untuk sementara bisa dijadikan rujukan  » Terjemah Alfiyah Bab Ma’rifat sebab alat Ta’rif.
°°°
Isim  Ma’rifah ada Tujuh:
1. Isim Dhamir, menurut qaul yg shahih merupakan paling ma’rifahnya dari  isim-isim ma’rifah setelah lafazh Jalalah. contoh:
أنَا، أنْتَ، هُوَ
aku, kamu, dia
2. Isim Alam, contoh:
خَالِدٌ، زَيْنَبُ، مَكَّةُ
khalid, zainab, makkah
3. Isim Isyarah, contoh:
هَذَا، هَذِهِ، هَؤُلاَءِ
ini (male), ini (female), ini (jamak)
4. Isim Maushul, contoh:
الَّذِيْ، الَّتِيْ، الَّذِيْنَ
yang tunggal (lk), yang tunggal (pr), yang jamak(lk/pr)
5. Isim yg dima’rifahkan oleh AL, contoh:
الْكِتَابُ، الطَّالِبُ
kitab itu, siswa itu
6. Isim Mudhaf pada isim ma’rifah, contoh:
كِتَابِيْ جَدِيْدٌ. كَلاَمُ عَلِيٍّ بَلِيْغٌ
kitabku baru, perkataan Ali fasih
7. Isim Nakirah Maqshudah (dari sebagian Munada, jika dimaksudkan kepada satu orang tertentu) contoh:
يَا طَالِبُ أَجِبْ
hai siswa… jawablah!
Kesimpulan pembahasan Bait: Isim Nakirah adalah isim yang dapat dipasangi AL yang membekaskan ma’rifah, atau isim menempati kedudukan isim yang dapat dipasangi AL. selain isim Nakirah dinamakan Isim Ma’rifah. disebutkan 6 jenis Isim alam: Isim Dhamir, Isim Alam, Isim Isyarah, Isim Maushul,  Isim yg dima’rifahkan oleh AL, Isim Mudhaf pada isim ma’rifah, dan tidak diuraikan yang ke 7 yaitu Nakirah Maqshudah, karena sempitnya Nadzam.
نِعْمَ وَبِئْسَ وَمَا جَرَى مَجْرَاهُمَا
Ni’ma dan Bi’sa dan kalimah yang berlaku seperti keduanya
فِعْلانِ غيْرُ مُتَصَرِّفَيْنِ ¤ نِعْمَ وَبِئْسَ رَافِعَان اسْمَيْنِ
Dua Fi’il yang tidak mutasharrif (Fi’il jamid) yaitu NI’MA dan BI’SA, keduanya merofa’kan kepada Isimnya masing-masing (sebagai Fa’ilnya)
مُقَارِنَىْ ألْ أوْ مَضَا فَينِ لِمَا ¤ قَارَنَهَا كَنِعِمَ عُقْبَى الكُرَما
baik Failnya bersambung dengan AL, atau mudhaf pada isim yang bersambung AL. contoh: NI’MA ‘UQBAL-KUROMAA’I=sebaik-baik balasan bagi orang-orang mulia
وَيَرْفَعَانِ مُضْمَراً يُفَسِّرُهُ ¤ مُمَيِّزٌ كَنِعْمَ قَوْماً مَعْشَرُهُ
atau merofa’kan pada Dhamir yang ditafsiri oleh Tamyiz, contoh: NI’MA QOUMAN MA’SYAROHU = sebaik-baiknya kaum yaitu kerabatnya
–••Ο••–
NI’MA dan BI’SA adalah kata kerja/kalimah Fi’il yang menunjukkan makna PUJIAN dan CELAAN secara umum. Keduanya berupa Fi’il Madhi yang jamid menetapi zaman madhi dan tentunya memiliki Fail / Subjek. Akan tetapi kedua Fi’il ini tidak ada penunjukan zaman setelah keduanya berikut Failnya dijadikan kalimat berupa jumlah insya’ ghairu tholabiy.
Penampakan Fa’il/subjeknya ada empat macam :
1. Menyandang alif lam (AL) baik disebut AL Jinsiyah atau AL ‘Ahdiyah.
Contoh:
نعم الخلق الصدق
NI’MAL-KHULUQU ASH-SHIDQU = sebaik-baik akhlaq yaitu jujur.
وبئس الخلق الكذب
WA BI’SAL-KHULUQU AL-KIDZBU = dan seburuk-buruk akhlaq yaitu dusta.
Contoh Ayat Al-Qur’an:
نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيرُ
NI’MAL-MAULAA WA NI’MAN-NASHIIRU = Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong. (QS. Al-Anfaal:40)
Lafazh NI’MA = Fi’il Madhi Jamid untuk menyatakan pujian.
Lafazh MAULAA = Fa’ilnya, dirofa’kan dengan dhammah muqaddar karena udzur.
2. Mudhaf kepada Isim yang menyandang AL.
Contoh:
نعم قائد المسلمين خالد
NI’MA QAA’IDUL-MUSLIMIINA KHAALIDUN = sebaik-baik panglima muslimin yaitu Khalid.
وبئس رجل القوم أبو جهل
WA BI’SA RAJULUL-QAUMI ABUU JAHLIN = dan seburuk-buruk lelaki suatu kaum yaitu Abu Jahal.
Contoh dalam Ayat Al-Qur’an:
ولنعم دار المتقين
WA LA NI’MA DAARUL-MUTTAQIIN = dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa (An-Nahl:30)
وبئس مثوى الظالمين
WA BI’SA MATSWAZH-ZHOOLIMIIN = dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zalim (QS. Ali ‘Imran:151)
3. Mudhaf kepada Isim yang Mudhaf kepada Isim menyandang AL.
Contoh:
نعم حافظ كتاب الله
NI’MA HAAFIZHU KITAABILLAAHI = sebaik-baik orang yang hafal Kitab Allah.
وبئس مهمل أوامر القرآن
WA BI’SA MUHMILI AWAAMIRIL-QUR’AANA = seburuk-buruk orang yang menelantarkan perintah-perintah Al-Qur’an.
(Bentuk Fa’il yang nomer 3 ini, oleh Mushannif tidak disebutkan dalam Bait.)
4. Fa’ilnya Berupa Dhamir Mustatir dan setelahnya ada Isim Nakirah sebagai penafsir dari kesamaran tentang Dhamir Mustatir tersebut.
Contoh:
نعم صديقا الكتاب
NI’MA SHADIIQAN AL-KITAABU = sebaik-baik teman yaitu kitab
بئس خلقا خلف الوعد
BI’SA KHULUQAN KHULFUL-WA’DI = seburuk-buruk perangai yaitu tidak menepati janji.
Contoh dalam Ayat Al-Qur’an:
بئس للظالمين بدلا
BI’SA LIZH-ZHOOLIMIINA BADALAN = Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim
Lafazh BI’SA = Fi’il Madhi Jamid untuk menyatakan celaan, Fa’ilnya berupa Dhamir Mustatir wujuban, takdirannya Huwa.
Lafazh BADALAN = Tamyiz yang menafsiri Fa’il Dhamir Mustatir tsb.
النِّدَاءُ
BAB NIDA’
وَلِلْمُنَادَى النَّاءِ أوْ كَالنَّاءِ يَا ¤ وَأيْ وَآ كَذا أيَا ثُمَّ هَيَا
Penggunaan huruf Nida’ (kata seru) untuk Munada jauh atau berhukum jauh, yaitu “Yaa”, “Ay” dan “Aay”. Demikian juga “Ayaa”, dan “Hayaa”.
وَالهَمْزُ لِلدَّانِي وَوَا لِمَنْ نُدِبْ ¤ أوْ يَا وَغَيْرُ وَا لَدَى اللَّبْسِ اجْتُنِبْ
Hamzah “A” untuk Munada dekat. “Waa” digunakan untuk Mandub yg diratapi atau menggunakan “Yaa”, adapun penggunaannya selain “Waa” dilarang ketika ada kesamaran (antara “Yaa” untuk ratapan dan “Yaa” panggilan jauh).
–••Ο••–
Definisi Nida’ (kata seru) : Tholabul-Iqbal (mohon perhatian) dengan menggunakan salah satu huruf Nida’ yang menggantikan tugas Fi’il “AD’UU/aku berseru” baik secara lafazhan atau taqdiran (dikira-kira).
Contoh Nida’ dengan huruf Nida’ lafzhan :
يا صاحبَ السيارة تمهل
YAA SHAAHIBAS-SAYYAARATA TAMAHHAL! = hoi si empunya mobil, pelan-pelan!
Contoh Nida’ dengan huruf Nida’ taqdiran (dikira-kira) :
صاحبَ السيارة تمهل
SHAAHIBAS-SAYYAARATA TAMAHHAL! = si empunya mobil, pelan-pelanlah!
(Perihal pembuangan huruf Nida’ seperti contoh ini, akan diterangkan pada bait selanjutnya)
Huruf-huruf Nida’ ada delapan terbagi tiga :
1. Digunakan untuk Munada dekat
“A” Hamzah berharkat fathah pendek, contoh:
أخالد أجب
A KHAALIDU AJIB..! = He Khalid, jawablah!
2. Digunakan untuk Munada jauh atau berhukum jauh
“Yaa, Aa, Ayaa, Hayaa, Ay, Aay”
Contoh Munada jauh :
يا صاعد الجبل تمهل
YAA SHAA’IDAL-JABALI TAMAHHAL! = he pendaki gunung, hati-hati!
Contoh Munada hukum jauh :
أيا غافلاً والموت يطلبه
AYAA GHAAFILAN WAL-MAUTU YATHLUBU HU = wahai orang yg lupa kematian akan menyertainya..!
3. Digunakan untuk Munada Mandub (yg diratapi) kata seru untuk menyatakan rasa sedih atau sakit, baik karena musibah, kesakitan, kematian, kehilangan, dsb.
“Waa”, contoh:
وا رأساه
WAA RO’SAAH = aduh kepalaku (misalkan, kepadanya sakit)
وا زَيْدَاه
WAA ZAIDAAH = Oh.. Zaid (misalkan, kerena kematian Zaid)
Boleh juga menggunakan huruf Nida’ “Yaa” sebagai Nida’ Mandub, bilaman ada qorinah yg menunjukkan tentang itu.
Contoh Syair oleh Jarir bin ‘Athiyyah yang berduka atas kematian Umar bin ‘Abdul ‘Aziz dan menyebut-nyebut keagungannya.
حُمِّلْتَ أمراً عظيماً فاصطبرت له ¤ وقمت فيه بأمر الله يا عمرا
HUMMILTA AMRON ‘AZHIIMAN FASHTHOBARTA LAHU # WA QUMTA FIIHI BI AMRILLAAHI YAA ‘UMAROO. = Kau bebani dirimu dengan hal yang mulia, karenanya engkau bersabar dan kau tegakkan didalamnya sesuai perintah Allah, Oh… Umar!
النُّدْبَةُ
BAB NUDBAH
مَا لِلْمُنَادَى اجْعَلْ لِمَنْدُوبٍ وَمَا ¤ نُكِّرَ لَمْ يُنْدَبْ وَلا مَا أُبْهمَا
Jadikanlah Munada sebagai Mandub (yg dikeluhi), Isim nakirah tidak bisa dijadikan Mandub, juga tidak bisa isim Mubham.
وَيُنْدَبُ المَوْصُولُ بالَّذِيْ اشْتَهَرْ ¤ كَبئْر زَمْزَمٍ يَلِي وَا منْ حَفَرْ
Isim Maushul yg masyhur digunakan, boleh dijadikan Mandub, seperti “waa man hafaro bi’ro zamzamaah” = oooh… yg menggali sumur zamzam! (Abdul Mutthalib kakek Nabi)
–••Ο••–
Pengertian Nudbah (ratapan/keluhan) adalah memanggil sesuatu atau seseorang yg ditangisi karena merasa kehilangan dsb. atau memanggil sesuatu yg dirasakan sakit. contoh,
وا زيداه
WAA ZAIDAAH = ooh.. zaid!
وا ظهراه
WAA ZHOHAROOH = ooh… punggungku!
Isim-isim yg dijadikan Mandub harus berupa Isim Ma’rifah, karena tujuan Nudbah tersebut untuk menyatakan kesungguhan rasa sedih atau sakit, oleh karenanya mandub harus Ma’rifah dan tertentu.
Tidak boleh dari Isim Nakirah contoh:
وارجُلاه
WAA ROJULAAH = oooh.. laki-laki
Tidak boleh dari Isim Mubham semisal Isim Isyarah contoh:
واهذاه
WAA HADZAAH = oooh.. ini.
Juga tidak boleh dari Isim Maushul, kecuali Isim Maushul yg tidak ada AL dan Shilahnya yg masyhur digunakan, contoh mereka mengatakan:
وامن حفر بئر زمزماه
WAA MAN HAFARO BI’RO ZAMZAMAAH = oooh.. penggali sumur zamzam! (Abul Mutthalib).
Demikian contoh seperti ini telah dikenal dikalangan mereka dan digunakan manempati lafazh berikut :
واعبد المطلباه
WAA ‘ABDAL-MUTHTHALIBAAH = ooh.. ‘Abdul Muththalib! (Kakek Nabi saw).
Hukum I’rob Mandub seperti halnya Munada, yakni :
Mabni Dhammah apabila berupa Isim Ma’rifah yg mufrad, semisal:
واعمرُ
WAA ‘UMARU = ooh Umar!
WAA = huruf Nida’ dan Nudbah
UMARU = Munada Mandub mabni dhammah dalam mahal nashab.
Hukum Nashab apabila berupa Mudhaf, semisal:
وا أميرَ المؤمنين
WAA AMIIROL MU’MINIIN = ooh pemimpin muslimin!
نُونَا التَّوْكيدِ
BAB DUA NUN TAUKID
لـلــفــعــلِ تــوكـــيـــدٌ بــنُــونَــيْــنِ هُــــمَــــا  ¤ كَـــنُـــونَـــي اذْهَــــبَـــــنَّ واقْــصِــدَنْــهُــمَــا
Husus masuk pada kalimah Fi’il, dua Nun Taukid (tsaqilah/khafifah) seperti kedua Nun pada contoh “IDZHABANNA” WA “WAQSHIDAN” HUMAA (berangkatlah dan berkehendaklah sungguh-sungguh pada keduanya).
يُـــؤَكِّــــدَانِ افْــــعَــــلْ ويَــفْـــعَـــلْ آتِــــيًــــا  ¤ ذا طَـــلَـــبٍ أوْ شَـــرْطًـــا امَّـــــــا تَــالِــيَـــا
Dua Nun taukid tsb menaukidi IF’AL (Fi’il Amar, secara Mutlak), juga YAF’ALU (Fi’il Mudhari’) yg datang dengan faidah Tholab (fi’il nahi/lam amar/istifham dll), atau datang sebagai fi’il syarat setelah huruf syarat IMMAA (IN syarthiyah + MAA zaidah taukid).
أوْ مُـثْـبَــتًــا فـــــــي قَـــسَــــمٍ مُـسْـتَـقْــبَــلَا  ¤ وقَــــــلَّ بـــعـــدَ مــــــا ولــــــمْ وبـــعــــدَ لا
Atau datang sebagai kalam mutsbat (kalimat positif) pada jawab qosam yg mustaqbal. Dan jarang (penggunaan Nun taukid ini pada fi’il mudhari’) yg jatuh setelah MAA (zaidah taukid), LAM atau LAA (nafi),
وغــيــرِ إمَّـــــا مِـــــنْ طَــوالِـــبِ الْــجَـــزَا  ¤ وآخِــــــرَ الــمــؤكَّـــدِ افْـــتَــــحْ كَـــابْــــرُزَا
juga jarang (penggunaan Nun taukid ini pada fi’il mudhari’) setelah adawat syarat tholabul-jaza’ selain IMMAA. Fat-hahkan! (mabnikan fathah) pada akhir Fi’il yg ditaukidi, ceperti contoh IBRUZAN! (sungguh tanpakkan dirimu!).
–••Ο••–
Nun Taukid yg berfungsi menaukidi kalimah Fi’il itu ada dua bentuk :
1. Nun Taukid Tsaqilah (berat karena bertasydid) mabni Fathah.
2. Nun Taukid Khafifah (ringan karena sukun) mabni Sukun.
Kedua Nun Taukid tersebut boleh digunakan untuk menaukidi Fi’il Amar dengan tanpa syarat, tidak boleh dugunakan untuk menaukidi Fi’il Madhi. Sedangkan untuk Fi’il Mudhari’ harus ditafsil dengan beberapa persyaratan.
Penaukidan dengan Nun Taukid menimbulkan dua konsekuensi: Secara Makna dan Secara Lafazh.
1. Secara Makna : Menghususkan Fi’il Mudhari’ pada zaman Mustaqbal (akan datang), dan menguatkan mustaqbal untuk Fi’il Amar. sedangkan makna Faidah Taukid, bahwa Nun Taukid Tsaqilah lebih kuat penaukidannya dari pada Nun Taukid Khafifah, sesuai kaidah : “penambahan bentuk umumnya menunjukkan penambahan pada makna”.
2. Secara Lafazh : Menjadikan Fi’il Amar dan Fi’il Mudhari’ mabni Fathah, dengan ketentuan bersambung langsung tanpa ada pemisah sebagaimana telah dijelaskan pada bab Mu’rob dan Mabni.
Contoh pada Fi’il Mudhari’ :
لأنصرَنَّ المظلوم
LA ANSHURONNA AL-MAZHLUUMA = sungguh akan kubantu orang yg tertindas.
I’rob: LA = Lam jawab qosam muqaddar, ANSHURONNA = Fiil Mudhari’ mabni Fat-hah dan Nun Taukid, Faa’ilnya dhamir mustatir takdirnya ANA.
لا ترغبن فيمن زهد عنك
LAA TARGHABANNA FIY MAN ZAHIDA ‘ANKA = sungguh jangan pedulikan orang yg tidak memperhatikanmu..!
I’rob : LAA = Nahi, TARGHABANNA = Fi’il Mudhari’ Mabni Fathah mahal Jazem.
Contoh pada Fi’il Amar :
اشكرَنَّ من أحسن إليك
USYKURONNA MAN AHSANA ILAIKA = sungguh bersyukurlah terhadap orang yg berbuat baik kepadamu.
I’rob : USYKURONNA = Fi’il Amar mabni Fathah bersambung dg Nun Taukid, Fa’ilnya dhamir mustatri wujuuban takdirnya ANTA.
Hukum penaukidan Nun Taukid pada Fiil Mudhari’ disini terkadang wajib, mamnu’/dilarang, dan jaiz (baik yg sering dipakai atau yg jarang) :
1. Wajib Taukid, jika menjadi jawab qosam serta mencukupi tiga syarat :
a. harus bersambung dengan Lam Qosam
b. harus Mustaqbal
c. harus Mutsbat
contoh:
والله لأبذلنَّ النصيحة
WALLAAHI LA ABDZALANNA AN-NASHIIHATA = demi Allah sungguh aku akan mencurahkan nasehat.
contoh Firman Allah :
وَتَاللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصْنَامَكُمْ
WA TALLAAHI LA AKIIDANNA ASHNAAMAKUM = Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu (QS. Al-Anbiyaa’ : 57)
2. Mamnu’/dicegah Taukid, ada pada dua tempat :
a. Menjadi jawab qosam tapi tidak mencukupi tiga syarat diatas, demikian apabila ada pemisah antara Lam Qosam dengan Fiil Mudhari‘, contoh:
والله لسوف أبذل النصيحة
WALLAAHI LA SAUFA ABDZALUN-NASHIIHATA = demi Allah, aku akan mencurahkan nasehat.
Contoh Firman Allah :
وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَى
WA LA SAUFA YU’THIIKA ROBBUKA FA TARDHOO = Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu , lalu (hati) kamu menjadi puas. (QS. Adh-Dhuhaa : 5)
atau Fi’ilnya digunakan untuk zaman Haal bukan Istiqbal, contoh :
وربي لأقومُ بواجبي الآن
WA ROBBIY LA AQUUMU BI WAAJIBIY AL-AANA = demi Tuhanku, aku lagi melaksanakan kewajibanku sekarang.
atau Fi’ilnya digunakan Manfi bukan Mutsbat, contoh:
وربِّ الكعبة لا أنصرك إن اعتديت
WA ROBBIL-HA’BATI LAA ANSHURUKA IN I’TADAITA = demi Tuhannya ka’bah, aku tidak akan menolongmu jika kamu melanggar.
contoh Firman Allah :
قَالُوا تَاللَّهِ تَفْتَؤُاْ تَذْكُرُ يُوسُفَ
QOOLUU TALLAAHI TAFTA’U TADZKURU YUUSUFA = Mereka berkata: “Demi Allah, senantiasa kamu mengingati Yusuf (QS. Yusuf : 85)
lafazh TAFTA’U pada ayat ini takdirannya LAA TAFTA’U, dengan membuang huruf nafi.
b. Apabila tidak diawali dengan sesuatu yg menyebabkan penaukidannnya berhukum Jaiz, contoh :
كثرة العتاب تورث ُ البغضاء
KATSROTUL-’ITAABI TUUROTSUL-BAGHDHAA’I = sering mencela mewariskan kebencian.
3. Jaiz Taukid dan sering, demikian apabila diawali dengan IMMAA (IN syarthiyah yg diidghamkan pada MAA zaidah untuk taukid), atau diawali dengan adat Tolab yg berfaidah amar, nahi atau istifham dsb.
Contoh Fi’il Mudhari’ yg diawali dengan IMMAA :
إما تفعَلَنَّ الخير تنل جزاءه
IMMAA TAF’ALANNA AL-KHAIRA TUNAL JAZAA’AHUU = jika kamu benar-benar akan mengerjakan kabaikan, maka kamu akan diberi balasan kebaikan itu.
lafazh IMMAA TAF’ALANNA = asalnya IN TAF’AL, kemudian ditambah MAA pada IN dan diidghamkan.
contoh Ayat dalam Al-Qur’an :
وَإِمَّا تَخَافَنَّ مِنْ قَوْمٍ خِيَانَةً فَانْبِذْ إِلَيْهِمْ عَلَى سَوَاءٍ
WA IMMAA TAKHOOFANNA MIN QOUMIN KHIYAANATAN FANBIDZ ILAIHIM ‘ALAA SAWAA’IN = Dan jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur (QS. Al-Anfaal : 58)
I’rob :
WAWU Isti’nafiyah. IMMAA = IN huruf syarat amil jazem, MAA zaidah taukid. TAKHOOFANNA Fi’il Mudhari’ mabni fathah dalam mahal jazem menjadi Fi’il Syarat, NUN untuk Taukid, Faa’ilnya dhamir mustatir wajuban takdirannya ANTA. Kemudian jumlah FANBIDZ ILAIHIM sebagai jawab syarat dalam mahal jazem.
Contoh Fi’il Mudhari’ diawali dengan adawat yg berfungi Amar :
لِتَرحَمَنَّ المسكين
LI TARHAMANNA AL-MISKIINA = sungguh kasihanilah orang miskin
boleh diucapkan LI TARHIM..! karena memang taukidnya berhukum jawaz.
Contoh diawali dengan adawat Nahi :
لا تؤخرَنَّ فعل الخير إلى غد
LAA TU’AKHKHIRONNA FI’LAL-KHAIRI ILAA GHADIN = sungguh janganlah kamu mengakhirkan perbuatan baik untuk besok. Dan boleh diucapkan LAA TU’AKHKHIR..!
Contoh pada Firman Allah :
وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ
WA LAA TAHSABANNALLAAHA GHAAFILAN ‘AMMAA YA’MALUZH-ZHAALIMUUNA = Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. (QS. Ibrohim : 42)
I’rob : LAA nahi, TAHSABANNA fi’il mudhari’ mabni fathah dalam mahal jazm, Faa’ilnya dhamir mustatir.
Contoh yang diawali dengan adawat Istifham :
هل تصلنَّ رحمك
HAL TASHILANNA ROHIMAKA? = apakah kamu akan mengunjungi familimu? (silaturrahmi). Atau boleh dilafalkan HAL TASHIL..?.
4. Jaiz Taukid namun jarang adanya, demikian apabila Fi’il Mudhari’ jatuh sesudah MAA zaidah yg tidak diidghamkan pada IN syarthiyyah, sebagaimana orang arab mengatakan :
بعينٍ ما أرَيَنَّك
BI ‘AININ MAA AROYANNAKA = sungguh dengan mata seakan aku melihatmu.
I’rob : MAA zaidah taukid, AROYANNA fi’il mudhari’ mabni fathah, NUN taukid, KAF maf’ul bih.
Demikian juga Fi’il Mudhari’ yg jatuh sesudah LAM, contoh :
من مرت به مواسم الطاعة ولم يستغلَنَّها فهو محروم
MAN MARRAT BIHII MAWAASIMUT-THAA’ATI WA LAM YASTAGHILANNAHAA FAHUWA MAHRUUMUN = barang siapa dilewati masa-masa ta’at dan dia tidak mempersibuk diri dengan ta’at maka termasuk orang yg benasib buruk.
atau jatuh sesudah LAA NAHI contoh :
بادر بالعمل زمن الشباب لا يفوتنَّك
BAADIR BIL-’AMALI ZAMANASY-SYABAABI LAA YAFUUTUNNAKA = bersegeralah mengerjakan amal pada waktu muda selagi tidak pupus kesempatan waktumu.
contoh Firman Allah :
لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَانُ وَجُنُودُهُ
LAA YAHTHIMANNAKUM SULAIMAANU WA JUNUUDUHUU = masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya (QS. Annaml : 18)
Atau jatuh sesudah adawat syarat selain IMMAA contoh :
من يصلَنَّ رحمه يسعد
MAN YASHILLANNA ROHIMAHUU YUS’AD = barang siapa bersilaturrahim pada familinya maka ia akan mendapat kebahagiaan.
إعْمَالُ اسْمِ الْفَاعِلِ
PENGAMALAN ISIM FA’IL
كَفِعْلِهِ اسمُ فَاعلٍ فِي الْعَمَلِ ¤ إنْ كَانَ عَنْ مُضِيِّهِ بِمَعْزِلِ
Isim Fa’il beramal seperti Fi’il-nya. Dengan syarat jika Isim Fa’il tsb menempati jauh dari zaman Madhi (yakni jika menempati zaman Hal atau Istiqbal)
وَوَلِيَ اسْتِفْهَاماَ أوْ حَرْفَ نِدَا ¤ أوْ نَفْياً أوْ جَا صَفَةً أوْ مُسْنَداَ
Dan disyaratkan juga Isim Fi’il tsb mengiringi Istifham, Huruf Nida’ atau Nafi, atau datang sebagai Sifat (Na’at) atau sebagai Musnad (Khobar).
وَقَدْ يَكُونُ نَعْتَ مَحْذُوفٍ عُرِفَ ¤ فَيَسْتَحقُّ الْعَمَلَ الَّذِي وُصِف
Dan terkadang Isim Fa’il tsb menjadi Na’at dari Man’ut terbuang yang telah dimaklumi, maka ia berhak juga terhadap amalan yang telah disebut diatas. 
–••Ο••–
Bab ini menerangkan bagian kedua dari bagian Isim-isim yang beramal seperti pengamalan Fi’ilnya yaitu: ISIM FA’IL termasuk didalamnya SHIGHAT MUBALAGHAH.
Pengertian Isim Fa’il:
Adalah Isim musytaq untuk menunjukkan kejadian baru dan sebagai si pelaku.
Penjelasan definisi:
Isim Musytaq : yakni hasil bentukan secara tashrif dari bentuk asal Mashdar tiga huruf menjadi bentuk Isim Fa’il, contoh:
نادم
NAADIMUN = yang menyesal
Atau dari bentuk asal Mashdar lebih dari tiga huruf menjadi bentuk Isim Fa’il, contoh:
مكرم
MUKRIMUN = yang menghormati
Menunjukkan kejadian : yakni hanya menunjukkan kejadian tanpa penunjukan zaman semisal berdiri dan duduk.
Kejadian baru : yakni kejadian yang bersifat aridhi, sekali-kali berubah dan hilang. Demikian ini membedakan dengan Shifat Musyabahah atau Isim Tafdhil, karena keduanya menunjukkan kejadian yang bersifat tetap bukan sekali-kali atau bukan yang bersifat baru.
Sebagai Pelaku : yakni subjek yang mengerjakan pekerjaan yang mana pekerjaan timbul darinya, contoh DHOORIBUN = yang memukul. Demikian ini berbeda dengan definisi Isim Maf’ul yakni Isim Musytaq untuk menunjukkan sebagai objek pekerjaan atau sesuatu yang dikenai pekerjaan.
Penampakan Isim Fa’il ada dua :
1. Isim Fa’il yang bersambung dengan AL: Hukumnya akan diterangkan pada Bait selanjutnya.
2. Isim Fa’il yang tidak bersambung dengan AL, maka:
A. Beramal merofa’kan Fa’il secara mutlak tanpa syarat.
Contoh:
الله عالم ببواطن الأمور
ALLAHU ‘AALIMUN BI BAWAATHINIL-UMUURI = Allah Maha mengetahui terhadap perkara yang tersembunyi.
lafazh AALIMUN = Isim Fa’il didalamnya terdapat Fa’il Dhamir Mustatir dirofa’kan sebagai Fa’ilnya.
Contoh ayat dalam Al-Qur’an:
وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ
WA MINANNAASI WAD-DAWAABI WAL-AN’AAMI MUKHTALIFUN AL-WAANUHU = di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). (QS. Al-Faathir :28)
Lafazh AL-WAANU dirofa’kan menjadi Fa’il dari Isim Fa’il lafazh MUKHTALIFUN.
B. Beramal menashobkan Maf’ul Bih dengan dua syarat:
1. Diharuskan dalam penggunaannya untuk suatu yang Hal (yang sedang terjadi) atau Istiqbal (yang akan terjadi). Alasan pengamalannya disini -menurut Ulama Nuhat- adalah karena sejalan dengan kalimah Fi’il sebagai sandaran maknanya. yakni sejalan dengan FI’IL MUDHARI’ yakni mencocoki dalam harkat dan sukunnya. dalam artian sukun atau harkat pada Isim Fail sebanding/sehadapan dengan sukun atau harkat yang ada pada susunan huruf Fi’il Mudhari’nya. contoh:
معلم
MU’ALLIMUN = pengajar
sehadapan/sebanding dengan susunan Fi’il Mudhari:
يعلم
YU’ALLIMU = sedang/akan mengajar.
Demikian juga contoh Isim Fa’il:
نادم
NAADIMUN = yang menyesal
sehadapan/sebanding dengan susunan Fi’il Mudhari:
يندم
YANDAMU = sedang/akan menyesal.
2. Harus ada penopang yakni lafazh yang menjadi awalannya :
a. Berawalan ISTIFHAM, contoh:
أبالغ أنت قصدك
A BAALIGHUN ANTA QOSDAKA? = apakah kamu sampai pada tujuanmu?
lafazh BAALIGHUN = Mubtada’
lafazh ANTA = Fa’il yg menempati kedudukan Khobar (Masaddal-khobar)
lafazh QOSDA = Maf’ul Bih
lafazh KA = Mudhaf Ilaih.
b. Berawalan NAFI, contoh:
ما حامد السوق إلا من ربح
MAA HAAMIDUN AS-SAUQA ILLA MAN ROBIHA = tidak akan memuji pasar kecuali dia yang telah mendapat keuntungan.
HAAMIDUN = menjadi Mubtada’
AS-SAUQA = menjadi Maf’ul Bih dari Isim Fa’il (Haamidun)
ILLA = Adat Istitsna’ Mulgha
MAN = Isim Maushul mabni sukun mahal Rofa’ menjadi Fa’il sadda-masaddal khobar.
ROBIHA = Shilah Maushul.
d. Berawalan NIDA’, contoh:
يا سائقا سيارة تمهل
YAA SAA’IQON SAYYAAROTAN TAMAHHAL! = wahai sopir mobil pelan-pelanlah.
YAA = Huruf Nida’
SAA’IQON = Munada Manshub Fa’ilnya berupa Dhamir Mustatir
SAYYAAROTAN = Maf’ul Bih dinashabkan oleh Isim Fa’il.
e. Menjadi NA’AT dari Man’ut yg disebut atau Man’ut yg dibuang
contoh Naat dari Man’ut yang disebut :
صحبت رجلا عارفا آداب السفر
SHAHIBTU RAJULAN ‘AARIFAN AADAABAS-SAFARI = aku menemani seorang yang mengerti adab-adab perjalanan.
RAJULAN = Man’ut
AARIFAN = Na’at
AADAABA = Maf’ul Bih dinashabkan oleh Isim Fa’il (Aarifan)
contoh Naat dari Man’ut yang dibuang karena ada qarinah:
كم معذب نفسه في طلب الدنيا يرى أنه أسعد الناس
KAM MU’ADZDZIBUN NAFSAHU FIY THOLABID-DUN-YAA YAROO ANNAHU AS’ADAN-NAASA = betapa banyak orang yang menyiksa diri dalam mencari dunia dan beranggapan bahwa dunia membahagiankan manusia.
MA’ADZDZIBUN = Isim Fa’il yg menjadi Na’at dari Man’ut yg dibuang.
NAFSAHU = Maf’ul Bihnya.
takdirannya adalah:
كم شخص معذب نفسه
KAM “SYAKHSHUN” MU’ADZDZIBUN NAFSAHU = banyak “orang/individu” yang menyiksa dirinya.
f. Menjadi HAAL Contoh:
جاء خالد راكبا فرسا
JAA’A KHAALIDUN RAAKIBAN FAROSAN = Khalid datang dengan mengendarai kuda
Contoh ayat Al-Qur’an:
فاعبد الله مخلصا له الدين
FA’BUDILLAAHA MUKHLISHON LAHUD-DIIN = Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya (QS. Azzumar :2)
g. Menjadi KHABAR dari Mubtada’ atau Amil Nawasikh
Contoh Khabar dari Mubtada’:
أنت حافظ غيبة جارك
ANTA HAAFIZHUN GHAIBATA JAARIKA = kamu harus menjaga omongan tetangga kamu.
Contoh Khabar dari Amil Nawasikh:
إنك حافظ غيبة جارك
INNAKA HAAFIZHUN GHAIBATA JAARIKA
Contoh Ayat dalam Al-Qur’an:
ما كنت قاطعة أمرا حتى تشهدون
MAA KUNTU QAATHI’ATAN AMRAN HATTAA TASYHADUUN = aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelis(ku). (QS. An-Naml :32).
o0o
Jika Isim Fa’il tersebut digunkan untuk suatu yang telah terjadi (Madhiy), maka ia tidak beramal. Maka tidak dibenarkan mengatakan misal:
محمد كاتب واجبه أمس
MUHAMMADUN KAATIBUN “WAAJIBAHUU” AMSI
lafazh WAAJIBA tidak boleh dinashabkan sebagai Maf’ul Bih dari Isim Fa’il KAATIBUN. Tapi wajib disusun secara Idhofah, maka yang benar mengatakannya adalah:
محمد كاتب واجبه أمس
MUHAMMADUN KAATIBU “WAAJIBIHII” AMSI = Muhammad mencatat kewajibannya kemarin.
lafazh KAATIBU = mudhaf
lafazh WAAJIBI = mudhaf ilaih
Khilaf dalam hal ini :
1.    Menurut Al-Kasa’i : Isim Fa’il tersebut boleh beramal sekalipun ditujukan untuk zaman Madhiy.
2.    Menurut Al-Akhfash : Isim Fa’il tersebut  sekalipun tidak ada penopang yang menjadi awalannya tetap bisa beramal.
الصِّفَةُ المُشَبَّهَةُ بِاسْمِ الْفَاعِلِ
Bab Sifat yang diserupakan dengan Isim Fa’il (Sifat Musyabbahah)

صِفَةٌ اسْتًحْسِنَ جَرُّ فَاعِلِ ¤ مَعْنىً بِهَا المُشْبِهَةُ اسْمَ الْفَاعِلِ
Ciri sifat yang menyerupai Isim Fa’il (as-Shifat al-Musyabbahat) adalah sifat yang dianggap benar dengan menjarkan subjek Fa’il dalam maknanya

–••Ο••–
3.    Merupakan Bab yang keempat dari deretan Isim-Isim yang beramal seperti Fi’ilnya. Telah disebutkan pada bab-bab sebelumnya yaitu Mashdar, Isim Mashdar, Isim Fa’il, Shighat Mubalaghah dan Isim Maf’ul. Dan sekarang adalah Shifah Musyabbahah.
4.    Pengertian Shifat Musyabbahat: yaitu sifat yang dibentuk dari Masdar Tsulati Lazim, sebagai penunjukan suatu makna yang menetap pada Maushuf secara tetap.
5.    Contoh:
6.    الصبي فَطِنٌ
7.    ASH-SHOBIYYU FATHINUN = anak itu cerdas
8.    Lafazh FATHINUN adalah shifat Musyabbahah yang diambil dari Mashdar Fi’il Tsulatsi Lazim FATHINA sebagai penunjukan makna FATHAANAH kecerdasan yang menempati pada Maushuf lafazh SHOBIYYUN secara tetap sepanjang waktu bukan sekali-kali.
9.    Berbeda dengan Isim Fa’il yang menjukkan sifat ‘aridhi sekali-kali pada waktu tertentu. contoh:
10.    خالد قائم
11.    KHAALIDUN QAAIMUN = Khalid adalah yang berdiri
12.    Lafazh QAAIMUN disebut Isim Fa’il yaitu sifat yang ‘aridhi tidak tetap sekali-kali orang yang berdiri itu duduk.
13.    Disebutkan oleh Mushannif bahwa tanda-tanda sifat Musyabahat adalah dibenarkannya mengidhafahkan Sifat kepada lafazh yang menjadi Fa’ilnya dalam makna, dan mengamal Jar kepadanya. Contoh:
14.    الحسن الخلق محبوب
15.    AL-HASANUL-KHULUQI MAHBUUBUN = seorang yang baik akhlaknya disenangi.
16.    Asal kalimat adalah:
17.    الحسن خلقه محبوب
18.    AL-HASANU KHULUQUHUU MAHBUUBUN
19.    lafazh KHULUQU dirofa’kan sebagai Fa’il dari lafazh AL-HASANU.
20.    oOo
21.    Sedangkan Isim Fa’il dilarang dimudhafkan kepada Fa’ilnya. contoh tidak benar mengatakan:
22.    خالد ضارب الأب عمرا
23.    KHAALIDUN DHAARIBUL-ABI ‘AMRAN = Khalid yang ayahnya memukul kepada Amar.
24.    dengan maksud lafazh AL-ABU menjadi subjek atau Fa’il dari lafazh DHAARIBU, sebab ada wahem/anggapan mudhaf kepada Maf’ulnya. Karena asal kalimat adalah:
25.    خالد ضارب أباه
26.    KHAALIDUN DHAARIBUN ABAAHU = Khalid yang memukul ayahnya.
27.    Contoh kalimat diatas menetapkan bahwa ayah yang dipukul, bukannya Ayah yang memukul. Maka tidak boleh susunan idhafah demikian karena mengakibatkan terjadinya Lubs/kesamaran.
28.    Akan tetapi apabila Isim Fa’il tersebut dibentuk dari Fi’il Tsulatsi Lazim dan menunjukkan ketetapan sifat, maka boleh mengidhofahkannya kepada Fa’ilnya karena sifat yang demikian juga disebut SHIFAH MUSYABBAHAH, contoh:
29.    طاهر القلب مستريح
30.    THAAHURUL-QALBI MUSTARIIHUN = seorang yang suci hatinya adalah seorang yang tenang.
31.    Dan apabila Isim Fa’il tersebut dibentuk dari Fi’il Tsulatsi Muta’addi satu Maf’ul, maka boleh mudhaf pada Fa’ilnya dengan syarat ada qarinah yang mencegah terjadinya lubsun atau keserupaan terhadap mudhaf pada Maf’ulnya, contoh:
32.    محمد راحم الأبناء
33.    MUHAMMADUN RAAHIMUL-ABNAA’I = Muhammad yang anak-anaknya bersifat belas kasih.
34.    Lafazh RAAHIMU dimudhafkan kepada Fa’ilnya lafazh ABNAA’I.
Dimaksudkan adalah bahwa anak-anak keturunan Muhammad mereka panyayang sesama manusia. Biasanya ungkapan sifat seperti pada contoh diucapkan sebagai sanjungan kepada kebaikan keturunan seseorang, atau sebagai jawaban bagi yang mengatakan bahwa keturunannya tidak baik.
التَّعَجُّبُ
BAB TA’AJJUB (TAKJUB)
بِأفْعَلَ انْطِقْ بَعْدَ مَا تَعَجُّبَا ¤ أوْ جِئْ بِأفْعِلْ قَبْلَ مَجْرُورٍ ببَا
Berucaplah dengan wazan AF’ALA setelah MAA (MAA AF’ALA) sebagai ungkapan takjub, atau boleh gunakan wazan AF’IL sebelum Majrur oleh BA’ (AF’IL BIHI)
وَتِلْوَ أفْعَلَ انْصِبَنَّهُ كما ¤ أوْفَى خَلِيلَيْنَا وَأصْدِقْ بِهِمَا
Nashabkanlah terhadap kalimah yang jatuh sesudah wazan AF’ALA seperti: MAA AUFAA KHOLIILAINAA WA ASHDIQ BI HIMAA (alangkah alimnya kedua sahabatku ini dan alangkah benar keduanya)
–••Ο••–
35.    Ta’ajjub adalah : perasaan di dalam hati ketika merasakan adanya suatu hal yang dibodohi penyebabnya. Ta’ajjub dalam hal ini terbagi dua macam:
36.    Pertama: Tanpa kaidah, hanya dapat diketahui melalui qarinah atau sesuatu yang menunjukan maksud Ta’ajjub.
contoh dalam Ayat Al-Qur’an:
37.    كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ
38.    Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, (QS. Al-Baqarah:28)
39.    Lafaz KAIFA = Isim Istifham mabni fathah menempati posisi nashab sebagai Hal. dan disini ia berfaidah Ta’ajjub.
40.    Contoh dalam Hadits, dari Abi Hurairah Nabi Bersabda:
41.    سُبْحَانَ اللهِ إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَا يَنْجُسُ
42.    Subhaanallaah! sesungguhnya orang mu’min itu tidak najis.
43.    Lafaz Subhaanallaah = Isim Mashdar yg dinashobkan oleh Fi’il yang terbuang, sebagai ungkapan takjub dari sebab perkataan Abu Hurairah sebelumnya; bahwa seseorang menjadi najis sebab junub.
44.    dan contoh perkataan orang arab:
45.    لله دره فارساً
46.    alangkah hebat! kemahirannya menunggang kuda
47.    Lafazh FAARISAN nashab sebagai Tamyiz yang dikehendaki ta’ajjub.
48.    Kedua: Ta’ajjub qiasi, mempergunakan dua bentuk shighat secara qias, yaitu “MAA AF’ALA” dan “AF’IL BIHI”.
49.    1. Shighat Ta’ajjub “MAA AF’ALA”, contoh:
50.    ما أوسع الحديقة!
51.    MAA AWSA’AL-HADIIQAH! = alangkah luas kebun ini.
52.    Lafaz MAA = Maa ta’ajjub isim Nakirah Tamm, mabni sukun mahal rofa’ menjadi Mubtada’. disebut Isim Nakirah karena punya arti syai’un/sesuatu. dan disebut Tamm karena tidak butuh pada qayyid lain kecuali khobar. Disusun sebagai permulaan kalimat menjadi mubtada’ yang mengandung makna Ta’ajjub.
53.    Lafaz AWSA’A = Fi’il Madhi mabni fathah, bukti bahwa ia kalimah Fiil ketika bersambung dengan Ya’ Mutakallim dipastikannya memasang Nun Wiqayah seperti pada contoh:
54.    أفقرني إلى عفو الله
55.    MAA AFQARANIY ILAA ‘AFWILLAAHI = alangkah fakirnya aku akan pengampunan Allah.
56.    Failnya berupa dhamir mustatir takdirannya Huwa rujuk pada MAA.
57.    lafazh AL-HADIIQAH = Maf’ul Bih dinashabkan oleh AWSA’A. Jumlah Fi’il, Fa’il dan Maf’ul Bih adalah Khobar Jumlah dari Mubtada’ MAA.
58.    2. Shighat Ta’ajjub “AF’IL BIHII”, contoh:
59.    أقبح بالبخل!
60.    AQBIH BIL-BUKHLI = Alangkah jeleknya kikir itu.
61.    Sama halnya dengan mengucapkan:
62.    ما أقبحه
63.    MAA AQBAHA HUU = Alangkah jeleknya kikir itu.
64.    karena dua bentuk ta’ajjub tsb bertujuan sama pada satu objek (AL-BUKHLI) sebagai Mad-lulnya.
65.    Lafaz AQBIH = adalah Fi’il madhi dalam shighat Fi’il Amar, mabni Fathah muqaddar karena berbentuk seperti Fi’il Amar. Asalnya AF’ALA yakni shighat Fi’il Madhi dengan tambahan Hazmah yang berfaidah SHAIRURAH/menjadi, sebagaimana contoh:
66.    أقبح البخل
67.    AQBAHA AL-BUKHLU = kebakhilan menjadi bersifat jelek.
68.    Sebagaimana mereka mengatakan:
69.    أبقلت الأرض
70.    ABQALAT AL-ARDHU = Bumi itu menjadi bertunas (tumbuh tunas)
71.    أثمرت الشجرة
72.    ATSMARAT ASY-SYAJARA = Pohon itu menjadi berbuah.
73.    Dengan demikian penggunaan Fi’il Madhi dengan rupa Fi’il Amar tersebut tiada lain hanya untuk tujuan Ta’ajjub. Dan dikarenakan seperti shighat Fi’il Amar itulah maka tidak benar jika musnad langsung kepada isim zhahir, oleh karena itu pada Fa’ilnya ditambahi huruf Jar BA’ .
74.    Huruf BA‘ = Zaidah.
75.    Lafazh AL-BUKHLI = menjadi Fa’il rofa’ dengan Dhammah muqaddar, tercegah irab zhahirnya karena tempatnya sudah didahului oleh huruf jar zaidah.
التنازع في العمل
BAB TANAAZU’ DALAM AMAL
إِنْ عَامِلاَنِ اقْتَضَيَا فِي اسْمٍ عَمَلْ ¤ قَبْلُ فَلِلْوَاحِدِ مِنْهُمَا الْعَمَلْ
Jika dua Amil menuntut pengamalan di dalam suatu isim dan keduanya berada sebelum isim, maka pengamalan berlaku bagi salah satu saja dari keduanya
وَالثَّانِ أَوْلَى عِنْدَ أَهْلِ الْبَصْرَهْ ¤ وَاخْتَارَ عَكْساً غَيْرُهُمْ ذَا أُسْرَهْ
Amil yang kedua lebih utama (beramal) menurut Ahli Bashroh. Selain mereka -yg mempunyai golongan kuat- memilih sebaliknya (amil yg pertama lebih utama beramal)
–••Ο••–
Pengertian Tanazu’ menurut bahasa adalah: pertentangan. Pengertian Tanaazu’ menurut istilah Ilmu Nahwu adalah: dua Amil menghadapi satu ma’mul. Contoh:
سمعت ورأيت القارئ
SAMI’TU WA ROAITU AL-QOORI’A* = aku mendengar dan melihat si qori’ itu.
*Masing-masing dari lafaz SAMI’TU dan ROAITU bertentangan menuntut lafaz AL-QOORI’A sebagai Maf’ul Bihnya.

Manuskrip Syarah Alfiyah Ibnu Malik. Penyusun Tidak diketahui. Penyarah Tidak diketahui. Jumlah Halaman 88. Naskah Kurang. Sumber: http://www.mahaja.com/library/manuscripts/manuscript/676
Tidak ada perbedaan antara kedua Amil baik berupa dua Fi’il seperti contoh diatas, atau dua Isim ataupun campuran.
Contoh kedua amil berupa dua Isim:
أنا سامعٌ ومشاهدٌ القارئ
ANA SAAMI’UN WA MUSYAAHIDUN AL-QOORI’A = aku mendengar dan menonton si qori’ itu.
Contoh kedua amil campuran berupa Isim Fi’il dan Fi’il, Firman Allah:
هآؤم اقرءوا كتابيه
HAA’UMU-QRO’UU KITAABIYAH* = “Ambillah, bacalah kitabku (ini).” (al-Haaqqah : 19)
* Amil pertama berupa Isim Fi’il Amar yaitu Lafaz HAA’UMU sinonim dg lafaz KHUDZ (ambillah) huruf Mim tanda Jamak. Amil kedua berupa Fi’il Amar yaitu Lafaz IQRO’UU.
Terkadang Tanazu’ terjadi antara lebih dari dua Amil. Dan terkadang Mutanaza’ Fih (ma’mul tanazu’) lebih dari satu.
Contoh Tanazu’ antara tiga Amil:
يجلس ويسمع ويكتب المتعلم
YAJLISU WA YASMA’U WA YAKTUBU AL-MUTA’ALLIMU* = Pelajar itu duduk, mendengar dan menulis.
* masing-masing dari lafaz YAJLISU, YASMA’U dan YAKTUBU menuntut lafaz AL-MUTA’ALLIMU sebagai Faa’ilnya.
Contoh Tanazu’ antara tiga Amil di dalam isim Mutanaza’ Fih lebih dari satu. Nabi bersabda:
تسبحون وتحمدون وتكبرون خلف كل صلاة ثلاثا وثلاثين
TUSABBIHUUNA WA TAHMADUUNA WA TUKABBIRUUNA KHOLFA KULLI SHOLAATIN TSALAATSAN WA TSALAATSIINA* = kalian bertasbih, bertahmid dan bertakbir sehabis tiap Sholat, sebanyak  33 kali. (HR. Muttafaq ‘Alaih)
*lafaz KHOLFA dinashobkan sebagai Zhorof dan lafaz TSALAATSAN WA TSALAATSIINA dinashobkan sebagai Maf’ul Muthlaq. Masing-masing ketiga Amil menuntut pengamalan terhadap masing-masing dua Ma’mul.
Syarat-syarat Tanaazu’ bagi kedua Amil adalah:
1.    Harus dikedepankan dari Ma’mulnya.
2.    Diantara dua Amil harus ada Irthibath (hubungan) baik secara Athof atau semacamnya.
Maka tidak dinamakan Tanaazu’ apabila kedua Amil diakhirkan. Contoh:
زيد قام وقعد
ZAIDUN QOOMA WA QO’ADA* = Zaid berdiri kemudian duduk
*Masing-masing Fi’il mempunyai dhamir sebagai ma’mulnya yg merujuk pada Isim yang berada di depannya yaitu lafal ZAIDUN.
Dan tidak pula dinamakan tanazu’ apabila antara dua Amil tidak terdapat irthibath, contoh:
قام قعد زيد
QOOMA QO’ADA ZAIDUN
Dengan demikian apabila terdapat dua Amil mencukupi syarat disebut Tanaazu’, maka salah satu Amil beramal pada Isim Zhahir. Sedangkan Amil yg lain beramal pada Dhamir Isim Zhohir tsb atau disebut Amil Muhmal. Mengenai hal ini tidak ada khilaf antara Ulama Bashroh dan Kufah. Namun yg menjadi ikhtilaf dalam bab Tanazu’ ini adalah dalam hal mana yg lebih utama beramal antara Amil yg pertama dengan Amil yg kedua. Ulama Bashroh memilih Amil kedua beramal karena dekatnya dengan Isim Ma’mul. Sedangkan Ulama Kufah memilih Amil pertama beramal karena ia dikedepankan.
التوكيد
BAB TAUKID
بِالنَّفْسِ أوْ بِالعَيْنِ الاسْمُ أُكِّدَا ¤ مَعَ ضَمِيرٍ طَابَقَ المُؤكَّدَا
Kalimah Isim menjadi tertaukidi oleh lafazh taukid “an-Nafsi” atau “al-’Aini” beserta ada Dhamir mencocoki pada Isim Muakkad.
وَاجْمَعْهُمَا بِأفْعُلٍ إنْ تَبِعَا ¤ مَا لَيْسَ وَاحِداً تكُن مُتَّبِعاً
Jama’kanlah kedua lafazh taukid tsb dengan wazan “AF’ULU” jika keduanya tabi’ pada Isim selain mufrad (Mutsanna/Jamak), maka jadilah kamu Muttabi’ (pengikut yg benar).
وَكُلاً اذْكُرْ فِي الشُّمُولِ وَكِلا ¤ كِلْتَا جَمِيعاً بِالضَّمِيرِ مُوصَلَا
Ucapkanlah untuk taukid syumul (menyeluruh) dengan lafazh Kullu, Kilaa, Kiltaa dan Jami’ yg disambung dengan dhamir. 
وَاسْتَعْمَلُوا أيْضاً كَكُلٍّ فَاعِلَهْ ¤ مِنْ عَمَّ فِي التَّوكِيدِ مِثْلَ النَّافِلَهْ
Demikian juga mereka menggunakan wazan Faa’ilatu dari lafazh Amma (Aammatu) seperti faidah Kullu (untuk syumul) didalam taukid. Serupa bunyi lafazh Naafilatu. 
–••Ο••–
Bagian kedua dari Isim-Isim Tawabi’ yaitu TAUKID. Maksud dari perkataan Taukid adalah Isim Muakkid, dengan memutlakkan Mashdar kepada maksud Isim Fa’il.
Taukid ada dua bagian:
1. Taukid Ma’nawi (pembahasan kali ini)
2. Taukid Lafzhi (akan dibahas pada bait-bait selanjutnya)
Pengertian Taukid Ma’nawi adalah:
1. Isim Tabi’ yg disebut untuk menghilangkan kemungkinan lain dari takdir Mudhaf kepada Matbu’nya.
2. Isim Tabi’ yg disebut untuk menghilangkan maksud-maksud khusus dari lafazh penampakan Matbu’ yang umum.
Pengertian Taukid Ma’nawi bagian pertama
Dengan menggunakan lafazh AN-NAFSU dan AL-’AINU, contoh:
حادثني الأمير نفسه
HAADATSANIY AL-AMIIRU NAFSUHU = Presiden itu berkata sendiri kepadaku.
Dalam contoh ini, andaikan cukup pada kata AL-AMIIR (muakkad), maka ada kemungkinan penakdiran mudhaf yang terbuang, boleh jadi yg berkata itu Wakil Presiden atau kepercayaannya atau orang lain yg menyampaikannya. Nah, ketika Taukid disebutkan maka kemungkinan-kemungkinan tersebut menjadi hilang.
Lafazh NAFSU = sebagai Taukid Ma’nawi, dirofa’kan karena tabi’.
lafazh HUU = Dhamir yg merujuk pada Isim Muakkad, menjadi Mudhaf Ilaih.
Disyaratkan kedua lafazh Taukid tsb bersambung dengan Dhamir merujuk pada Isim Muakakd yang sesuai baik secara Mufrad, Mudzakkar dan semacamnya untuk tercapainya fungsi robit antara Tabi’ dan Matbu’.
Kedua lafazh Taukid wajib mufrad apabila mengikuti Muakkad mufrad sebagaimana contoh diatas. Apabila Muakkadnya Isim Mutsanna atau Isim Jamak, maka kedua lafazh Taukid tersebut dijamakkan pada Jamak Taksir Qillah dengan wazan AF’ULU. Penggunaan Taukid jamak pada Muakkad Jamak disini hukumnya wajib, sedangkan penggunaan Taukid Jamak pada Muakkad Mutsanna lebih baik dari penggunaan Taukid Mufrad.
Contoh:
جاء المحمدان أنفسُهما وأعينُهما
JAA’A AL-MUHAMMADAANI ANFUSUHUMAA WA A’YUNUHUMAA = Dua Muhammad telah datang diri keduanya sendiri.
جاء المحمدون أنفسُهم وأعينُهم
JAA’A AL-MUHAMMADUUNA ANFUSUHUM WA A’YUNUHUM = Banyak Muhammad telah datang diri mereka sendiri.
جاءت الفاطمات أنفسُهن أو أعينُهن
JAA’A AL-FAATHIMAATU ANFUSUHUNNA WA A’YUNUHUNNA = Banyak Fathimah telah datang diri mereka sendiri.
Pengertian Taukid Ma’nawi bagian kedua
PERTAMA: menggunakan lafazh KULLUN dan JAMII’UN, contoh:
قرأت القرآن كلَّه أو جميعَهُ
QARA’TU AL-QUR’AANA KULLAHUU AW JAMII’AHUU = Aku membaca Al-Qur’an seluruhnya atau semuanya.
Andaikan tidak didatangkan dengan lafazh KULLUN atau JAMIIUN maka mengandung Ihtimal (kemungkinan) sebab membaca Al-Qur’an sifatnya umum, boleh jadi yang dibaca itu lebih sedikit, atau separuh Al-Quran, atau bahkan lebih dari itu, dll.
Disyaratkan penggunaan Taukid KULLUN dan JAMIIUN ini dengan tiga syarat:
1. Isim Muakkadnya bukan Mutsanna, yakni harus Mufrod atau Jamak
2. Isim Muakkadnya berupa:
a. Isim Jamak yg terdiri dari beberapa Mufrod, contoh:
حضر الضيوف كلُّهم
HADHARA ADH-DHUYUUFU KULLUHUM = para tamu telah hadir semuanya.
b. Isim Mufrod yg terdiri dari beberapa bagian, contoh:
قرأت الكتاب كلَّه
QARA’TU AL-KITAABA KULLAHU = aku membaca kitab itu seluruhnya.
c. Isim Mufrod yg dapat dibagi menurut pertimbangan amilnya, contoh:
اشتريت الحصان كله
ISYTARAITU AL-HISHAANA KULLAHU = aku membeli kuda itu seluruhnya.
Lafazh AL-HISHAANA berupa bagian-bagian menurut pembeliannya.
3. Harus bersambung dengan Dhamir yg merujuk pada Isim Mu’akkad, seperti contoh-contoh di atas.
oOo
KEDUA: menggunakan lafazh KILAA untuk Mudzakkar dan KILTAA untuk Muannats, keduanya digunakan pada Muakkad Mutsanna, contoh:
نجح الأخوان كلاهما
NAJAHA AKHUWAANI KILAAHUMAA = Dua saudaraku telah lulus kedua-duanya.
فازت البنتان كلتاهما
FAAZAT AL-BINTAANI KILTAAHUMAA = Dua putriku telah sukses kedua-duanya.
Andaikan contoh diatas tidak ada lafazh Taukid maka mengandung ihtimal, dengan mempertimbangkah Tatsniyah secara tidak sebenar-benarnya, boleh jadi yang lulus dan yg sukses adalah salah satunya.
Disyaratkan penggunaan Taukid KILAA dan KILTAA dengan tiga syarat:
1. Harus bisa menempatkan hukum Mufrod pada tempat Muakkad Mutsanna.
Syarat ini untuk memungkinkan adanya dugaan sebagian pada keduanya, sebagaimana dua contoh diatas. Demikian ini untuk membedakan dengan contoh berikut:
تخاصم المحمدان كلاهما
TAKHOOSHOMA AL-MUHAMMADAANI KILAAHUMAA = dua Muhammad saling bermusuhan keduanya.
Contoh ini tidak boleh, karena hukum mufrod disini tidak bisa ditempatkan pada Isim Mutsanna, dikarenakan lafazh TAKHOOSHOMA (saling bermusuhan) tidak mungkin terjadi pada satu orang kecuali harus bersamaan antara keduanya. Sedangkan sebagian Ulama Nuhat membolehkannya dengan alasan bahwa taukid disini digunakan sebagai penguat bukan sebagai penghapus Ihtimal.
2. Harus satu didalam makna Musnad terhadap Muakkad, jika musnadnya berbeda demikian tidak boleh seperti contoh:
مات هشام وعاش بكر كلاهما
MAATA HISYAAMU WA ‘AASYA BAKRUN KILAAHUMAA = Hisyam meninggal dan Bakar hidup kedua-duanya.
3. Harus bersambung dengan Dhamir yg merujuk pada Isim Mu’akkad, seperti contoh di atas.
oOo
KETIGA: menggunakan lafazh AAMMATU, seperti faidah KULLU dan JAMII’U untuk taukid syumul. Ta’ Marbutoh pada akhir kalimahnya sebagai Ta’ Zaidah Lazim bukan Ta’ pembeda boleh untuk Muannats dan Mudzakkar, sebab berupa Ta’ Lil-Mubalaghah. contoh:
حضر الجيش عامته
HADHARA AL-JAISYU ‘AAMMATUHU = tentara itu telah hadir semuanya
حضر الطلاب عامتهم
HADHARAT ATH-THULLAABU ‘AAMMATUHUM = para siswa telah hadir semuanya
حضرت الفرقة عامتها
HADHARAT AL-FIRQOTU AAMMATUHAA = rombongan itu telah hadir semuanya
حضرت الفرق عامتهن
HADHARAT AL-FIROQU AAMMATUHUNNA = semua rombongan telah hadir semuanya
حضر الجيشان عامتهما
HADHARA AL-JAISYAANI ‘AAMMATUHUMAA = dua tentara telah hadir semuanya
حضرت الفرقتان عامتهما
HADHARAT AL-FIRQOTAANI AAMMATUHUMAA = dua rombongan telah hadir semuanya
أسماء لازَمَتِ النِّدَاءَ
BAB ISIM-ISIM YG LAZIM UNTUK NIDA’
وَفُلُ بَعْضَ مَا يُخَصُّ بالنَّدَا ¤ لُؤْمَانُ نَوْمَانُ كَذَا واطَّرَدَا
“Fulu” termasuk dari isim (Sima’i) yg dikhususi Nida. demikian juga “Lu’maanu” dan “Naumaanu”.
فِي سَبِّ الأنْثَى وَزْنُ يَا خَبَاثِ ¤ وَالأَمْرُ هَكَذَا مِنَ الثُّلَاثِي
Ada yg secara menerus (Qiyasi) digunakan untuk cacian pada wanita, yaitu wazan “Fa’aali” contoh “Yaa Khabaatsi” (Hei wanita jahat!). Kata perintah juga ada yg berwazan seperti ini, dari Fi’il Tsulatsi.
وَشَاعَ فِي سَبِّ الذُّكُورِ فُعَلُ ¤ وَلا تَقِسْ وَجُرَّ فِي الشِّعْرِ فُلُ
Terkenal juga penggunaannya untuk cacian pada pria yaitu wazan “Fu’alu” dan janganlah kamu mengiaskannya (Sima’i). Lafazh “Fulu” ada yg dijarkan dalam sebuah Syair (yakni pernah digunakan bukan sebagai Munada).
–••Ο••–
Termasuk dari Isim-Isim yang hanya untuk digunakan sebagai Munada atau Munada Lazim, ada tiga bagian :
1. Sima’i mufakat Nuhat, ada empat lafazh :
•    FULU = laki-laki
•    FULATU = perempuan
•    LU’MAANU = jahat/kurang ajar
•    NAUMAANU = tukang tidur
2. Qiyasi, Mufakat Nuhat :
Yaitu sifat dengan wazan FA’AALI serupa dengan makna FAA’ILATUN dan FAA’IILATUN digunakan sebagai cacian kepada wanita yg berbuat hina. Dibentuk dari Fi’il Tsulatsi Tamm Mutasharrif, contoh:
يا خباثِ
YAA KHABAATSI = hei wanita tercela!
يا غدارِ
YAA GHADAARI = her wanita penghianat!
يا سراق
YAA SARAAQI = hei wanita pencuri!
Contoh i’rob: KHABAATSI = munada mabni dhammah muqaddar, dicegah i’rob zhahirnya oleh kasrah bentuk asli dalam posisi Nashab.
Diqiaskan juga penggunaan wazan FA’AALI yg mabni kasrah tersebut sebagai kata perintah yakni Isim Fi’il Amar, contoh:
نزال
NAZAALI = turunlah!
شرابِ
SYARAABI = minumlah!
3. Khilaf Nuhat ada yg mengatakan Sima’i ada Qiyasi :
Yaitu Sifat dengan wazan FU’ALU, digunakan sebagai cacian pada laki-laki, contoh:
يا غُدَر
YAA GHUDARU! = hei laki-laki penghianat!
يافُسق
YAA FUSAQU! = hei laki-laki pencuri!
Adapun menurut qoul yg rojih bentuk wazan ini adalah Qiyasi, dengan syarat sebagai penunjukan atas celaan.
Dijelaskan juga bahwa lafazh “FULU” yg lazim untuk Nida’ tsb boleh digunakan pada selain Nida’ tapi khusus dharurah Syi’ir, contoh Syair dalam bahar Rojaz :
في لجةٍ أمسك فلاناً عن فُلِ
FIY LAJJATIN AMSIK FULAANAN ‘AN FULI = dalam situasi tegang…”pegang laki-laki ini dari laki-laki itu” (mencegah agar tidak terjadi perkelahian).
Penggunaan FULU pada syair diatas sebagai Dharurah Syi’ir demikian menurut Ibnu Malik. Menurut Ibnu Hisyam yang benar adalah bahwa FULU disini asalnya FULAANU dibuang Alif dan Nunnya karena Dharurah Syi’ir.
فصْل في تابع المنادى
FASAL MENERANGKAN TABI’ MUNADA
تَابعَ ذِيْ الضَّمِّ المُضَافَ دُونَ ألْ ¤ ألْزِمْهُ نَصْباً كَأَزَيْدُ ذَا الْحِيَلْ
Terhadap Tabi’ yg mengikuti Munada mabni dhommah (munada mufrod alam/nakirah maksudah) yang mana Tabi’ tsb mudhaf tanpa AL, hukumilah ia wajib Nashob, contoh: “A, Zaidu dzal-hiyal” (Wahai, Zaid si empunya ide..!)
وَمَا سِوَاهُ ارْفَعْ أوِ انْصَبْ وَاجْعَلَا ¤ كَمُسْتَقِلٍّ نَسَقاً وَبَدَلا
Selain Tabi’ Munada yg mudhaf tanpa Al sebagaimana diatas (yakni berupa tabi’ munada yg mufrod atau mudhaf menyandang AL) maka boleh rofa’kanlah atau nashobkanlah. Sedangkan tabi’nya yg berupa Athaf Nasaq dan Badal, hukumilah sebagaimana Munada itu sendiri (yakni, mabni dhammah jika mufrod atau Nashab jika Mudhaf).
وَإنْ يَكُنْ مَصْحُوبَ ألْ مَا نُسِقَا ¤ ففِيهِ وَجْهَانِ وَرَفْعٌ يُنْتَقَى
Jika Tabi’nya yg berupa Athaf Nasaq yg disandangi AL, maka boleh dua jalan (Rofa’ atau Nashob) sedangkan Rofa adalah jalan yg terpilih.
–••Ο••–
Fasal ini diangkat oleh Mushannif untuk menerangkan hukum Tabi’ kepada Munada, semisal Na’at dan lain-lainnya. Telah dijelaskan pada Bab sebelumnya bahwa Munada didalam tarkibnya terdapat dua keadaan hukum:  1. Mabni dan 2. Nashab
Untuk Munada Mabni, maka hukum Tab’inya ditafsil sebagai berikut:
1. Apabila Munada Mabni dan Tabi’nya berupa Isim Mudhaf tanpa AL yang berupa Na’at, Taukid atau ‘Athaf Bayan. Maka Tabi’ disini wajib Nashab dengan petimbangan mengikuti Mahal/posisi I’rab Munada. Dan tidak boleh dimabnikan dengan mempertimbangkan Lafazh Munada.
Contoh Tabi’ Munada berupa Na’at yang mudhaf tanpa AL :
يا خالدُ صاحبَ محمد
YAA KHAALIDU SHAAHIBA MUHAMMADIN = wahai Khalid teman Muhammad!
Contoh Tabi’ Munada berupa Athaf Bayan yang mudhaf tanpa AL :
يا صالحُ أبا عبد الله
YAA SHAALIHU ABAA ‘ABDILLAAHI = wahai Shaleh bapak Abdullah!
Contoh Tabi’ Munada berupa Taukid yang mudhaf tanpa AL :
يا تميمُ كلَّهُم
YAA TAMIIMU KULLAHUM = wahai seluruh bani Tamim…!
2. Apabila Munada Mabni dan Isim Tabi’nya berupa Mudhaf dg menyandang AL atau berupa mufrod (tidak mudhaf). Maka Tabi’-tabi’ tersebut boleh Rofa’ dan Nashab. Rofa’ dengan pertimbangan mengikuti Lafazh Munada, dan Nashab mengikuti Mahal/posisi I’rab Munada.
Contoh pada Tabi’ berupa Athaf Bayan:
يا رجلُ زيدٌ وزيداً
YAA ROJULU ZAIDUN / ZAIDAN = wahai seorang Zaid…!
Contoh pada Tabi’ berupa Taukid:
يا تميم أجمعون وأجمعين
YAA TAMIIMU AJMA’UUNA / AJMA’IINA = wahai bani Tamim semuanya..!
Termasuk pada hukum Tabi’ nomer 2 – boleh rofa’ dan nashab, yaitu Athaf Nasaq yg menyandang AL, contoh :
يا خالدُ والطالب
YAA KHAALIDU WAT-THAALIBU / AT-THAALIBA = wahai Khalid dan seorang Santri.
Pada contoh ini lebih baik memilih Rofa’ menurut Imam Khalil dan Imam Sibawaihi demikian untuk menyamai pada lafazh Matbu’.
Namun dalam Al-Qur’an ditemukan Nashab, contoh:
يَا جِبَالُ أَوِّبِي مَعَهُ وَالطَّيْرَ
YAA JIBAALU AWWIBII MA’AHUU WAT-THAIRO = “Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud”
Qiro’ah Sab’ah membaca Nashab sebagai athaf kepada mahal i’rab JIBAALU. Para Nuhat seperti Imam Sibawaih dan Imam Khalil mereka memahami dalam ayat ini bahwa Nashabnya lafazh AT-THAIRO athaf kepada lafazh FADHLAN sebelumnya.
3. Apabila Munada Mabni dan Isim Tabi’nya berupa Athaf Nasaq tanpa AL atau berupa Badal, maka dihukumi sebagaimana hukum Munada secara mandiri: Mabni apabila Mufrad (tidak mudhaf) dan Nashab apabila Mudhaf, contoh:
Athaf Nasaq tanpa AL :
يا خالدُ ومحمدُ
YAA KHAALIDU WA MUHAMMADU! = hai Khalid dan Muhammad.
Badal :
يا رجلُ خالدُ
YAA ROJULU KHAALIDU! = hai seorang lelaki Khalid..!.
Dua contoh Tabi’ diatas dihukumi seperti Munada Mufrad seperti hukum mengatakan :
يا محمدُ ويا خالدُ
YAA MUHAMMADU dan YAA KHAALIDU = Hai Muhammad! dan Hai Khalid!
Athaf Nasaq tanpa AL, Nashab karena Mudhaf:
يا خالد وصاحبَ الدار
YAA KHAALIDU WA SHAAHIBAD-DAARI = wahai Khalid dan Pemilik rumah..!
Contoh Badal, Nashab karena Mudhaf:
يا زيد أبا عبد الله
YAA ZAIDU ABAA ‘ABDILLAAHI = wahai Zaid bapak Abdullah..!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar